Antara Cinta dan Konspirasi

Keterkaitan Ketua KPK Antasari Azhar dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen benar-benar jadi berita besar. Pembunuhan Direktur Utama PT Putra Rajawali Banjaran dalam perjalanan pulang setelah main golf di Modernland oleh penembak terlatih.

Dari berbagai berita yang ada, yang cukup menarik diulas adalah motifnya. Minimal ada 2 motif yang saat ini masih ramai dibicarakan. Motif pertama adalah hubungan cinta segitiga, sebagaimana diberitakan media. Sehingga mencuat nama wanita yang menjadi rebutan yaitu Rani. Rani memang bukan artis tetapi sebagai caddy golf di Modernland. Ternyata Rani adalah Istri sirih Nasrudin, sehingga dari keluarga Nasrudin tidak mengetahui atau mengenal Rani. Posisi Rani yang juga pernah bertemu Antasari, jadi dasar dugaan motif perseteruan antara Nasrudin dan Antasari terkait hubungannya dengan Rani. Hingga ada SMS ancaman Antasari yang banyak diragukan banyak pihak, serta foto Rani dan Antasari yang terkesan sengaja disebarkan orang yang memiliki kepentingan.

Motif asmara ini banyak yang meragukan, namun perlu diingat ternyata banyak pejabat dan elit juga sesungguhnya yang terjerat masalah ini. Sudah menjadi rahasia umum kiranya bahwa dengan posisi jabatan tinggi dan gaji serta tunjangan yang besar, maka hal yang paling menarik selanjutnya adalah wanita. Bagaimana kasus Yahya Zaini dan Maria Eva, atau Maxmuin dan sekretaris pribadinya atau Al Amin Nasution dan mahasiswi yang tertangkap dalam sebuah hotel, serta banyak lagi. Kasus-kasus di atas adalah yang tertangkap kamera dan terpublikasi dalam media. Padahal diyakini masih banyak pejabat yang berbuat seperti itu, hanya saja masih tidak terekspos ke media. Kabar dari mulut ke mulut cukup banyak membicarakan hal itu. Sempat juga saya mendengar lansung dari pejabat di pusat bank milik negara, menyatakan hal yang sangat mengerikan, walau kini beliau sudah tobat.

Bila motif asmara benar, maka semakin mengokohkan pandangan bahwa manusia hanya mengejar tahtah (jabatan), harta dan wanita dengan menghalalkan segala cara.

Motif kedua adalah ada skenario lain yang lebih besar. Motif ini berkaitan dengan jabatan Antasari sebagai Ketua KPK. Sejak KPK dipimpin Antasari, KPK menjadi ancaman yang serius bagi para koruptor. Sehingga beberapa pihak meragukan motif cinta segitiga terlalu sederhana bagi Antasari. Apalagi dalam proses pembunuhannya cukup mudah diidentifikasi polisi. Padahal Antasari orang tahu hukum, serta dalam daftar tersangka ada mantan Kapolres WW yang tentunya jauh lebih ahli membuat skenario rumit hingga sulit dibuktikan.

Upaya bersama atau konspirasi orang-orang yang tidak suka Antasari sebagai Ketua KPK sungguh beralasan. Mahfud MD pernah menulis sebuah artikel yang cukup bagus, munculnya gerakan anti korupsi menjadikan para koruptor itu terancam, maka setiap ada upaya mengungkap kasus korupsi berarti akan mengungkap kasus yang lain. Antara koruptor sama-sama tahu, sehingga mereka saling gertak atau ancam bila kasus koruptornya terungkap, maka kasus korupsi pengungkap akan diungkap balik. Tindakan saling gertak inilah yang menjadi salah satu penyebab kasus korupsi di Indonesia sulit terungkap.

Ada lagi tulisan Omi Intan Naumi yang menyebutkan, bila rezim korupsi merasa kasusnya mulai terungkap, maka mereka melakukan ritual korban “kambing hitam”. Ritual ini untuk memutus mata rantai kasus, agar tidak sampai ke kasus besarnya. Berbagai upaya untuk mengungkap kasus korupsi di negeri ini sama persis dengan penggambaran Omi ini, para koruptor besar lebih sering korban kambing hitam, sehingga tidak sampai terungkap kasus besarnya.

Kini Antasari jadi tersangka dan mendekam di tahanan Polda Metro Jaya. Dia menunggu kasusnya, apakah akan bebas ataukan justru terhina?. Kuasa hukum Antasari bukanlah pengacara biasa dan terbentuk tim besar untuk membelanya. Di sisi keluarga korban kian tertekan dengan berbagai opini yang dibentuk pengacara dan pendukung Antasari.

Terkadang memang proses pengadilan serta hasilnya tidak selalu benar. Banyak korban yang merasa tidak puas, begitu juga tersangka yang tak sebenarnya juga menderita. Terlalu banyak faktor yang mempengaruhi pembuktian, dan tak pernah ada yang bersalah mengakuinya. Kasus ini akan seperti kasus Marsinah, Munir atau penculikan aktivis yang tak bisa dibuktikan. Tapi, perjuangan meraih keadilan bagi kaum lemah dan tertindas dalam konspirasi harus tetap dilakukan. Seharusnya hukum tidak seperti pisau yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s