Perang Citra Pasangan

Kritikus pers Moris Wolfe menyatakan bahwa merubah pikiran orang itu lebih mudah dan murah dari pada merubah realitas sendiri. Barangkali alasan tersebut banyak politisi menyiapkan puluhan iklan daripada bukti riil kerjanya. Banyak fakta yang direkayasa agar bisa memperbaiki dan menaikkan citranya.
Era informasi dan komunikasi, menjadikan politik juga semakin bergeser dari bukti riil ke hanya sebatas citra. Jaringan media yang sangat luas membuat kampanye semakin murah, juga dianggap paling efektif mengenah hingga ke pelosok desa. Apalagi media, terutama TV dan internet kian besar pengaruhnya pada kehidupan rakyat. Sehingga anggaran kampaye politik tersedot cukup banyak untuk belanja iklan. Saat pemilu legislatif sebelumnya biaya iklan politik paling besar dan hanya tertandingi oleh total gabungan iklan kosmetik.
Apa sesungguhnya peran citra pasangan capres-cawapres dalam mempengaruhi rakyat?. Tentulah sangat besar, karena hampir seluruh rakyat tidak kenal semua pasangan secara langsung, rakyat hanya kenal lewat berita dan iklan. Sehingga semua pasangan ingin sering tampil di TV dan media lain agar seluruh rakyat mengetahuinya serta mempercayakan kepada mereka. Berbagai upaya pun dilakukan, baik membuat kegiatan yang akan memancing media untuk meliput atau membuat press release terhadap isu terkini. Iklan kebanggaanya pun saling bergantian tampil dilayar TV sembari saling mengkritik pasangan lain. Mereka berasumsi bila berita dan iklan tersebut baik maka citra pasangan tersebut baik. Sebaliknya jika berita dan iklannya buruk tidak berkualitas maka citranya akan suram sehingga sulit meraih simpati rakyat.
Faktanya, belum kampanye saja para capres sudah curi start muncul di beberapa TV dengan durasi yang cukup besar. Dan sebagaimana diprediksi pertempuran akan ramai di iklan dan pemberitaan di media massa. Sehingga setiap tim sukses capres-cawapres perlu menyewa konsultan pencitraan dan membuat media center sebagai bagian komunikasi intensif yang ramah dengan awak media. Tak ketinggalan lembaga survey juga menunjukkan keperpihakan pada salah satu pasangan capres-cawapres dengan berbagai hasil surveynya.
Sehingga boleh dibilang saat ini juga merupakan perang lembaga dan praktisi pencitraan yang mendapat proyek besar ketiga pasangan capres-cawapres. Kerja-kerja mereka sangat menentukan mempengaruhi rakyat dalam mengenal, memahami serta menentukan pilihan. Walaupun kemenangan nanti tidak sepenuhnya ditentukan kerja-kerja mereka, namun kerja pencitraan diakui pengaruhnya terhadap tingkat penerimaan masyarakat terhadap pasangan.
Melihat ketiga pasangan, memang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maka tugas konsultan pencitraan dan tim pemenangan untuk mengetengahkan kelebihannya hingga semua rakyat mengetahui, dan sebaliknya kelemahan-kelemahan di jaga jangan sampai mencoreng citranya. Bahkan kalau bisa bagaimana caranya hanya lewat iklan kelemahan tersebut bisa jadi kekuatan tersembunyi untuk membalik keadaan.
Tak terkecuali para tim sukses juga ditengarahi terlibat membuat forum atau komunitas dadakan untuk mengacau atau kampanye anti pasangan lain. Memang ini dibilang negatif, namun sering berkilah itu hak setiap warga masyarakat untuk menyuarakan pendapatnya.
Pihak mediapun menjemput bola dengan membuat dialog-dialog seru hingga perdebatan baik antar pasangan capres-cawapres atau tim suksesnya sehingga suasana semakin ramai. Tentunya bukan hanya untuk pendidikan politik rakyat tetapi ini membuat kue iklan akan masuk ke kantong media yang bersangkutan.
Disini rakyat harus tahu, dunia komunikasi dan informasi juga memberikan fakta tak terbantahkan menjadi dunia rekayasa. Apapun kenyataannya bisa disetting ulang bahkan diperbaiki total dengan kecanggihan teknologi. Semuanya ditangani oleh ahli-ahli rekayasa di negeri ini, bahkan tak sedikit yang menggunakan ahli dari luar. Sedangkan kebanyakkan rakyat kecil, baik yang di kota maupun di desa tidak mengenal teknologi seperti itu sehingga mudah dipengaruhi.
Bahayanya bagi rakyat, bila citra itu diyakini dengan apa adanya maka akan banyak rakyat yang kecewa bila tahu nanti yang sesungguhnya. Tentu rakyat selalu dirugikan atas berbagai perang citra yang menyesatkan. Bukankah bila kebongongan yang dicoba ditutupi, maka akan melahirkan kebohongan baru. Demikian juga dunia rekayasa akan melahirkan rekayasa pula. Tidakkah kita tahu, berbagai kesimpang-siauran data kemiskinan, pengangguran dan kondisi perekonomian selama ini justru ditengaraihi direkayasa untuk menunjukkan pemerintahan telah berhasil?.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s