Kekalahan Neoliberal

Penolakan Neoliberalisme yang cukup besar hingga tidak ada orang atau lembaga di negeri ini yang mengakui menganutnya adalah tanda kekalahan Neoliberalisme. Walaupun hanya sebatas wacana dan opini umum, tetapi itulah awal yang sangat baik untuk mengubur Neoliberalisme untuk selamanya.
Munculnya penolakan terhadap Neoliberalisme berawal dari pilihan cawapres pendamping SBY, Prof Dr Boediono, yang dicap banyak kalangan sebagai agen Neoliberal (Neolib). Pandangan dan kebijakan ekonominya diduga pro terhadap pasar bebas selama ia menjalankan roda kebijakan ekonomi dalam pemerintahan SBY. Tim sukses dari pasangan tersebut tampak berjuang keras untuk menepis anggapan bahwa Boediono agen Neolib. SBY dan Boediono pun dalam berbagai kesempatan mencoba membantahnya secara retoris, bahwa dia bukanlah agen Neolib seperti selama ini dituduhkan.
Penolakan neoliberal ini, sebagai tanda kemenangan opini publik anti Neoliberalarisme. Tentu semua pihak yang merasa berjuang untuk menuntut keadilan memiliki peran yang cukup signifikan. Baik yang mengatasnamakan gerakan rakyat atau yang berdasarkan agama. Neoliberal jelas merugikan semua pihak, terutama orang-orang kecil yang sangat tidak berdaya akibat tersisihkan secara sistematis.
Penolakan itu perlu didasari oleh pemahaman yang baik apa sesungguhnya neoliberalisme itu? Sebagaimana diketahui Friedrich von Hayek lah, ekonom pemenang Nobel Ekonomi 1974, bersama gurunya, Ludwig von Mises, yang selama ini dipandang sebagai bapak Neolib, sangat dikenal sebagai penganjur utama deregulasi, liberalisasi, dan privatisasi. Doktrin Neolib kemudian sering dikaitkan dengan Washington Consensus, yang pada intinya juga memberi anjuran sama, yaitu liberalisasi pasar, kebijakan fiskal ketat sebagai bentuk pengurangan intervensi pemerintah, dan privatisasi. Kebijakan-kebijakan tersebut diadopsi oleh pemerintah Indonesia hingga banyak subsidi yang dicabut tanpa memperhatikan kemampuan rakyat dan privatisasi berbagai BUMN strategis hanya untuk membayar utang yang terus bertambah. Tak hanya itu, deregulasi dan liberalisasi perdagangan kian kuat yang justru merugikan rakyat.
Banyak negara yang mengadopsi kebijakan Neolib menjadi bukti bahwa hegemoni Neolib Amerika cukup kuat. Inilah bentuk penjajahan ekonomi baru yang hingga kini masih ada. Bergulirnya penolakan dari berbagai negara menunjukkan tanda akhir dari Neoliberal. Berbagai negara mencoba mencari jalan baru untuk lepas dari bencana berulang akibat Neoliberalisme.
Ada beberapa sebab yang menjadikan banyak pihak merasa benci dan menolak Neoliberalisme sebagai ideologi ekonomi. Semuanya berdasarkan fakta riil kondisi ekonomi, sosial hingga lingkungan hancur karena kebijakan Neolib. Serta gerakan-gerakan yang dilakukan mahasiswa, intelektual, praktisi ekonomi hingga organisasi-organisasi keagamaan, terutama berbasis masa Islam. Gerakan ini terus-menerus hingga mendapatkan momen besar ‘krisis keuangan global’ yang berawal dari jantung Neolib sendiri, Amerika. Media pun menangkap fakta bahwa Neolib berada dibalik krisis global ini, sehingga membuat mata banyak pihak terbuka. Begitu juga mengungkap rentetan bencana ekonomi di berbagai belahan dunia yang selama ini membuat rakyat terpinggirkan adalah akibat kebijakan-kebijakan Neolib.
Gerakan penolakan terhadap Neolib harus terus dilakukan hingga satu per satu kebijakan pro Neolib ditinggalkan dan dipersalahkan atas berbagai bencana yang terjadi selama ini. Kita harus mampu menunjukkan fakta bencananya, jauh lebih besar daripada manfaatnya, itupun bila ada. Kalau bisa kita membuat sebuah dokumentasi yang lengkap dan sistematis dari berbagai bencana akibat kebijakan Neoliberal di dunia ini. Mulai dari bidang ekonomi, sosial, kesehatan, politik hingga kondisi lingkungan yang sudah parah.
Berbagai penolakan juga harus terkait semua turunan atau cabang Neoliberalisme. Sehingga tidak boleh terjadi hanya penolakan secara wacana namun berbagai kebijakan dan turunannya tetap berjalan dengan istilah baru. Upaya itu harus semakin keras digelorakan, dalam berbagai kegiatan, dimanapun, dan kapanpun serta kepada siapapun hingga Neoliberalisme dibuang dan dikubur untuk selamanya.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Satu tanggapan untuk “Kekalahan Neoliberal”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s