Asal Ideologi Teroris

Penyergapan Densus 88 pada sebuah rumah di Solo memang tak se-dramatis di Temanggung, tapi hasilnya dibilang fantastis, Noordin M. Top tewas. Wajah pimpinan Polri sampai Presiden penuh semangat menyatakan Noordin tamat. Berbagai pihak memberikan kata selamat atas prestasi yang dicapai dalam menumpas teroris.
Mengapa terorisme menyita begitu banyak perhatian masyarakat?. Tentu saja kondisi ini disebabkan ketakutan yang ditanamkan pada teroris sungguh berlebihan. Kondisi ini sepertinya tetap dijaga agar banyak kepentingan yang bisa diraih. Rakyat merasa butuh akan kerja polisi, legalitas keberadaan Densus 88 yang dibiayai AS, pengalihan opini, legalitas memburu lawan politik dan mencegah kebangkitan Islam.
Kini setelah tewasnya Noordin, wacana ideologi teroris kian santer. Berbagai pernyataan dan analisa kelanjutan teroris ke depan mengaitkan dengan ideologi yang dianut para teroris saat ini. Presiden dan Wapres perlu menyampaikan bahwa yang lebih bahaya dalah ideologi teroris. Jadi, ke depan diprediksi bisa muncul teroris yang lebih hebat dari Noordin M. Top?. Mediapun perlu menampilkan pengamat teroris untuk memberikan penekanan pada masyarakat bahwa Syaifudin Zuhri dan yang lolos adalah sel sempurna yang bisa melakukan semua pekerjaan Noordin.
Pertanyaan selanjutnya, darimana sesungguhnya ideologi terorisme yang mudah dituduhkan kepada siapa saja?. Pertanyaan ini penting dijawab mengingat karena semua pihak menolak dikaitkannya, dan akhirnya terjadi sikap saling curiga diantara elemen masyarakat. Apalagi selalu pelaku terorisme diidentikan dengan Islam dan simbol-simbul keislaman.
Perlu dicermati, aksi-aksi teror ini tidak dapat dipisahkan dari dukungan Amerika untuk mengusir Uni Soviet dari negeri-negeri jajahan barat di Timur Tengah. Para pejuang Islam dilatih dan dipersenjatai, namun setelah berhasil justru dipermainkan sesukanya. Agar selalu ada musuh bersama dalam negara-negara Barat setelah keruntuhan Uni Soviet. Untuk meyakinkan dunia, Amerika harus mengorbankan gedung kebanggaanya WTC pada 11 September 2001, dan perang terhadap teroisme di seluruh dunia di mulai lagi. Negara-negara yang dicap pendukung terorispun dilenserkan dengan kekuatan militer Amerika, walaupun banyak protes dari berbagai warga seluruh dunia atas kebrutalan Amerika. Upaya ini sekaligus untuk menghambat laju kebangkitan Islam sebagai satu-satunya kekuatan yang mengancam peradaban sekuler, sebagaimana prediksi mereka sendiri.
Bila, dilihat dari dasar keyakinan Islam, tidak ada dasar yang menjadikan terorisme itu tumbuh. Islam menghendaki totalitas dalam beribadah kepada Allah tanpa merasa berat sedikitpun. Islam tak lupa menempatkan hukum antar sesama manusia sangat adil walaun terhadap musuh. Karakter Islam sangat jelas sebagai rahmat bagi seluruh alam bukan perusak atas seluruh alam. Sejarah Islam telah membuktikan dalam berbagai masa dan kondisi, pasukan Islam tidak pernah melakukan penghancuran yang brutal seperti teroris. Adab-adab berperang sangat jelas dan gamblang dan tak butuh alasan lain untuk membenarkan brutalisme ala teroris.
Justru, prilaku itu tampak jelas dalam berbagai tingkah laku orang-orang kafir. Bagaimana ketika mereka berperang, kerusakan yang sangat fatal bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Sejarah keganasan itu memenuhi lembaran waktu yang tak dapat dihapus dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi saat ini. Keganasan dan kebrutalan menjadi dasar pengembangan teknologi perang yang sangat naif bila itu dilakukan makhluk yang katanya memiliki sisi kemanusiaan. Pembantai massal selalu terjadi dengan berbagai alasan yang dalam kacamata teorinya sangat tidak manusiawi. Ini timbul karena dalam keyakinan sekuler tidak ada yang perlu dipatuhi dalam dunia ini, mereka bebas melakukan apa saja asal mendapatkan keinginannya. Dasar sekuler inilah timbulnya paham liberalisme yang mendominasi peradaban barat secara keseluruhan. Prilaku brutalisme tumbuh subur dalam peradaban barat dan berbagai prilaku yang menyimpang layaknya kehidupan hewan.
Terorisme tumbuh subur dalam rana liberalisme ini. Hanya saja, ketika kekuasaan itu ada padanya, maka musuh politik atau kekuatan yang mengancamnya dicap sebagai teroris. Sangat tepat Noam Chomsky mengawali bahasan bukunya Pirates and Emperors: Internasional Terrorism in the Real World, dialog antara Pembajak dan Alexander Agung. Pembajak mempertanyakan sebutan pembajak baginya; “Karena aku melakukan hanya dengan sebuah perahu kecil, aku disebut maling; kalian, karena melakukan dengan kapal besar, disebut kaisar”. Jadi siapa yang membawa palu (kekuasaan), maka semua yang tampak olehnya seperti paku yang siap dipukul habis. Bila sekarang Amerika yang memegang kendali perang, maka pantaslah Amerika juga yang menjadi teroris besar sesungguhnya. Dia (Amerika) teroris teriak teroris.
Jelaslah kini, asal ideologi teroris berasal dari liberalisme barat terutama Amerika bukan dari Islam. Islam hanya pihak tertuduh yang dipermainkan barat untuk mendapatkan kesenangan duniawi dan menghalangi Islam dari kebangkitannya.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

2 tanggapan untuk “Asal Ideologi Teroris”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s