Pilpres Kelabu

Pilpres sudah berlalu, namun bara api konflik masih membara. Sekilas kampanye dan detik-detik pilpres lalu terkesan cukup dramatis, 2 hari menjelang pilpres, 2 pasangan memberikan waktu 24 jam KPU untuk menyelesaikan masalah DPT. Untung MK mengambil keputusan dengan memberikan kesempatan bagi rakyat yang tidak terdaftar dalam DPT bisa menggunakan KTP. Hasilnya, setelah pilpres pun DPT tetap jadi alasan untuk menolak hasil pencontrengan.
Bila dibandingkan dengan pemilu 2004, banyak yang menilai pemilu 2009 jauh amburadul, padahal Ketua dan anggota KPU pemilu 2004 masuk penjara. Pertanyaannya; apakah nanti setelah tugas selesai, adakah anggota KPU saat ini yang masuk penjara?. Kita lihat saja, sudah ada indikasi ke sana, tapi tetap saja ini rana politik yang hasilnya sulit ditebak.
Pilpres ini jadi cermin politik Indonesia yang sangat pragmatis. Ada gula ada semut, berpihak yang kemungkinan menang walaupun berbeda aliran dan ideologi perjuangan. Berbagai fenomena menjelang pilpres cukup jelas menghadirkan wajah sesungguhnya dari para elit politik yang pragmatis. Pilpres ini menimbulkan fenomena partai-partai pecah, dihujat kader dan pemilihnya.
Orang yang diluar partai pun miris, permasalahan DPT mengungkap lemahnya administrasi negara dan pelayanannya terhadap rakyat. Ada jutaan rakyat yang tidak terdaftar di negerinya sendiri, bagaimana akan dilayani kalau tidak terdaftar?. Begitu juga, beberapa kali terungkap keberpihakan KPU terhadap satu pasangan, untuk kasus terakhir adalah spanduk sosialisasi pilpres yang mencontreng pasangan no. 2.
Media dan lembaga survey berpihak kepada pasangan tertentu, tampak dari hasil-hasil survey pasangan yang mendanai, memperoleh nilai jauh di atas pasangan lainnya, hingga 70 persen. Penolakan iklan pasangan capres-cawapres Mega Prabowo oleh beberapa media TV menjadi tanda keperpihakan dan bahan perdebatan di dunia maya. Polling SMS saat debat Capres atau Cawapres juga menjadi strategi mempengaruhi rakyat, mereka menyewa sekitar 20 provider, agar selalu menang.
Kampanye satu putaran ramai, dengan alasan penghematan. Padahal iklan tersebut dikatakan bukan dibuat pasangan SBY, tapi lembaga survey. Tentu saja, rakyat banyak bertanya, dari mana dana besar lembaga survey itu? Padahal mereka juga kerja mencari untung.
Beberapa pengamat politik dan ekonomi pun tak mau kalah mendukung pasangan yang diindikasikan neolib. Berbagai analisis tampak jelas bahwa ada kepentingan bersama diantara mereka untuk memenangkan pasangan tertentu. Ini mengacaukan posisi intelektual mereka, yang seharusnya menyampaikan berdasarkan ilmu tanpa keberpihakan atau pengaruh kekuasaan. Netralitas pengamat terbeli dan sangat merugikan rakyat, karena rakyat tidak mendapatkan gambaran dan analisa yang seimbang di antara setiap pasangan. Ini jelas bukan pendidikan politik, tapi pembodohan politik yang dilakukan orang-orang yang sering disebut ahli dan pakar politik sendiri.
Keterlibatan pihak asing pun tak terbantahkan. SBY masuk 100 tokoh politik berpengaruh versi TIME, berbagai bantuan bernilai jutaan dolar dan puluhan pemantau asing yang hingga kini tidak mempublikasikan laporannya ke masyarakat. Belum lagi banyaknya intelejen asing yang bergerak di negeri ini, CIA memiliki rekor tersendiri dalam ‘prestasi’ menaikkan atau penjatuhkan pemimpin suatu negara. Bahkan terakhir, Presiden Amerika Barack Obama memberikan ucapan selamat kepada SBY, padahal belum diputuskan KPU. Obama menilai pilpres aman dan demokratis serta meminta Indonesia menjalin hubungan dengan Amerika lebih erat lagi ke depan.
Bila demikian, pilpres seperti ini lebih merugikan rakyat dari pada menguntungkan. Stempel demokratis menjadi alat legitimasi penjajahan negara kapitalis terhadap negara berkembang. Apalagi dalam pelaksanaannya masih dipertanyakan profesionalitas dan indepedensinya. Bila kubu Mega-Prabowo melihat ada setting secara sistematis untuk memenangkan pasangan tertentu, bisa jadi benar. Apalagi berbagai data yang mereka temukan jauh lebih lengkap merekam berbagai konspirasi atau rekayasa tersebut.
Pilpres kelabu, pilpres legitimasi penjajahan baru atas nama rakyat, neolib memimpin lagi. Tak hanya itu, wajahnya kini bertopeng baru, topeng jaminan sosial, kesejahteraan, keberpihakan pada rakyat. Tapi yakinlah ini hanyalah sementara, akan tampak wajah ganas, serakah dan tanpa rasa kasihan mengambil hak dan kekayaan rakyat yang jauh lebih besar.
Realitas ini tidak boleh terus terjadi, rakyat harus disadarkan atas berbagai tipu daya demokrasi kapitalis yang sekedar alat legitimasi penjajahan baru.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Satu tanggapan untuk “Pilpres Kelabu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s