Rating Poligami

Biasa, poligami menjadi kontroversi yang tak pernah selesai. Media selalu menempatkannya sebagai materi kontroversi yang cukup membangkitkan rating program. Maka berbagai fakta dan berita poligami bisa ditarik menjadi berita besar sampai infotaiment pun menjadi rubrik yang pas untuk membahasnya.

Ingatlah, setiap kali ada orang ’terkenal’ berpoligami, media langsung membidik sebagai berita kontroversi yang besar. Mulai poligami Puspo Wardoyo pemilik Ayam Bakar Wong Solo, Aa Gym, Syekh Puji dan kini, klub poligami Global Ikhwan menjadi  kontroversi ala media yang makin menjadi-jadi.

Alasan media menjadikan poligami sebagai kontroversi tidak lain karena ratingnya tinggi sekaligus mempopulerkan ide kesetaraan gender. Rating poligami tinggi karena menyita perhatian sebagian besar wanita yang secara perasaan tidak bisa menerima berbagi suami. Begitu juga pelaku poligami seringkali dituduh sebagai orang yang tidak mampu mengendalikan nafsunya, sebagaimana kritik terhadap Aa Gym agar beliau juga mempopulerkan manajemen nafsu selain manajemen qolbu. Padahal secara fakta, poligami justru sebagai pengendali nafsu liar. Bila dihitung secara jujur, maka pelaku poligami lebih sedikit dibanding pelaku perselingkuhan yang sudah sangat membahayakan.

Kontroversi semakin kencang karena poligami secara jelas disebutkan dalam Islam sebagai bagian syariah. Sedangkan media mendudukkan masyarakat sebagai  pihak yang menentang poligami. Padahal tidak semua orang menentang poligami, fakta itu yang tak dihiraukan media, justru masyarakat disetting seolah satu suara menentang poligami. Masyarakat ’settingan’ inilah yang dibenturkan dengan syariah poligami dalam Islam, sehingga kontroversi semakin besar. Masyarakat semakin ramai membicarakan dan ratingnya pun semakin meroket.

Mengapa media selalu memposisikan masyarakat sebagai penentang poligami? Jelas ini terkait dengan ideologi yang dianut media. Dari berbagai pemikiran serta programnya, ideologi media nasional adalah sekuler kapitalis. Media menganggap ajaran agama hanya di dalam ibadah atau rumah ibadah saja, selain itu bukanlah ajaran agama. Sedangkan ajaran diluar itu semua dianggap harus disesuaikan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan berpatokan pada kebanyakan orang. Tak heran jika ajaran Islam yang diluar ibadah dibenturkan dengan nilai kebenaran kebanyakan manusia atau untung rugi dalam pandangan manusia. Metode survey dan polling seringkali menjadi alat untuk mengukur suatu kebenaran dalam paham sekuler. Bila poligami didukung sebagian besar masyarakat, maka poligami benar dan layak dilakukan. Bila sebaliknya, poligami ditolak sebagian besar masyarakat, maka poligami buruk dan harus ditinggalkan.

Dari kasus ini, seharusnya umat Islam lagi-lagi harus menyadari akan pentingnya media sebagai bagian sarana mempengaruhi masyarakat. Media sangat berperan dalam membentuk opini di dalam masyarakat menurut ideologinya sendiri. Media sekuler kapitalis akan berusaha mengangkat ratingnya sekaligus menghancurkan pemahaman yang bertentangan dengannya, dalam hal ini termasuk Islam. Sebaliknya, media Islam akan mengutamakan penjagaan aqidah Islam dan edukasi syariah kepada masyarakat serta menghancurkan pemahaman sekuler kapitalis maupun sosialisme.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Satu tanggapan untuk “Rating Poligami”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s