Kabinet Compang-Camping

Audisi calon menteri cukup menarik media dan mengundang banyak kritik. Namun presiden merasa biasa atas kritik yang diberikan kepadanya. Jadilah para menteri itu diumumkan dan kritikan semakin tajam. Banyak yang menilai susunan kabinet ini lebi buruk dari pada yang sebelumnya.
Bila kritikan-kritikan itu dirangkum, yang pertama; KIB II tak lain adalah kabinet ”perkoncoan”. Ini tampak jelas dari sebagian besar menteri yang diangkat ada link konco/teman SBY. Baik teman partai, teman koalisi atau teman SBY pribadi. Sulit dibantah akan kebenaran ini, dan inilah faktanya. Lebih dari setengah adalah teman partai SBY, sedangkan lainnya adalah teman SBY atau yang dipesan pihak-pihak tertentu dan itupun temannya juga.
Kedua; Kabinet balas budi dan kurang profesional. Indikasi ini tampak dari beberapa menteri, terutama yang sejak awal ikut menjadi tim sukses dan pendukung SBY. SBY ingin membalas jasa atas dukungan dan loyalitasnya kepada orang-orang yang memperjuangkan dalam mempertahankan SBY untuk periode ke II. Menteri–menteri ini dipertanyakan keahliannya dalam bidang yang diamanatkan kepadanya. Menteri tersebut tidak memiliki keterkaitan dengan bidang yang digeluti selama ini. Lihat saja Menko Perokonomian Hatta Rajasa, Menkominfo Tifatul Sembiring, Menhan Purnomo Yusgiantoro, Menpora Andi A. Malarangeng, Mendagri Gamawan Fauzi dan lain sebagainnya, jelas kurang pengetahuan dan pengalaman dibidangnya.
Ketiga; Ada menteri pesanan asing. Pro-kontra Menkes menjadi tanda tanya besar dan fakta-fakta keterkaitan itu jelas. Nila yang diaudisi tapi dinyatakan gagal secara kesehatan. Padahal tak hanya Nila yang gagal secara medis, mengapa hanya Nila yang diganti? Isu yang santer adalah ada pesanan asing dalam penunjukan Endang. Mantan Menkes Fadilah Supari terkejut saat mengetahui penggantinya adalah Endang. Mengingat, Endang pernah dimutasi karena membawa virus ke luar negeri tanpa izin.
Fakta pesanan asing, haruslah membuka mata kita semua, karena ini menandakan kedaulatan bangsa terjajah. Dalam negara berkembang yang tidak memiliki ideologi jelas, sebagian besar peristiwa politik ditentukan oleh asing. Mulai undang-undang, presiden ataupun menteri, asing bisa secara leluasa melakukan bongkar pasang. Dalam pasang surut kepemimpinan di Indonesia sejak pertama sampai SBY tampak jelas keterlibatan asing.
Keempat; Menteri neolib. Ini terutama pada perekonomian yang masih dipertahankan, seperti Sri Mulyani dan diperkuat keberadaan Boediono sebagai Wapres. Neolib diprediksi akan semakin bebas mencengkeram Indonesia.
Disisi lain, ada beberapa menteri yang populis, namun tidak masuk ke kabinet baru. Menteri Pertanian, hasil usahanya menjadi materi kampanye SBY, Indonesia sebagai swasembada beras kembali, justru digantikan politisi PKS tulen. Menteri Kesehatan, yang sukses dengan jaminan kesehatan masyarakat dan berani memutus hubungan kerjasama dengan Namru justru diganti dengan orang yang dekat Namru.
Sebenarnya tak sedikit tokoh yang mumpuni dan sangat layak ditempatkan sebagai menteri, tapi atas dasar perkoncoan, balas budi, pesanan asing dan neolib, kabinet baru justru compang-camping. Tak heran, beberapa pihak berani memprediksi kondisi bangsa ini semakin buruk.
Akal sehat rakyat dirusak dengan realitas seperti ini. Politik yang tidak mencerdaskan apalagi mensejahterakan. Pasti ada orang-orang, generasi-generasi muda yang masih sehat akalnya akan menuntut perubahan.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s