Buaya Ingin Jadi Cicak

Penahanan Bibit-Chandra menjadi perseteruan cicak-buaya semakin keras. Namun, bukan cicak yang kalah di ruang publik, justru buaya merasa terdesak dan ingin menjadi cicak agar mendapat simpati atau dukungan publik. Keinginan itu disampaikan Kapolri kepada para pimred media agar tidak menggunakan istilah cicak-buaya.

Melihat reaksi publik yang terasa tidak selaras dengan upaya Polri dalam menangani kasus Bibit-Chandra ini, Polri semakin kerepotan. Sebenarnya tak hanya Polri tapi Presiden sebagai penguasa tertinggi juga terkena getahnya. Dengan rekayasa pemberantasan pimpinan KPK ini, janji-janji pemberantasan SBY hanya sekedar janji kosong. Tak hanya itu, nama SBY juga ikut dicatut dalam rekaman KPK. Masyarakat kian sadar, bangsa ini memang kacau, bobrok, busuk terutama bagian atasnya.

Pertarungan ini memang tak sebanding, namun karena cicak itu citranya lebih bersih, simpati dan dukungan itu mudah mengalir. Tak hanya rekan-rekan Bibit-Chandra, tapi hampir semua lapisan masyarakat yang tahu kasus ini tertantang untuk membelanya. Mereka memilih carahnya sendiri dalam memberikan dukungan, ada yang langsung bergabung sebagai pembelanya, menyuarakan di jalanan, menggalang tanda tangan dan mencari dukungan jalan jejaring sosial seperti fecebook. Mengalirnya dukungan yang sangat besar ini, jelas bukan masalah kekuasaan, tapi permasalahan integritas, kepercayaan dan akal sehat rakyat.

Keberadaan KPK dianggap masyarakat sebagai komisi yang lebih besar hasilnya daripada lembaga lain, maka tak heran jika ada upaya atau rekayasa untuk menghancurkannya, akan berhadapan dengan rakyat. Upaya rekayasa itu diperkuat rekaman-rekaman KPK yang diputar di sidang MK, jelas ada upaya untuk menjebak bahkan membunuh pimpinan KPK. Lagi-lagi nurani rakyat dikejutkan dengan prilaku buaya yang dibenci, dan rakyat pun bersatu melawannya.

Berkembangnya istilah cicak-buaya di tengah-tengah masyarakat, menjadi tanda semakin rendahnya kepercayaan masyarakat atas institusi Polri. Kondisi inilah yang menjadikan Polri ingin menjadi cicak dan mendapatkan dukungan masyarakat. Jelas tidak mudah mendapatkan kepercayaan, karena kepercayaan itu tidak bisa diminta tetapi dibuktikan. Oleh sebab itu, Polri harus menghilangkan para oknum buaya dalam kesatuannya. Tak hanya itu sifat-sifat buaya yang masih ada pun harus dihilangkan dalam setiap anggota polisi. Bila tidak, kebencian masyarakat akan semakin memuncak.

Di era informasi ini, media perlu menjaga diri dari lingkaran kekuasaan, bila tidak akan ditinggalkan rakyat. Rakyat kian pintar dalam berinteraksi dengan media, dan kemudahan teknologi saat ini menjadikan rakyat mencari media-media alternatif yang lebih berimbang. Dalam kasus Bibit-Chandra ini, media terasa sudah menjadi bagian dari kekuatan yang ingin tetap terjaga dari prilaku ”buas” buaya. Karena itu, media kini menjadi harapan masyarakat untuk menyuarakan aspirasinya secara langsung. Ini juga sebagai tanda, bahwa rakyat sudah tidak yakin lagi menyampaikan aspirasinya melalui perwakilan anggota dewan.

Berdasarkan fakta diatas, maka upaya penyadaran masyarakat harus terus dilakukan, agar masyarakat bisa memilih mana yang seharusnya dipilih untuk kesejahteraanya. Karena politik dan hukum negeri ini banyak dirusak dengan prilaku abnormal politisi pragmatis yang mementingkan diri dan partainya sendiri. Dari akal sehat inilah, akan memudahkan kita semua untuk memberikan argumentasi yang benar dari Islam dan kebenaran itu akan mudah  diterima masyarakat secara luas.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

2 tanggapan untuk “Buaya Ingin Jadi Cicak”

  1. Betapa, kekuasaan di negeri ini hanyalah dipegang oleh segelintir orang yang tidak pernah memperhatikan masyarakat. Sehingga masyarakat apatis terhadap penegak hukum sendiri.

  2. Memang Cinta Indonesia Cinta Kpk merupakan dukungan kita terhadap kebijaksanaan KPK untuk bisa merubah dunia ini dari tikus-tikus hitam yang tak maw bertanggung jawab…

    untuk mengatasi Korupsi dalam bumi ini taka lepas dari diri kita sendiri . kita harus tanamkan sejak dini untuk bisa jujur, bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan kepada Tuhan

    Dan harus ada revolusi ….
    maupun itu dabadan hukum sendiri dan dalam pemerintahan …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s