Angin Surga Atau Realistis?

Bukan kampanye kalau tidak menghembuskan angin surga, namun itu hanya ditujukan pada pasangan yang terlalu ‘muluk-muluk’ memberikan janji pada rakyat. Sedangkan yang masih berkuasa menyampaikan harus realistis dengan kondisi krisis global saat ini, jadi tak perlu menghembuskan angin surga pada rakyat.
Baik angin surga atau realistis adalah pesan-pesan kampanye, yang mudah diucapkan dan belum dibuktikan. Sebagai oposisi pasangan Mega-Pro optimis bisa menorehkan angka pertumbuhan ekonomi 2 ‘digit’ jauh diatas SBY-Boediono hanya 7 persen. JK-Wiranto sebelumnya optimis bisa meningkatkan hingga 8 persen angka pertumbuhan ekonomi bangsa ini. Atas perbedaan target dan janji pasangan tersebut ternyata membuat pro-kontra baik di tingkat tim sukses maupun dalam masyarakat. Kemudian saling sindir antar pasangan dengan istilah angin surga dan realistis.
Bila dicermati munculnya istilah angin surga dan realistis bukanlah sesuatu yang aneh karena ini musim kompetisi merebut puncak kekuasaan di negeri ini. Para pasangan merasa perlu menyampaikan target-target yang juga sebagai janji bila nanti mereka yang memenangkannya. Dan istilah tersebut saling bertabrakan sebagaimana silang pendapat antar pasangan beserta tim suksesnya.
Kini saatnya penilaian pada program yang bisa mengangkat pertumbuhan lebih baik dari sekarang yang hanya 4,4 persen. Pasangan SBY-Boediono sesungguhnya hanya memanfaatkan momen membaiknya kondisi perekonomian dunia akibat krisis global. Dengan sedikit menaikkan target pertumbuhan ekonomi hingga 7 persen diklaim realistis. Padahal tanda-tanda perbaikan krisis global tidak bisa dipastikan, bahkan sekarang GM dinyatakan bangkrut sebagai tanda runtuhnya raksasa ke 3 Amerika.
JK-Wiranto juga memanfaatkan momen membaiknya perekonomian dunia dan memacu produksi dalam negeri dengan kemampuan dan diserap pasar bangsa sendiri. Prilaku nasionalis ini diharapkan mampu membangkitkan kemandirian bangsa dan mampu menaikkan pertumbuhan hingga 8 persen. Padahal prilaku nasionalis hingga kini sulit diwujudkan buktinya, dulu ada jargon ‘aku cinta produk Indonesia’ tidak laku.
Sedangkan Mega-Pro menargetkan pertumbuhan minimal 10 persen. Langkahnya dengan memberikan stimulus pada petani, nelayan dan pedagang kecil yang merupakan mayoritas bangsa ini. Untuk memperoleh modal besar itu, akan dilakukan peninjauan ulang berbagai perusahaan asing yang dinilai mengeksploitasi kekayaan alam bangsa ini menjadi milik negara. Modal inilah yang akan dijadikan pendobrak pertumbuhan ekonomi bangsa ini ke depan. Kita tunggu keberaniannya menasionalisasi perusahaan-perusahaan transnasional yang menjamur di negeri ini, padahal Mega dulu gencar melakukan privatisasi BUMN-BUMN strategis.
Dari ketiga tawaran pasangan tersebut untuk rakyat sungguh sangat disayangkan hal-hal fundamental dalam ekonomi dan kehidupan rakyat tidak menjadi target programnya. SBY-Boediono jelas mengikuti resep neolib, begitu juga JK-Wiranto yang sebagai penanggungjawab kondisi ekonomi negara ini. Sedangkan Mega-Pro hanyalah membuat momen baru kebangkitan sosialisme di negeri ini dengan argumentasi mengembalikan ekonomi kepada konstitusi. Dengan demikian ketiga pasangan ini tidak cocok dengan bangsa yang mayoritas umat Islam ini. Jelas mereka tidak mewakili umat Islam sebagai bagian utama dari negara ini.
Bila dalam kacamata Islam, kita tidak pernah berjanji tetapi menyampaikan janji Allah yang sebenarnya. Apalah arti janji manusia bila ternyata Allahlah yang sesungguhnya menentukanNya, apalagi upaya manusia itu justru bertentangan dengan Jalan Allah. Bukannya keberhasilan tetapi malapetaka di dunia dan akhirat nanti yang didapat. Bangsa ini akan semakin tak berdaya menghadapi persoalan kehidupannya bila memilihjalan yang bertentangan dengan Jalan Allah.
Itu sudah terbukti, semakin lama kita merdeka semakin merana dan tak berdaya menghadapi kesulitan hidup. Jumlah kriminalitas meningkat, rusaknya akhlak dan moralitas di mana-mana, depresi dan gila merajalela, bunuh diri setiap hari kita dapati hingga bencana alam serta berbagai musibah terus bergantian menghantam bangsa ini. Sayangnya bangsa ini tidak pernah merasa itu adalah peringatan dari Allah, tetapi hanya angin lalu yang bisa diselesaikan hanya sebatas doa sesaat.
Bicara angin surga dan realistis, sesungguhnya yang paling realistis ‘benar’ mendapat angin surga dari Allah, bila rakyat bangsa ini beriman dan bertaqwa. Itulah janji Allah sebagai angin surga yang sebenarnya; “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (TQS. Al A’raf [7] : 96).

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Satu tanggapan untuk “Angin Surga Atau Realistis?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s