Rezim Neolib

Pengumuman hasil pilpres menegaskan dominasi neolib di negeri yang kaya raya alamnya, namun miskin rakyatnya. Dinamika demokrasi diagungkan banyak pihak ternyata dimenangkan para pialang neolib, dengan menyisakan kecurangan yang sistematis. Bukti-bukti juga menyebutkan beberapa negara ikut campur mensukseskan agenda neolib di negeri ini. Ini menunjukkan adanya agenda asing agar Indonesia tetap menjadi surga bagi para juragan neolib asing.
Kondisi ini terjadi, karena rakyat masih terbodohkan oleh neolib dalam berbagai bidang. Jelas, bertentangan dengan esensi kemerdekaan yang setiap tahun diperingati dan dirayakan. Penjajahan masih ada dalam ideologi, pemikiran, hukum, ekonomi, politik hingga budaya.
Rakyat bangsa ini menjadi lebih induvidualis dan tidak mau tahu akan permasalahan orang lain apalagi masalah negara. Padahal, banyak sekali masalah yang telah terjadi dalam negara ini, baik pokok maupun cabang yang mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan. Ternyata, rakyat tidak merasakan kesulitan itu, mungkin rakyat terlalu lama menderita dan menganggap biasa kondisi ini, bahkan bisa juga merasa tak mampu memikirkan penyelesaiannya.
Derita yang tak pernah bisa lepas ini, diperparah dengan kerakusan para kapitalis mendesak negara tak turut campur dalam kehidupan ekonomi. Negara dijebak dengan berbagai asumsi-asumsi fatamorgana yang tak akan mampu menyejahterakan rakyatnya. Ujung-ujungnya sudah masuk piring kapitalisme dan neoliberalisme sejak awal merdeka. Sejak itu, bangsa ini mulai dimakan oleh asing dan tetap terus dipertahankan selama masih ada yang diambil untungnya.
Indikasi berkuasanya rezim neolib antara lain; kebijakan-kebijakannya terutama ekonomi mengikuti agenda-agenda asing dan mengutamakan kepentingan neokapitalis global. Berbagai kebijakan dalam negeri akan disesuaikan dengan agenda dunia neolib yang mengarah pada penyelesaian masalah dengan hutang, mendukung pasar bebas dan pengurangan subsidi atas semua kebutuhan pokok rakyat.
Untuk mensukseskan target-target tersebut, neolib merebut jabatan-jabatan kekuasaan terutama perekonomian. Bibit kapitalisme dan neolib sudah bercokol sejak rezim orde baru dan terus melebarkan kekuasaanya. Saat inilah yang paling nyata, karena hampir semua kekuasaan telah dikuasai neolib. Sedangkan lawan politiknya terjebak pada tawaran jabatan simbolis, minus kekuasaan. Lemahnya oposisi ini, jelas menunjukkan mereka semua tidak lagi idealis apalagi ideologis. Sedangkan partai-partai yang sejak awal berkoalisi merebutkan posisi jepitan ketiak neolib yang aman.
Rezim neolib, akan terus menguras dan mengambil untung sebesar-besarnya atas kekayaan alam. Pola kelolanya pun seperti produsen yang ingin mengambil untung besar atas produk alam dari rakyatnya sendiri. Kontrak-kontrak proyek asing kian dikukuhkan dan diperpanjang masanya. Ini bukan saja menunjukkan lemahnya posisi tawar atas negara-negara besar, tetapi internal pemerintahan sudah dikuasai oleh asing.
Tak ketinggalan penjualan aset-aset strategis negara dan privatisasi BUMN. Akibat tuntutan hutang dan transparansi pengelolaan BUMN, sehingga BUMN mencari untung saja. Akibatnya harga BBM, gas, air dan kebutuhan pokok rakyat dinaikkan sekaligus subsidi dikurangi sampai nol. Sebuah ironi negeri kaya yang pemerintahnya menindas rakyatnya atas saran asing.
Rezim neolib, kini mengandalkan pencitraan untuk menghipnotis rakyat atas tipudayanya. Media-media pro neolib kian terang-terangan membawa agenda asing, dan tak tabu lagi membahas hal-hal yang seolah pro rakyat, padahal faktanya di mulut saja. Bahkan bila ada kasus besar siap dialihkan dengan isu terorisme dan pornografi atau pornoaksi. Berpihaknya media pada budaya asing menjadi tugas tersendiri, karena dengan penyebaran budaya liberal sekaligus hedonis ini akhirnya produk dan jasa neolib bisa masuk seiring masuknya budaya liberal tersebut.
Tapi yakinlah, neolib kian hari kian memasuki masa kritis. Siapa saja tidak akan dapat menolongnya. Kini dunia memasuki masa transisi ditingkat global, sebagaimana berbagai prediksi, kapitalisme dan neolibnya masuk tren menurun, dan sebaliknya dua kekuatan neososialis dan Islam ideologis menapaki tangga kekuasaan. Tahun 2020 merupakan masa kritis bagi semua ideologi, karena tidak ada dominasi antar ideologi. Kemenangan akan ditentukan yang paling siap secara konseptual dan kekokohan pejuangnya. Faktanya, tidak ada ideologi dan sistemnya yang paling sempurna selain Islam. Inilah kunci kemenangan yang akan diraih Islam dan mampu membelokkan para pejuang ideologi lain masuk dalam barisan Islam Ideologis.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s