Religius, Tapi Sekuler

Iklan politik capres yang cukup elegan dengan mengungkapkan kelebihan-kelebihan pribadinya, hingga terkesan logis bila dia layak melanjutkan kepemimpinannya 5 tahun ke depan. Bagi para pesainnya tentu banyak pertanyaan, tapi saya hanya mempunyai satu pertanyaan, yaitu banarkah religius?.
Klaim religius sering kali menjadi klaim yang tepat untuk maju menjadi pemimpin dalam masyarakat yang mayoritas muslim. Berbekal religius diharapkan tidak akan ada penolakan terhadap pribadi dan kepemimpinannya. Bahkan banyak partai Islam dan berbasis massa Islam di belakang mendukungnya. Tapi bila kita merujuk kembali makna religius dalam Islam, tentu sangat kontraproduktif dengan klaim capres tersebut.
Klaim religius diatas tentu tidak lepas dari pemaknaan agama berdasarkan pengalaman dunia Barat. Sebuah pengalaman religius yang terpisahkan dari politik. Sebagimana ditulis Karen Armstrong dalam Islam : A Short History, di dunia modern Barat, kita sudah memisahkan agama dari politik. Sekulerisasi ini semula dilihat oleh para filsuf zaman pencerahan sebagai alat pembebasan agama dari urusan-urusan negara sehingga memungkinkan agama lebih murni dengan sendirinya. Pemahaman seperti inilah yang juga banyak merasuki pemikiran para cendekiawan muslim yang pro sekulerisasi.
Menelisik lebih dalam lagi, sebagaimana yang ditulis Hamid Fahmy Zarkasyi, mengapa terjadi tragedi sekulerisasi di Barat? ternyata Barat mengalami kebingungan mendefinisikan religion, karena konsep Tuhannya yang bermasalah. Agama Barat – Kristen – kata Amstrong dalam History of God justru banyak bicara Yesus Kristus ketimbang Tuhan. Padahal, Yesus sendiri tidak pernah mengklaim dirinya suci, apalagi Tuhan. Sedangkan Islam menurut Professor al-Attas, sebagai agama, telah sempurna sejak diturunkan. Konsep Tuhan, agama, ibadah, manusia dan lain-lain dalam Islam telah jelas sejak awal. Para ulama kemudian hanya menjelaskan konsep-konsep itu tanpa merubah konsep asalnya. Sedang di Barat konsep Tuhan mereka sejak awal bermasalah sehingga perlu direkayasa agar bisa diterima akal manusia.
Konsep Tuhan di Barat kini sudah hampir sepenuhnya rekayasa akal manusia. Buktinya tuhan ‘harus’ mengikuti peraturan akal manusia. Ia “tidak boleh” menjadi tiran, “tidak boleh” ikut campur dalam kebebasan dan kreativitas manusia. Tuhan yang ikut mengatur alam semesta dianggap absurd. Tuhan yang personal dan tiranik itulah yang pada abad ke 19 “dibunuh” Nietzche dari pikiran manusia. Tuhan Pencipta tidak wujud pada nalar manusia produk kebudayaan Barat. Agama disana akhirnya tanpa tuhan atau bahkan tuhan tanpa Tuhan.
Kini di Indonesia dan di negeri-negeri Muslim lainnya cendekiawan Muslim mulai ikut-ikutan risih dengan konsep Allah Maha Kuasa (Supreme Being). Tuhan tidak lagi mengatur segala aspek kehidupan manusia. Bahkan kekuasaan Tuhan harus dibatasi. Benteng pemisah antara agama dan politik dibangun kokoh. Para kyai dan cendekiawan Muslim seperti berteriak “politik Islam no” tapi lalu berbisik “berpolitik yes”….”money politik la siyyama”.
Sesungguhnya dalam Islam makna religius tak hanya pengakuan atau percaya saja, tetapi ketundukan kepada Allah dalam semua aspek kehidupan. Fakta yang tak terbantahkan dan ditulis Karen Amrstrong dalam membandingkan pengalaman Barat dan Islam. Keberhasilan umat Islam menyebarkan ajaran al Qur’an, yang menegaskan bahwa masyarakat yang berada pada jalan yang benar pasti sejahtera sesuai hukum Tuhan. Coba lihat apa yang terjadi begitu mereka berserah diri pada kehendak Tuhan. Saat orang-orang Kristen melihat yang ada di tangan Tuhan adalah kegagalan dan kekalahan, ketika Yesus wafat di kayu salib, umat Islam mengalami keberhasilan politik karena keberadaan Tuhan Yang Agung dan Suci dalam kehidupan mereka.
Dengan demikian, seharusnya Indonesia tidak mengikuti pengalaman religius Barat yang sekuler karena mayoritas rakyatnya umat Islam. Justru seharusnya mengikuti pengalaman Islam yang semakin tunduk kepada Allah, pastilah kesejahteraan akan terwujud. Bukankah saat kita merdeka dengan Rahmat Allah, mengapa kita tidak ingin sejahtera dengan Rahmat Allah?.
Kini bila kita memilih pemimpin yang religius tapi sekuler, atau bahkan tidak mengenal Allah, berarti kita akan berada pada kenyataannya yang justru berpaling dariNya. Apa yang kita peroleh? Tidak lain yaitu kehidupan yang semakin sempit, tak berdaya dan terus dilanda bencana atau musibah.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s