Koalisi Seumur Jagung

Baru kemarin begitu semangat membentuk koalisi besar yang akan mengimbangi kubu pemenang pemilu, kini sudah dikatakan “itu masa lalu”. Pernyataan Ketua Pemenangan Pemilu PDIP bukan tanpa sebab, karena tembok tebal koalisi besar sulit ditembus hingga ada peluang bersama partai musuh bebuyutan pun dianggap angin segar.
Memang benar masa lalu, tetapi terasa tinta tanda tangan belum kering dan katanya koalisi jangka panjang dalam parlemen. Koalisi besar sebelumnya digagas untuk mengusung Capres-Cawapres, namun tidak ada kesepakatan dan hanya diputuskan koalisi di parlemen sebagai penyeimbang pemerintahan ke depan. Perubahan demi perubahan pun terus menghiasi berita-berita media massa. Dan yang paling tidak disukai banyak pihak adalah sinyal komunikasi intensif PDIP dengan Demokrat. Tentu ini perubahan 180 derajat dari oposisi akan menjadi pendukung pemerintahan. Sungguh tak masuk akal, tetapi inilah kenyataannya. Banyak pengamat menyatakan kaget dengan kejutan partai berlambang banteng itu.
Umur koalisi besar memang sebelumnya sudah diprediksi beberapa pengamat, kesulitan utama dalam mewujudkannya adalah kesepakatan siapa yang menjadi capres dan cawapresnya. Ternyata benar, partai Golkar melihat jalan buntu dan Wiranto merelakan diri hanya jadi cawapres, maka muncullah keputusan deklarasi JK-Wiranto (Jusuf Kalla – Wiranto). Koalisi Golkar-Hanura berbeda dengan PDIP-Gerindra yang tidak bisa saling mengalah, sehingga putus dengan sendirinya. Kondisi ini kenyataan pahit bagi PDIP, sore tanda tangan koalisi besar, malam ditinggal Golkar dan Hanura deklarasi Capres-Cawapres.
Kini keputusan PDIP mencoba komunikasi intensif dengan Demokrat, keputusan ini justru dinilai inkonsisten dan merugikan partai sendiri. Apa gunanya menjaga citra oposisi yang konsisten selama bertahun-tahun, ternyata tidak kuat dengan godaan yang menyalahi ideologi dan garis perjuangannya.
Tidak konsistennya partai menunjukkan terjadinya degradasi arti perjuangan dalam partai serta kader-kadernya. Kondisi ini seperti menunggu kehancuran partai dengan sendirinya. Ada partai-partai yang secara signifikan berubah dari ideologi dan garis perjuangannya. Hanya karena untuk mendapatkan darah segar kader, modal dan yang utama suara serta kekuasaan. Mulai pimpinan hingga daerah berubah pikiran, strategi hingga citra partainya. Karakter partai tak bisa sebaik pendahuluannya yang kian tahun semakin tak jelas dan ditinggalkan kadernya.
Keputusan tersebut juga dianggap akan merusak proses demokrasi, karena tradisi oposisi kuat akan hilang. Penyeimbang kekuatan dan pengontol kebijakan akan sirna. Kondisi ini, tentu bukan saja kesalahan PDIP tapi juga partai yang berambisi agar partai oposisi menjadi pendukung. Upaya penyatuan partai yang hanya karena bagi-bagi kekuasaan tidak bisa dianggap remeh. Upaya ini akan menghilangkan kebenaran dan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam sisi yang berbeda, pilihan SBY pada Boediono sebagai cawapres menjadikan partai pendukung Demokrat merasa ditinggalkan. Pernyataan Sekjen PKS, menilai koalisi yang mengutamakan kebersamaan, ternyata patner koalisi tidak diajak berbicara dalam menentukan hal-hal besar tentu itu tak baik. Sikap yang sama juga dirasakan ke-4 partai yang selama ini mendukung SBY jadi Capres, kondisi ini menjadi sinyalemen bubarnya koalisi Demokrat. Pergerakan partai-partai kian tidak jelas, padahal batas waktu pendaftaran capres-cawapres akan segera habis.
Bubarnya koalisi besar baik blok PDIP-Golkar atau Demokrat dan 4 partai tengah menandakan bahwa koalisi-koalisi memang tidak dibuat jangka panjang, tetapi untuk kepentingan sesaat. Bila bongkar pasang atau putus nyambung dalam koalisi adalah hal biasa. Namun tetap saja rakyat dirugikan yang karena mereka lebih banyak berdasarkan pertimbangan partai bukan demi kebaikan rakyat.
Koalisi besar ternyata berusia seumur jagung, belum mencapai target kepentingannya sudah bubar. Bahkan belum dimulainya kerja sama baik di pemerintahan atau di parlemen sudah hancur. Inilah yang menjadikan rakyat antipati serta tidak akan percaya lagi akan dunia politik bahkan pada pemerintahan nanti yang akan terbangun. Karena pemerintahan adalah bentuk kompromi politik yang siap bubar.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Satu tanggapan untuk “Koalisi Seumur Jagung”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s