Mencari Pengganti Neoliberalisme

Neolib kalah dalam opini publik, pengusungnya pun berganti memakai istilah baru; ekonomi jalan tengah. Ini dapat difahami, sejak awal munculnya penolakan terhadap Neolib, mereka mencoba menjawab dengan berbagai jurus hingga menemukan istilah ekonomi jalan tengah.
Dalam dunia ini ada yang pokok dan ada yang turunan, kapitalisme adalah pokok dan lainnya adalah turunannya, termasuk ekonomi jalan tegah. Apapun istilahnya, jika kenyataannya menunjukkan hal yang sama, maka kesimpulannya sama saja. Tidak perlu percaya dengan apologi sederhana apalagi saat kampanye.
Kini, pertanyaanya sistem apa yang paling layak mengganti Neolib?
Sebagian orang menyatakan lawan dari Neolib adalah hanya Neososialis yang kini berkembang di Amerika Latin. Negara-negara Amerika Latin kini menjadi arus Neososialis yang anti pada kebijakan-kebijakan ekonomi Neolib. Negara-negara, seperti Venezuela (Hugo Chavez), Bolivia (Evo Morales), dan Nikaragua (Daniel Ortega), bersatu melawan ketidakadilan Neolib. Presiden Venezuela, Hugo Chavez, dalam hal itu menjadi ikon bagi para pemimpin di negara-negara Amerika Latin, yang memberi inspirasi, semangat, dan perlawanan pada ketidakadilan praktik-praktik kebijakan ekonomi Neolib. Hugo Chavez berani melakukan penolakan penandatanganan sejumlah traktat penting kerja sama ekonomi antara perusahaan-perusahaan milik AS di Venezuela. Alasan yang menjadi prinsip idealnya cukup populis, karena selama ini perusahaan-perusahaan itu hanya mengeruk natural resource, namun tak mempedulikan dampak pada lingkungannya. Selain itu, juga tak memberi kesejahteraan pada penduduk lokal.
Kebijakan Hugo Chavez yang anti-Neolib itu bukanlah tindakan individu dia sebagai seorang pemimpin, namun kebijakan itu didukung sepenuhnya oleh mayoritas masyarakat Venezuela pada umumnya. Hal itu menyimbolkan bahwa kuatnya arus anti-Neolib sudah tak terbendung lagi. Di sisi lain, fenomena itu juga menyimbolkan kekuatan sosialisme baru (Neososialis) di Venezuela, sebuah kekuatan people power yang dikendalikan dan diarahkan oleh seorang pemimpin negara yang pro pada rakyat. Neososialisme di situ tak lagi bergerak secara top down atau perintahnya dieksekusi oleh seorang pemimpin lalu diikuti oleh rakyatnya. Neososialisme kini bersifat demokratik, yang bergerak secara bottom up, yaitu isunya muncul berdasarkan pada harapan dan keinginan rakyat, kemudian selanjutnya dieksekusi oleh pemimpin negara.
Neososialis ini, barangkali yang mengilhami pasangan Mega-Prabowo, namun masih banyak yang perlu dipertanyakan akan keberaniannya seperti pemimpin negara-negara Amerika latin. Apalagi Neososialis kurang populer di Indonesia, atau hanya konsumsi para akademisi dan aktivis mahasiswa sosialis saja.
Justru yang ramai adalah ekonomi syariah, faktanya krisis ekonomi global yang terjadi saat ini membuat dunia memandang bahwa prinsip-prinsip perbankan dan perdagangan Islam lebih baik ketimbang dunia Barat. Namun pandangan tersebut hanya pada prinsip-prinsip perbankan dan perdaganngan saja, sehingga tidak menutup kemungkinan akan sebagai bahan tambal sulam ekonomi neoliberal, sebagaimana jaminan sosial ala sosialis juga lebih dulu diadopsi.
Kondisi tersebut tidak boleh terjadi. Karena saat inilah kesempatan emas umat Islam untuk mengangkat alternatif sistem ekonomi Islam sebagai satu-satunya pengganti Neolib. Sebuah harapan untuk merevitalisasi kepemimpinan Islam dan mempertegas posisinya dalam tataran dunia. Untuk itu, Islam harus masuk mainstrem perdebatan ekonomi atau politik untuk mensejahterakan rakyat. Sistem ekonomi Islam harus dijelaskan kepada masyarakat mulai konsep kepemilikan, pengelolaan kepemilikan dan distribusi kekayaan. Menunjukkan sumber-sumber pendapat dan pengeluaran negara, menggunakan mata uang emas dan perak, perbankan dan perdagangan tanpa riba, dan tidak memberi tempat sektor non riil tumbuh.
Untuk memantapkan efektifitas ekonomi Islam dalam mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan, harus ditampilkan lebih utuh dan sempurna. Bahkan lebih dalam lagi, ideologi yang menjadi dasarnya serta berintegrasi dengan sistem Islam yang lain, seperti; sistem pemerintahan Islam, sistem sosial Islam, sistem pertahanan, sistem pendidikan dan sistem-sistem lainnya.
Dengan begitu, secerca cahaya yang dinantikan akan bersinar layaknya mentari pagi. Jalan baru segera tampak jelas dan orang-orang akan berbondong-bondong memilih melaluinya, untuk sebuah harapan kehidupan yang diberkahi.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Satu tanggapan untuk “Mencari Pengganti Neoliberalisme”

  1. Neososialis, tapi apa sebenarnya arti neososialis sendiri? memang benar indonesia tidak bisa menggunakan neolib, neolib, budaya barat tak terbendung yang mulai meracuni indonesia, mereka yang menjajah sekarang ini adalah pasukan neolib yang antineososialis….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s