Pergolakan Merebut Indonesia

Keberadaan Indonesia tak bisa lepas dari berbagai konstelasi global. Bahkan bisa dikatakan, sejarah Indonesia merupakan perpanjangan tangan dari pertarungan kepentingan yang bermain di dunia Internasional (Hasyim Wahid, 1999, Telikungan Kapitalisme Global). Sejak masuknya agama-agama dunia dan era kononialisme Eropa, Indonesia pun pernah takluk selama 350 tahun dalam wilayah jajahan Belanda.
Kebangkitan Jepang, Belanda lari dan akhirnya Indonesia jatuh dalam jajahan Jepang. Saat Jepang kalah dalam perang dunia II dan menyerah kepada Sekutu, Indonesia bersama negara-negara dunia ketiga menggeliat memasuki era kemerdekaan sebagai negara bangsa.

Pembentukan Negara-Bangsa
Era lahirnya negara bangsa yang dilatarbelakangi nasioanalisme, dan ambisi politik luar negeri Amerika sebagai pemenang perang dunia II untuk mendapatkan bekas daerah jajahan negara-negara Eropa. Hampir semua negara jajahan merdeka pada era 40-an, namun masuk jebakan Amerika dalam penjajahan politik dan ekonomi (Hasyim Wahid, 1999, Telikungan Kapitalisme Global).
Pergolakan intern sesama elemen bangsa terjadi, ada yang Sosialis, Kapitalis dan Islam duduk bersama membicarakan bagaimana sebaiknya bentuk dan dasar negara?. Munculnya Piagam Jakarta sebagai bentuk kompromi antar kekuatan, namun digagalkan sepihak oleh kekuatan Sekuler. Akibatnya muncullah perlawanan dari kelompok Islam, ada yang dicap sebagai pemberontak yang harus ditumpas. Klaim NII lebih dulu berdiri dianggap angin lalu, tidak ada kompromi berdiri negara di atas negara. Akhirnya Indonesia sebagai negara bangsa sekuler, walaupun mayoritas rakyatnya beragama Islam.
Perang dingin antara pemenang PD II, Amerika dan Uni Soviet berimbas bergejolak kondisi politik dalam negeri menjadi dua kutub, Sosialis dan Kapitalis, sedangkan kelompok Islam terpecah. Islam kian hari semakin redup akibat sikap represif orde lama Sosialis dan berlanjut semakin redup selaras dominasi Kapitalis dalam pemerintahan orde baru. Kekuatan Islam menguat kembali dengan mengambil semangat kebangkitan Islam dari dunia Islam. Masuknya gerakan-gerakan Islam dari Timur Tengah memompah semangat bahkan jalan baru perjuangan umat Islam Indonesia.
Bergantinya kepemimpinan Indonesia dari orde lama ke orde baru, tak bisa dilepaskan dari campur tangan Amerika. Bukti-bukti itu sudah jelas karena Soekarno tidak tunduk pada kehendak Amerika, justru membuat gerakan anti Amerika. Soeharto menjadi calon yang tepat untuk menggantikannya karena komitmennya menjadi pelayan Amerika di Indonesia. Berbagai kesepakatan proyek “menjual Indonesia” dan pinjaman dari Amerika membanjiri Indonesia atas nama era pembangunan, dan Soeharto disebut Bapak Pembangunan (John Perkins, 2005, Pengakuan Seorang Ekonom Perusak).
Amerika menyebut Indonesia sebagai tonggak dominasi Amerika atas wilayah Asia-Pasifik dan mutiara di tahta asia tenggara (Simon Philpott, 2000, Meruntuhkan Indonesia). Paradigma yang dipakai adalah menaklukan layaknya bangsa timur oleh bangsa barat. Gerakan Amerika menancapkan hegemoninya sangat tegas dari dominasi pendifinisian, mempresentasikan serta konsep pembangunannya. Layaknya gerakan orientalis, berbagai proyek penelitian politik, sosial dan ekonomi, serta beasiswa dari Amerika sangat besar mewarnai era orde baru.
Dengan kedok ilmiah, Amerika mencetak generasi muda Islam dengan sebutan intelektual muslim moderat. Lebih baik penerimaannya terhadap Amerika dan ide-idenya bahkan membuat argumentasi menguatkan arus modern dan meniru Amerika. Generasi ini lebih tepatnya disebut intelektual asal nderek juragan karena mereka mendapat kemudahan-kemudahan Amerika dari loyalitas mereka terhadap ide dan proyek Amerika (Umaruddin Masdar, 2003, Agama Kolonial, Colonial Mindset dalam pemikiran Islam Liberal).
Pergolakan antara Islam pada umumnya dan Islam yang disekulerisasi dari Amerika menjadi pengalaman tersendiri bagi bangsa Indonesia. Perdebatan antara tekstual dan konstektual, subtansi dan formalisasi syariah menjadi ramai. Bahkan berbagai masalah diperbincangkan; mulai jilbab, dan simbol-simbol Islam dalam kehidupan dipermasalahkan.
Berbagai manufer untuk menjatuhkan umat Islam dipakai, tak terkecuali upaya infiltrasi intelejen pada organisasi Islam dan melakukan provokasi kekerasan. Beberapa tragedi penangkapan aktivis Islam dan pembantaian pun terjadi. Selain itu intelejen merekayasa organisasi tanpa bentuk yang sangat meresahkan dan dijadikan kambing hitam dalam berbagai teror dan kerusuhan.
Pergantian orde baru ke orde reformasi memakan korban yang cukup besar, namun hasilnya semakin tidak menentu. Kehidupan rakyat dihantui dengan berbagai kerusuhan yang hampir merata di wilayah Indonesia. Timor-Timor pun terpisah dari NKRI akibat ketidakberdayaan bangsa ini dari tekanan dunia Internasional. Amanemen UUD, pergantian presiden dan kabinetnya tidak menghantarkan pada kehidupan yang semestinya, justru nasib rakyat selalu jadi komoditi politik yang paling laris. Atas nama rakyat mereka berjuang dan partai-partai bermunculan, sayangnya bukan nasib rakyat yang berubah, tetapi hanya segelintir orang yang memanfaatkan aji mumpung jadi pejabat. Prilakunya pun tetap sama korupsi, kolusi dan nepotisme di mana-mana.
Momentum perlawanan agama terhadap sekuler dan atheis di dunia, dimanfaatkan umat Islam untuk membangkitkan nilai-nilai spiritual dalam masyarakat. Jilbab dan simbol-simbol agama mendapat kesempatan untuk tampil dalam wilayah publik. Istilah syariah kian kencang, walaupun hanya sekedar istilah tanpa gambaran lengkapnya.
Teror Bush menjadikan derita baru rakyat Indonesia, untuk menegaskan Indonesia sarang teroris dibuat konspirasi bom-bom made in Islam Indonesia. Memanasnya isu ekstrimis dan radikal membuat cap negatif beberapa organisasi Islam. Tentu saja masyarakat kurang simpati, bahkan antipati pada gerakan dakwah Islam. Wacana syariah semakin kencang dan sebaliknya anti syariah juga tak kalah, karena didukung oleh kekuatan asing yang merasa terancam bila Indonesia menerapkan syariah.
Perebutan kekuasaan terus berlanjut, walaupun yang terlihat dalam perebutan pimpinan tertinggi hanya berhaluan Nasionalis-Kapitalis dan Nasionalis-Sosialis, sesungguhnya gerakan Islam terus menyusun kekuatan. Juga tidak dipungkiri imbas hegemoni demokrasi menjadikan umat Islam terpecah jadi dua yaitu yang menyatu dengan demokrasi dan yang menjadikan demokrasi hanya sebagai peluang perjuangan.
Arus anti Neolib mengingatkan Indonesia agar tidak masuk pada jurang yang lebih dalam karena mengikuti ideologi usang Kapitalisme global. Apapun bentuknya dan alirannya, Indonesia tidak akan mencapai kehidupan lebih baik. Sama dengan kondisi dunia saat ini yang sesungguhnya mengindap penyakit ganas yang setiap saat bisa terjadi serangan jantung ‘krisis’ dan bencana lebih dasyat. Tidakkah bangsa ini mengambil pelajaran bencana dan tragedi yang terjadi terus bergantian, bahkan tercatat sebagai bencana terbesar dunia yaitu tsunami dan lumpur lapindo.

Indonesia kini
Kini semua bergeliat, tidak ada yang paling mendominasi antara Islam, Sosialis dan Kapitalis. Arus Islam makin tegas, sedangkan kekuatan Kapitalis menunjukkan tren penurunan. Ternyata geliat Islam direspon musuhnya dengan mengerahkan semua kemampuan, termasuk membuat aliran baru Islam liberal. Tak hanya disini, antara kelompok dan organisasi Islam dibenturkan hingga tidak mampu keluar untuk menawarkan sebagai pembanding dengan ideologi yang lain. Strategi belah bambu penjajah ini masih dipandang efektif untuk menaklukkan Islam Indonesia, karena ashobiyah kelompok atau jamaah masih terasa kuat. Namun yang paling disayangkan ada kelompok Islam lebih mudah dan terbuka bila dengan kelompok ideologi lain daripada ke sesama muslim. Ini sebagai bukti, selama ini Islam difahami minus ideologinya. Padahal gerakan awal Rosulullah sangat jelas warna ideologinya, hingga membuat banyak negara dan bangsa takut Ideologi Islam menaklukkan mereka.
Oleh karena itu, ashobiyah ini harus dihilangkan dan digantikan dengan ukhuwah Islamiyah yang benar. Komunikasi antar gerakan semakin intensif dan semakin cair dalam berbagai interaksi yang saling mendukung. Bukan lagi, era sesama muslim mengfitnah, tidak ramah bahkan mengkafirkan, tetapi saling memahami dan membantu. Serta menganggap penting menyatukan persepsi dan langkah bersama mengambil peran yang lebih besar dalam kehidupan bernegara. Negara ini tidak boleh terus dibiarkan berjalan terlalu lama keluar dari jalan Allah.
Islam harus masuk dalam mainstrem perdebatan menyelamatkan Indonesia dan mensejahterakan rakyatnya (booklet HTI, 2002, Selamatkan Indonesia dengan syariah). Tentunya dengan persiapan yang matang, baik dari sisi argumentasi dan kesiapan kader sampai ke pelosok negeri. Menyatukan komponen umat Islam dan memimpin pergerakan Islam mengarah pada tujuan bersama menerapkan syariat secara kaffah.
Ketidakmampuan dua ideologi, baik Sosialis maupun Kapitalis dalam membawa Indonesia ke arah yang lebih baik harus dilawan dengan argumentasi Islam yang mapan, tanpa harus menakuti dengan sekedar potong tangan atau terror bom. Gerakan haruslah mengedepankan kembali kepada keimanan yang menghendaki ketundukan total terhadap syariah bagi setiap mukmin. Serta terus mendorong dan menciptakan suasana kondusif untuk selalu meningkatkan ketaqwaan.
Apapun mementumnya, Islam harus mampu menjawab dengan argumentasi yang menyeluruh, hingga tidak ada celah untuk menjatuhkannya. Islam harus dihadirkan sebagai agama sekaligus ideologi, aqidah dan syariah, jalan kehidupan dan solusi sempurna untuk berbagai masalah kehidupan.
Islam ideologis juga harus mampu menjawab berbagai argumentasi compang-camping ideologi lain atau argumentasi Islam yang sudah tersekulerkan dan menerima faham-faham baru, seperti pluralisme maupun liberalisme (Adian Husaini, 2004, Hendak Kemana (Islam) Indonesia?). Penyadaran harus semakin masif dilakukan oleh semua organisasi Islam terhadap umat sampai ke level paling bawah.
Umat Islam harus lebih baik pemahaman politik dan penyelesaian masalah kehidupan dengan Islam. Manajemen organisasi harus lebih baik dan rapi lagi karena dakwah yang elegan dengan manjemen terbaik akan membuahkan hasil terbaik. Terus melatih dan memperbaiki manajemen serta kemampuan para kader dalam menjalankan aktivitas dakwah di tengah-tengah umat. Kemampuan umat pun harus terus ditingkatkan, terutama dalam bersentuhan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, mengingat banyak media dan sarana yang sangat membantu dalam dakwah dan mempermudah kehidupan umat.
Pemimpin umat Islam perlu berfikir kembali, tidak seharusnya umat Islam yang mayoritas hanya sebagai pelengkap penderitaan bangsa yang terkoyak akibat kekuatan kapitalisme global. Umat Islam harus melawan dan merebut tanah dan kehormatannya dengan perjuangan kembali pada al-Qur’an dan al-Hadits. Bukan sekedar tambal sulam atas kerusakan sistem ini dengan semangat ataupun ‘subtansi’ Islam saja, tetapi pada tataran praktis harus membumikan syariah Islam dalam berbagai tata aturan berbangsa dan bernegara.
Didukung kemampuan kader yang merata dalam tsaqofah dan kemampuan manjemen dakwah akan membuat bola salju gerakan Islam akan meruntuhkan tatanan nilai dan sistem demokrasi saat ini. Demokrasi akan terbunuh dengan sendirinya oleh kekuatan Islam ideologis. Syaratnya gerakan ideologis terus menggelinding dan terus membesar mendapat dukungan umat secara mayoritas.

Sesaat lagi Islam menang
Beberapa tahun ke depan, banyak prediksi akan kebangkitan Islam dimulai dari Indonesia. Berbagai tanda-tanda itu mulai menemukan momentumnya, Islam kian kuat ditangan generasi baru yang lebih melek politik dan ideologis serta tak mudah ditipu media. Inilah peluang besar terjadinya perubahan yang lebih baik dan akan terasa hingga ke seluruh penjuru dunia.
Kesempatan ini tidak boleh gagal lagi, karena inilah momentum yang ditungguh-tunggu itu. Geliat kebangkitan Islam akan menggantikan ideologi dan sistem demokrasi kapitalis yang akan segera hancur. Persiapan kader, partai dan dukungan umat yang kuat akan melancarkan pergantian kekuasaan kepada Islam.
Islam akan menjadi mainstrem tuntutan rakyat dan terus dikelola partai politik ideologis, sampai kekuasaan beralih kepada partai ideologis. Era serah terima kekuasaan dari umat ke partai politik ideologis akan berjalan secara alami, selama tahapan interaksi dengan umat berhasil dengan gemilang. Saat itulah syariah Islam akan menjadi tata aturan kehidupan masyarakat dan itulah tanda kemenangan Islam di bawah al-Khilafah ar-Rasyidah. Amin.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s