Demo di Pelantikan Presiden

Pelantikan SBY-Boediono sebagai Presiden-Wakil Presiden Periode 2009-2014 ternyata tak semulus yang dibayangkan. Ada banyak protes yang dilakukan elemen masyarakat saat pelantikan berlangsung.
Bila mengamati beberapa media, ada perbedaan pemberitaan pelantikan dan banyaknya demo masyarakat. Ada yang menyampaikan mulus-mulus saja dan ada yang meliput secara khusus demo terkait penolakannya terhadap SBY-Boediono. Ini jelas terkait keperpihakan media dalam peliputan. Sebagimana disadari bahwa media membawa berita sendiri sesuai dengan politik keredaksian yang dianut.
Dari liputan media yang meliput demontrasi mahasiswa dari daerah sampai pusat. Kamera wartawan merekam bagaimana tindakan aparat yang berlebihan dalam menyikapi para pengeritik jalanan ini. Tampak jelas sikap kasar, menghajar, merampas bahkan menghadang kendaraan-kendaraan yang baru mau berangkat ke tempat aksi demo. Penjagaan aparat kepolisian saat itu sangat ketat di beberapa titik yang prediksi dijadikan aksi demo. Sebuah tindakan yang sangat berlebihan dari aparat yang ingin mengamankan pelantikan rezim baru.
Esensi apa yang disuarakan? terutama yang disuarakan para mahasiswa. Ternyata mahasiswa tidak buta akan keterkaitan SBY-Boediono terhadap Neoliberalisme. Walaupun SBY-Boediono telah menyatakan pro rakyat, atau ekonomi jalan tengah dan akan mengutamakan kesejahteraan rakyat, mahasiswa tetap tak percaya. Karena mahasiswa melihat indikasi-indikasi yang justru berkebalikan dengan apa yang dijanjikan dan SBY tidak bisa memenuhi apa yang dituntut akal sehat mahasiswa. Mahasiswa anti utang yang syarat kepentingan, anti perdagangan bebas yang menghancurkan, anti intervensi asing dan menuntut nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing yang telah mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia.
Belum lagi pilihan calon menteri yang akan dipilih semakin mengokohkan asumsi cengkraman neoliberalisme di Indonesia. Calon menteri-menteri bidang perekonomian sangat kental dengan neolib, apalagi diperkuat dengan Wakil Presiden Boediono yang dikenal ekonom neolib.
Mengingat fakta yang sangat merisaukan, hilangnya oposisi akibat tawaran jabatan dan posisi materi para neolib. Masuknya Golkar ke dalam kabinet, menandakan bahwa semakin berkurangnya kekuatan penyeimbang bagi pemerintahan ke depan. Selain menunjukkan karakter asli para politisi golkar yang tak bisa menjadi oposisi. PDI-P terombang-ambing akibat ketidakbulatan para pimpinannya dalam mensikapi tawaran-tawaran jabatan yang dijanjikan pemenang pilpres. Sehingga hanya ada dua partai secara tegas sebagai oposisi, sedangkan PDI-P dipertanyakan idealisme.
Kini, agen-agen neolib sudah masuk dalam prefesional, pejabat, akademisi, dan media. Tak heran, jika berbagai tokoh yang mencuat kini didominasi oleh tokoh neolib, dan tokoh yang berseberangan ditengelamkan dengan berbagai cara. Tokoh yang berseberangan, ada yang diblacklist media, ada juga yang diincar untuk dimasukkan penjara. Dalam perang opini pun, kini agenda neolib selalu jadi favorit media, sekaligus juga cukup efektif menutup aspirasi yang berbeda.
Kepentingan kita disini, tentu saja penolakan terhadap neolib perlu dipertahankan. Karena neolib inilah yang menjadikan bangsa ini selalu bertekuk lutut di bawah kaki para penjajah asing.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s