Ormas Islam Yes, Politik No ?

Mendengar keputusan dua ormas Islam terbesar di negeri ini yang menetapkan akan menjauh dari politik ini seperti keputusan “kapok cabe”. Bilangnya “kapok” tapi akan diulangi lagi, lagi dan lagi. Mengapa? karena sejarah ormas Islam di Indonesia seperti itu, katanya tidak akan ikut dalam politik praktis, kenyataannya ada saja pimpinannya yang silau oleh gemerlapnya dunia politik. Bila tokoh atau pemimpinnya ikut yang bawah pasti juga ditarik-tarik oleh banyak kepentingan politik. Kalau sudah parah, semua bilang “kapok” masuk politik.

Faktanya ormas tanpa politik akan selalu jadi objek politik. Ini jelas sekali, bila sebuah ormas tidak memutuskan kebijakan dalam politiknya, maka umatnya diberikan kebebasan untuk menentukan pandangan politiknya masing-masing. Ibarat ternak yang dilepaskan dari kandangnya saat kampanye tiba. Maka partai-partai siap menerkam setiap ternak yang bingung lari kesana kemari. Tokoh-tokohnya didekati dengan barter suara dan kepentingan politik sesaat yang akhirnya munculah pergesekan di tingkat bawah. Minimal ada tiga kali waktu ormas dan umat akan dipecah-belah dengan kepentingan politik, saat pilpres, pilgub dan pilbup atau  pilwali.

Realitas di atas tentu saja tak bisa dilepaskan oleh jargon “Islam yes, partai Islam no” Cak Nun. Bisa dibilang “Ormas Islam yes, politik no” merupakan kelanjutan dari proses menjauhkan Islam dari politik. Proses ini betul-betul sitematis dan negara juga ikut andil di dalamnya.

Pandangan ormas tanpa politik seperti ini sesuai ajaran “Urusan Kaisar serahkan saja kepada Kaisar, dan urusan Tuhan serahkan kepada Tuhan”. Jelas ini bukan ajaran Islam, tapi ajaran orang sekuler yang ada dalam agama nasrani. Apakah orang muslim ikut ajaran sekuler? Bila demikian, bukan kah muslim tersebut jadi sekuler?.

Seharusnya mengikuti ajaran Islam, karena ormas Islam. Di dalam al Qur’an terdapat ratusan hukum-hukum yang harus diterapkan oleh Negara. Untuk bisa diterapkan ormas Islam harus berupaya memperjuangkan secara politik. Tak pernah ada ceritanya, ada hukum yang bisa diterapkan di luar bingkai Negara. Maka, tak heran jika Imam Ghozali menyatakan “agama dan negara seperti saudara kembar, agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang lenyap.”

Bila ormas Islam tanpa politik, maka tidak ada upaya mereka untuk memperjuangkan hukum Allah dalam kehidupan. Ini jelas karakter sekuler telah terbentuk dalam ormas Islam tersebut yang memisahkan Islam dari kehidupan. Maka, harus ada yang berusaha meluruskannya!

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s