Pemberitaan Sebelah Mata

Ini bukan yang pertama bagi media di Indonesia membuat pemberitaan lebih berat satu sisi. Lagi-lagi masalah kebebasan berekspresi dari para penulis dan cineas, kali ini ingin menghadirkan Miyabi sebagai pemeran utama dalam film. Pro-kontra terjadi karena Miyabi dikenal sebagai aktris porno Jepang dan mempunyai fans besar di Indonesia.

Pemberitaan sebelah mata ala media nasional ini tentu saja bukan sebuah kebetulan, tapi didasari keberpihakan media terhadap ‘hak’ kebebasan berekspresi. Kebebasan berekspresi ini menjadi andalan media saat ini untuk menaikkan rating. Media telah dipenuhi program hiburan “sampah” yang justru merusak tatanan nilai dan berbahaya bagi generasi muda.

Bila terjadi penolakan dari umat Islam atas tayangkan mereka, seringkali media menampilkan pendapat masyarakat awam yang membenarkan mereka. Lihatlah dalam kasus Miyabi ini, bagaimana media memberikan porsi yang sangat banyak kepada artis, masyarakat umum yang setuju dan pihak-pihak yang menentang aspirasi umat Islam baik dari MUI maupun ormas-ormas Islam lainnya. Seolah-olah artis atau orang awam tersebut lebih mengerti tentang kehidupan daripada para ulama dan tokoh-tokoh umat Islam. Sungguh ironis, apa yang disuarakan umat Islam untuk mencegah rusaknya moral bangsa justru dipandang sebagai bagian dari masyarakat yang tidak bisa menghargai orang lain.

Atas sikap media diatas, memberikan dua tanda pada kita semua. Pertama, media di negeri ini menganut ideologi kapitalis yang melihat semua dari aspek materi dan lebih mengutamakan kebebasan daripada menjaga moral bangsa. Kedua media telah mendudukkan umat Islam sebagai bagian yang tidak menghargai kebebasan berpendapat dan berekspresi. Bahkan dikesankan umat Islam kolot dan menolak kemajuan zaman. Dari sini tampak ada upaya mengonstruksi Islam agar tidak mencampuri urusan keduniaan, karena agama Islam dipandang sama dengan agama lain yang tidak memiliki ajaran dalam masalah tersebut.

Sikap yang perlu dilakukan juga ada dua, yaitu mempengaruhi media yang ada, sekaligus menyatukan potensi umat agar mampu menandingi media besar tersebut.

Untuk mempengaruhi media, upaya yang dapat dilakukan; pertama berkaitan dengan kebebasan pers, maka setiap kita bisa mengirim surat pembaca, menyampaikan opini atau mengirimkan tanggapan. Kedua berkaitan dengan hak pengawasan, kita pun bisa mengoreksi bahkan melaporkan atas pelanggaran hukum dalam teknis maupun materi pemberitaan media. Untuk bisa mempengaruhi media secara aktif, maka umat Islam harus melek media. Kemampuan berinteraksi secara sadar sekaligus aktif terhadap media inilah yang sesungguhnya sangat dibutuhkan umat Islam. Terutama saat umat Islam hidup dalam dominasi media kapitalis liberal seperti saat ini.

Sedangkan upaya untuk membangun media Islam besar, menjadi PR besar umat Islam untuk serius mewujudkannya. Mengingat media Islam saat ini masih beredar di pinggiran, belum bisa bersaing secara sejajar dengan media kapitalis. Kesadaran dan peran semua pihak lah yang akan mengantarkan terwujudnya media Islam besar dan mampu bersaing dengan media lain. Maka dari itu, mari sadarkan saudara-saudara kita dan mari bersama mengambil peran yang kita mampu untuk mewujudkannya.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s