Awas, Permainan Media Sekuler

Kita sebagai khalayak sering dibuat bingung akan berbagai berita yang dibuat media. Banyak sekali berita hanya sepenggal dan memberikan penafsiran yang jauh dari sumbernya. Memang media memiliki peran yang penting sebagai saluran komunikasi massa, namun tidaklah harus menghancurkan kredibilitas sumbernya.
Fakta terbaru adalah pemenggalan hasil Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jatim beberapa waktu yang lalu di Kediri terkait dengan penggunaan berbagai media komunikasi termasuk facebook. Namun yang menjadi fokus dari hampir semua media adalah berita ‘pengharaman’ facebook. Media menjadikan berita tersebut sebagai berita yang besar dan kontroversial, yang tentu menjadikan banyak orang akan mencari-cari berita tersebut dan akhirnya pastilah berita tersebut menaikkan ratingnya. Diputar berulang-ulang, dibuat menjadi reportase khusus dan mewawancarai berbagai kalangan akan berita sepenggal itu.
Apa yang terjadi di masyarakat atas berita yang sepenggal itu? Justru meremehkan dan menganggap siapa saja yang menfatwakan itu adalah lembaga atau forum yang bodoh dan kurang kerjaan. Ini cukup menyakitkan kita sebagai umat Islam, walaupun kita tidak menjadi bagian dari organisasi atau forum tersebut. Karena pemberitaannya yang sangat jelas ini bukan hanya masalah forum tersebut saja tetapi ini menyangkut Islam.
Perilaku media tersebut bukan hanya karena rating saja tetapi karena ideologi dan mainstrem media sangat tidak ramah terhadap Islam dan umatnya. Ini bukanlah kasus pertama atas pemberitaan yang cukup menyakitkan kita sebagai umat Islam. Lembaga umat Islam dan fatwa yang digali dari al Qur’an dan al Hadits dilecehkan dengan pernyataan-pernyataan masyarakat yang terpancing dengan penggalan berita yang menyesatkan.
Beberapa kasus sebelumnya, terbentuk opini umum saat menjelang pemilu, MUI mengeluarkan fatwa wajibnya memilih pemimpin berdasarkan Islam, namun jadi fatwa golput haram?. Setelah pemilu legislatif, media juga menancapkan opini pada masyarakat bahwa partai Islam kalah, dan ke depan tidak perlu memilih partai berbasis agama terutama Islam. Pada saat SBY menentukan Boediono sebagai cawapresnya, banyak pihak menyatakan inilah bukti kekalahan Islam dalam politik.
Permainan kata dalam berita cukup mengganggu, terutama kini semakin jelas ada agenda setting yang sejak lama sebagai bagian dari kerja utama media massa sekuler. Mereka mengkonstruksi pemahaman Islam dan umat Islam sesuai dengan ideologinya. Mereka dengan sangat sadar berdasarkan ideologinya ingin merubah pandangan umat Islam yang taat dan memegang teguh nilai-nilai Islam sesuai dengan ideologi sekulernya. Inilah fakta yang menguatkan berita dari al Qur’an; “Orang-orang Yahudi dan Nasrani itu tidak akan rela sampai engkau mengikuti millah mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak akan jadi pelindung dan penolong bagimu” (TQS. Al Baqarah : 120). “Sungguh kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan musrik” (TQS. Al Ma’idah : 82). “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sedangkan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci” (TQS. Ash Shaf : 8).
Bila kenyataannya media sekuler tidak ramah terhadap Islam dan umat Islam. Maka harus ada langkah umat untuk memberikan tekanan dan balasan pada media yang benar-benar memusuhi Islam dan Umatnya dengan berbagai cara. Apakah menyuarakan komentar baik pada edisi cetak, online atau on air?. Membuat ‘gertakan’ mulai mendatangi redaksi serta kalau bisa diadakan diskusi terbuka, bahkan demo bila perlu karena pihak media tetap menyudutkan umat Islam.
Umat ini yang terbesar, hingga tidak boleh ada yang berani melukainya, apapun itu lembaga dan institusinya termasuk media. Sehingga harus ada dalam sebuah organisasi Islam, bagian yang juga memperhatikan pemberitaan media dan meresponnya. Bila masih kurang, maka mari kita bentuk sebuah forum yang lebih besar bahkan kalau bisa membuat jaringan wartawan dan media Islam sebagai penyeimbang pemberitaan media sekuler. Karena bila tidak, ini berarti media sekuler kita berikan kesempatan terus menerus melukai hati umat Islam.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Satu tanggapan untuk “Awas, Permainan Media Sekuler”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s