Sekulerisasi di Bulan Ramadhan

Semangat religius menyelimuti setiap muslim dalam bulan ramadhan. Berbagai kegiatan untuk menyambut dan mengisinya begitu semarak. Tak ketinggalan berbagai pernak-pernik ramadhan juga tampak jelas mendominasi kehidupan. Tapi sadarkah kita, gerakan sekulerisme terlihat jelas dalam bayang-bayang religiusitas ramadhan?.
Pandangan ini terkesan ironis, bagaimana mungkin proses sekulerisasi dapat berjalan dalam suasana keimanan dan semangat beribadah umat Islam pada posisi tinggi?. Sebagian besar sedang puasa, dimana-mana diadakan aktivitas dakwah dan berbagai media serta aktivitas bisnis jasa dan perdagangan memberikan suasana ramadhan. Dimana dan kapan proses sekulerisasi berjalan?.
Agar bisa melihat jelas, marilah kita memahami betul karakter kapitalis sejati. Bagi kapitalisme, moment apapun harus bisa memberikan kontribusi atas akumulasi modal. Mereka melihat geliat ramadhan yang sangat besar, maka mereka membuat program khusus untuk geliat umat Islam sekaligus membungkusnya dalam suasana sekuler. Dalam suasana sekuler inilah, kapitalis lahir dan tumbuh menguasai kehidupan. Kapitalisme tidak akan membiarkan moment paling menakutkan mereka berbalik memberikan kesempatan membunuhnya. Maka, ramadhan tidak boleh dibiarkan secara alami membangkitkan umat mencapai derajat taqwa. Umat Islam dihalangi menjadi umat yang menjalankan seluruh perintah dan menjauhi semua larangan Allah SWT dalam seluruh sisi kehidupan. Lihatlah, setiap kali ramadhan gegap-gempita mereka memompa nafsu hedonis umat dengan berbagai akal bulusnya yang terkesan Islami.
Dakwah yang disponsori media atau perusahaan dalam kendali mereka. Jadi dakwah hanya masalah ritual dan akhlak saja, sedangkan yang lain tidak dibahas. Mereka faham betul hanya dalam ramadhan inilah kesempatan besar untuk menanamkan paham moderat bahkan liberal dalam umat, karena saat ramadhan inilah umat Islam sebagian besar berbondong-bondong mempelajari Islam. Ada berbagai materi yang kita rasakan jelas dibelokkan dari pemahaman Islam, diantara yang paling kuat saat ini adalah jihad. Jihad hanya dipandang upaya secara sungguh-sungguh untuk semua aktivitas manusia dalam mencapai kehidupan yang lebih baik. Para ustadz ataupun Kyai tidak mendudukkan jihad secara proposional sebagai mestinya. Ini dapat difahami, seiring dengan upaya kepolisian yang mengawasi dakwah diberbagai tempat dan media. Termasuk situs ataupun blog yang membahas jihad, diselidiki dan dicari pemiliknya.
Materi-materi keterikatan dengan syariah pun sangat langka disampaikan. Anehnya ada iklan religi saat berbuka yang justru menyatakan ; “mengabaikan hukum manusia, berarti juga mengabaikan hukum Allah”. Pemahaman ini jelas terbalik secara umum, yang menghendaki siapapun makhluk Allah harus tunduk dan patuh tanpa berat hati. Sebagaimana Firman Allah ;
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (TQS. An Nisa’ 65).
Bila demikian, harus ada upaya yang lebih serius untuk meluruskan berbagai aktivitas dakwah yang hanya ritual dan akhlak saja, menuju keterikatan terhadap hukum Allah. Sebagaimana hikmah yang dikehendaki Allah bagi orang-orang beriman yang menjalankan puasa di bulan ramadhan ini bisa mencapai derajat taqwa. Bukan taqwa secara spiritual saja, tetapi dalam semua aspek kehidupan.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s