KPK di Ujung Tanduk

Mimpi Indonesia bebas dari korupsi terasa semakin sulit diwujudkan. Alih-alih tidak percaya pada lembaga-lembaga yang sudah ada, KPK lahir sebagai lembaga spesialis menangani korupsi dalam semua level. Hasilnya cukup baik, tapi terasa jelas tebang pilihnya.
Kini, lembaga kecil itu seperti telur diujung tanduk. Kepalanya tertembak, kaki tangannya tak lengkap. Dalam posisi itu pun harus berhadapan dengan buaya yang tak tahu malu dalam berbuat kekacauan.
Perseteruan KPK bukanlah baru-baru ini saja, tapi sudah lama terjadi dengan berbagai lembaga yang ada di negeri ini, karena kewenangannya yang lebih leluasa dan katanya ”independen”. Dalam berbagai peristiwa sebelumnya, KPK pernah berseteru dengan Kejaksaan Agung, DPR, Polri, dan lembaga-lembaga pemperintah yang lainnya.
Melihat fakta sekarang, yang sama-sama menjadikan pimpinan KPK dan Polri sebagai tersangka, seolah menunjukkan perdebatan lama yang mempertanyakan kebersihan dari ’alat pembersih’. Bila sapunya kotor, apakah bisa membersihkan lantai? Tentu saja tidak, karena alat pembersih kotor tersebut justru mengotori. Dari sini, pembersihan internal jauh lebih penting daripada membersikan lembaga eksternal. Mengingat lembaga tersebut adalah pembersih dalam sebuah sistem yang sangat kotor.
Bila sebelumnya, KPK dianggap sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam memberantas korupsi, namun ternyata sifat independentnya tidak dapat dibuktikan sebagaimana klaimnya. Tetap saja ada intervensi yang tak terlihat, tak terkecuali munculnya konspirasi untuk menghancurkan lembaga kecil tersebut dengan berbagai cara.
KPK, untung ada berbagai pihak yang tetap mendukung perjuangnnya dalam memberantas korupsi di negeri ini. Tapi apa jadinya, bila ternyata harus berakhir dalam sebuah intervensi yang sangat naif dari rezim neolib. Keberadaan KPK tetap dijamin, namun semakin jinak terhadap penguasa.
Inilah bentuk nyata untuk menyelamatkan group koruptor neolib dalam negeri ini. Namanya neolib, akan menghalalkan segala cara untuk meraih kenikmatan dunia. Mereka butuh perangkat yang akan bisa membebaskan diri dari jerat hukum. Untuk itu, mereka selalu ikut andil dalam berbagai proses politik yang menjadikan penguasa akan tunduk kepadanya. Serta selalu hadir dalam berbagai proses legislasi, agar bisa menentukan hukumnya. Mereka biasanya menyusun draff RUU sekaligus membayar biaya pembahasan dan pengesahannya pada wakil-wakil rakyat yang keblinger. Bila ternyata keblabasan, mereka pun mudah membeli hukum dari para pembersih yang sesungguhnya kotor itu.
Jadi, memang mimpi hidup dalam rezim neolib. Ingin bersih, tapi pembersihnya hanya di setting untuk orang kecil dan musuh-musuh politiknya saja.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s