Kampanye Hitam

Kampanye hitam (black campaign) dalam masa kampanye memang sulit diberantas. Apalagi hidup di negeri gosip, katanya “semakin digosok semakin sip”. Black campaign memang tidak dibenarkan karena tidak ada dasar acuannya. Lebih dekat fitnah daripada mengungkap kekurangan atau kelemahan dari capres-cawapres tertentu. Sedangkan yang masih dibenarkan adalah kampanye negatif, karena masih ada dasar acuannya.
Berawal dari penyebaran fotocopy-an wawancara tokoh Islam dalam sebuah tabloid, yang menanyakan partai Islam pendukung SBY, apakah tidak tahu bila istri Boediono adalah Katolik?. Bola panas pun semakin membesar bahkan sampai pada tim pusat dan capres-cawapres bersangkutan. Mereka saling tuduh, saling kecam dan meminta mengakui dan minta maaf kepada istri Boediono. Selain upaya hukum juga tetap diajukan kedua bela pihak, sebagai bukti ‘keseriusan’ kasus ini. Sesungguhnya politisi memahami betul kasus apapun, bila tidak menguntungkan pihaknya akan dilemparkan ke musuhnya.
Ada beberapa isu yang perlu dijelaskan karena masing-masing saling tuduh dan bersikukuh tidak bersalah. Bahkan lebih jauh lagi ada upaya yang terangkat dengan sendirinya yaitu isu agama dalam politik. Pukulan terhadap umat Islam pun terjadi tanpa pembelaan apalagi balasan. Sedangkan isu Neolib sebagai musuh bersama rakyat Indonesia tertutup dengan isu tersebut, sekaligus menenggelamkan politik umat Islam semakin dalam.
Dalam penyidikan ternyata penyebar fotocopy-an disuruh orang dari partai Demokrat sendiri, tentu di luar benar atau salah, karena masih dalam proses penyidikan. Untuk sebuah wacana, ini cukup aneh jika sebuah rencana besar berbalik menyerang dirinya sendiri. Mereka tidak memperhatikan berbagai indikasi yang justru memojokkan timnya. Tidak adanya gugatan terhadap tabloid yang memuatnya justru terlihat pembiaran dan menjadi berita besar sekaligus kasus besar dalam kampanye. Dengan target capres dan tim suksesnya harus mengakui dan bertanggung jawab dalam kasus ini.
Siapapun yang berfikir sehat tentulah memperhatikan informasi-informasi ganjil yang terjadi selama kasus ini berlangsung. Seperti biasa, kita akan melihat bagaimana hukum menyelesaikan masalah politik yang terkadang tidak mampu menyentuh elit politik apalagi yang berkuasa.
Kampanye hitam juga bergulir memukul umat Islam dalam berbagai perdebatan di media massa, disinilah sesungguhnya harus ada perlawanan. Umat Islam harus peka terhadap isu yang memojokkan Islam dan umatnya. Masih baru dalam ingatan kita, perdebatan apakah rakyat masih mempermasalahkan agama presidennya?. Ternyata didapati masih terjadi dalam masyarakat, sehingga mereka tidak mengajukan calon dari non muslim. Bisa juga kasus ini menjadi uji coba, apa benar keberatan umat Islam jika dipimpin dari keluarga non muslim?. Ingatlah kasus ini akan menjadi pertimbangan tersendiri dalam penelitian atau perdebatan yang berkaitan dengan agama pemimpin.
Begitu juga isu agama anti politik dan sebaliknya politik tanpa agama. Mereka masih tidak terima ada dari umat Islam yang membawa Islam sebagai motivasi sekaligus jalan perjuangan untuk perubahan yang lebih baik. Isu sebelumnya yang juga menyerang Islam adalah isu jilbab istri para pasangan capres-cawapres yang dituduh membawa agama dalam politik. Kecaman politisi sekuler pun bersautan bahkan para pejuang jilbab (dulu) pun tidak merasa berada dalam blok Neolib.
Bila dicermati, isu Neolib tertutup dengan isu kampanye hitam ini. Bila ada asumsi ini adalah tanpa sengaja, maka upaya memperbesar kasus ini adalah rencana mereka. Jelas, karena selama ini mereka tidak berdaya atas tuduhan Neolib, sehingga mereka berganti istilah ekonomi jalan tengah. Kampanye pro rakyat digalakkan untuk menutupi wajah Neolibnya. Orang-orang yang selama ini disorot pro barat, antek asing ternyata berkumpul di belakang dan menjadi tim suksesnya.
Bagi kita umat Islam, ini bukanlah kasus kampanye hitam antar pasangan saja, tetapi kampanye hitam terhadap Islam dan umatnya. Islam jadi objek perdebatan untuk menghambat laju gerak perjuangan umat Islam meraih kepemimpinan ke depan. Oleh karena itu, dalam perdebatan membahas kasus ini harus ada pembelaan sekaligus perlawanan akan semua upaya ingin mensekulerkan Islam dan menguasai umat Islam.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

2 tanggapan untuk “Kampanye Hitam”

  1. Jualan tahun 2004.. dah basi kali,, berasa “dizalimi”. Biar rakyat pada kasihan.

    Politik santun.. munafik ente, arogan, innocent face.

    Selamat datang era baru Tirani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s