Boediono dan Neoliberalisme

Berbagai penolakan muncul terkaitan pencalonan Boediono sebagai cawapres mendampingi Capres SBY. Penolakan itu berawal dari partai-partai tengah yang semula mendukung SBY dan berharap ada kadernya dipilih SBY menjadi cawapresnya. Namun karena alasan komunikasi yang sepihak, menjadi sebuah penolakan yang membuat opini lain muncul yaitu keterkaitan Boediono sebagai ekonom neoliberalisme. Berbagai demo menolak Boediono sebagai cawapres bergantian dari mahasiswa dan kelompok masyarakat yang terjadi di berbagai daerah.
Saat wawancara dengan stasiun TV swasta, Boediono menilai perdebatan neoliberal atau tidak, kini tidak terlalu relevan, justru banyak rakyat yang perlu solusi nyata. Apa yang dilakukan hanyalah sesuai dengan kebanyakan negara yang dinilai melakukan langkah terbaik dalam menjalankan dan menyelamatkan perekonomian negara.
Sebelum kita menjustifikasi Boedion sebagia antek neoliberalisme atau seperti tuduhan Gus Dur sebagai titipan IMF, sebaiknya juga kita tahu apa itu neoliberalisme?.
Neoliberalisme juga dikenal sebagai paham ekonomi neoliberal mengacu pada filosofi ekonomi-politik yang mengurangi atau menolak campur tangan pemerintah dalam ekonomi domestik. Paham ini memfokuskan pada metode pasar bebas, pembatasan yang sedikit terhadap perilaku bisnis dan hak-hak milik pribadi. Dalam kebijakan luar negeri, neoliberalisme erat kaitannya dengan pembukaan pasar luar negeri melalui cara-cara politis, menggunakan tekanan ekonomi, diplomasi, dan/atau intervensi militer. Pembukaan pasar merujuk pada perdagangan bebas.
Neoliberalisme secara umum berkaitan dengan tekanan politik multilateral, melalui berbagai kartel pengelolaan perdagangan seperti WTO dan Bank Dunia. Ini mengakibatkan berkurangnya wewenang pemerintahan sampai titik minimum. Neoliberalisme melalui ekonomi pasar bebas berhasil menekan intervensi pemerintah (seperti paham Keynesianisme), dan melangkah sukses dalam pertumbuhan ekonomi keseluruhan. Untuk meningkatkan efisiensi korporasi, neoliberalisme berusaha keras untuk menolak atau mengurangi kebijakan hak-hak buruh seperti upah minimum, dan hak-hak daya tawar kolektif lainnya.
Kenyataannya neoliberalisme kini menjadi pangkal krisis global, yang berawal dari jantungnya di Amerika dan terus bergulir ke negara maju lainnya, negara berkembang hingga negara miskin. Banyak negara yang mengalami kerugian millyaran dollar bahkan kebangkrutan.
Bila kini neoliberalisme menjadi common enemy, ternyata para kapitalis berbalik arah meminta negara menyelamatkan mereka dengan berbagai cara. Ini memang kontraproduktif dengan gagasan awal neoliberal yang menghendaki negara tidak perlu campur tangan. Satu hal yang pasti bahwa para kapitalis hanya mau untung sendiri, bila dalam kondisi baik maka negara tidak boleh campur tangan, namun bila dalam kondisi krisis, maka mereka mendesak pemerintah untuk menyelamatkan mereka. Pemerintah pun terjebak seraya berargumen demi menyelamatkan negara, pemerintah terpaksa melakukan bail out dan mengeluarkan stimulus serta menurunkan suku bunga.
Jawaban Boediono sebelumnya menunjukkan dia mengikuti langkah terbaik para ekonom kapitalisme, karena acuannya negara kapitalis. Boediono adalah satu dari ribuan ekonom yang ada di negeri ini yang sudah diinstall sofware liberal dan noeliberal. Mereka menjadi bagian dari aparatus sistem kapitalis yang hanya mau untung sendiri. Sistem ekonomi negeri ini sudah menjadi lahan subur imprialisme barat dan sudah terbentuk struktur yang mapan beserta sistem pengkaderannya.
Dalam berbagai lapisan pendidikan dasar hingga perguruan tinggi semua mengajarkan ekonomi liberal dan neoliberal. Sedangkan ekonomi kerakyatan atau label pancasila dan koperasi hanyalah teoritis dan pelaksanaanya nihil. Koperasi selalu dijadikan pelengkap dalam menghapus stigma sistem ekonomi neoliberal yang sedang berjalan. Begitu juga perbankkan syariah yang Boediono sendiri memuji sebagai jenis perbankkan tanpa resiko, adalah upaya mengurangi pertentangan neolieralisme di negeri ini.
Profil Boediono memang mampu menghapus karakter agresif neoliberalisme. Tetapi berbagai kebijakan yang ada, Boediono dinilai paling layak memimpin ekonom neoliberalisme di negeri ini. Tidak sulit mengidentifikasi keterkaitan Boediono dengan jaringannya yang liberal. Salah satunya; saat Boediono ke Bandung menyewa gerbong kereta, ada banyak aktifis liberal bersamanya seperti Goenawan Mohammad, Rizal Mallarangen, Uni Lubis dan masih banyak lagi. Mereka merasa ‘menang’ dan perlu merayakannya karena SBY memilih salah satu orang dari mereka daripada calon yang diajukan partai-partai berbasis Islam.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s