Politikus Bunglon

Bagi rakyat, hal yang paling menyakitkan adalah bila kepercayaannya yang sudah diberikan kepada partai atau elit politik ternyata dikhianati. Fakta ini bukanlah hal yang baru karena fakta politikus sekarang berada pada sistem yang mengkondisikan mereka harus seperti bunglon, bisa menyesuaikan diri dengan keadaan sekitarnya. Mereka benar-benar seperti bunglon yang ‘menggemaskan’ anak kecil tapi sangat menyakitkan bagi orang yang merasa dikhianati.
Berbagai fakta terbaru pun kian jelas, idealisme para politikus kian kabur. Berbagai pernyataannya, langkahnya, keberpihakkannya pun tidak dapat dipegang sebagai idealisme. Sehingga muncul pemahaman tidak ada yang tidak mungkin dalam dunia politik. Apapun bisa terjadi, termasuk yang paling memuakkan dan dibenci semua orang pun bisa dengan mudah terjadi. Semua itu dilakukan para politisi dan partai politik di negeri ini. Tak heran jika para pengamat memberi nasihat, bila jadi politisi harus memiliki muka tebal, kulit badak bahkan siap menjilat ludah sendiri sambil tersenyum.
Realitas politik menggambarkan kondisi diatas. Paling seru adalah terkait pencalonan Boediono sebagai cawapres pendamping Capres SBY, bukan saja terjadi penolakan tetapi manuver politik menggalang partai-partai yang lain akan ketidaksetujuan bila Boediono jadi cawapres. Dimana-mana kader digerakkan untuk menolak Boediono, namun lucunya disaat deklarasi Capres-Cawapres SBY-Boediono justru bersalaman dan saling lempar senyum kepada Boediono. Argumentasinya pun tidak se-ideal sebelumnya antek neoliberalisme, hingga terasa basi bila dikatakan Boediono tak menolak perbankan syariah.
Tak hanya sampai disini, politikus senior pun jadi serba salah dan melakukan berbagai tindakan hingga partai yang didirikannya pun hampir tak terselamatkan. Dalam berbagai diskusi politik muncul istilah ‘bus’ dan ‘penumpang’, ‘bus’ boleh parkir di salah satu capres namun ‘penumpang’ ternyata memilih capres lainnya. Ini akibat inkonsistensi dari partai, sehingga ditinggalkan pemilihnya. Fakta tersebut sesungguhnya hingga kini bergejolak di intern partai-partai pendukung Boediono.
Manuver-manuver politik yang membingungkan rakyat ini sesungguhnya sangat disayangkan siapa saja, termasuk rakyat kecil. Karena sejak awal elit dan partai menyatakan sebagai pilar politik yang akan menentukan arah dan suasana kehidupan, namun ternyata pilar tersebut bukanlah kokoh, tetapi sangat rapuh. Bila demikian rakyat selalu jadi korban atas runtuhan atap yang menyengsarakan. Rakyat terus jadi korban kebijakan kompromi antar partai hingga seolah rakyat selalu dapat tulangnya saja dalam ajang makan ikan bangsa ini.
Memang benar dalam ranah politik, kita akan selalu dapati banyak kejadian yang sulit untuk diprediksi sehingga jadi alasan inkonsisten dari elit politik atau partai. Sesungguhnya ini seperti keterpaksaan yang dibuat-buat hingga boleh mengorbankan idealisme dan janji-janji yang sudah dipegang rakyat. Padahal kader dan rakyat lebih senang bila pimpinannya idealis, konsisten terhadap apa yang disuarakan selama ini. Karena rakyat terutama kader memilih dan tetap berpihak pada elit atau partai yang konsisten, bukan sebaliknya.
Seharusnya partai-partai dan politikus menunjukkan sikap dewasa dalam berpolitik. Yang mampu menjaga identitasnya, citranya dan bertanggungjawab atas berbagai keputusan yang berbasis pada aspirasi konstituen pemilihnya. Bukan menukar kepercayaan kader dan rakyat dengan kepentingan sesaat.
Rakyat tidak lagi menginginkan politikus bunglon atau politikus hewan apapun, tetapi politikus yang memiliki iman dan konsisten berjalan pada garis perjuangannya walau badai menerjang.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s