Romantisme Belaka

Hari Jum’at, 1 Mei diumumkan ijab-kabul pasangan capres-cawapres dari partai Golkar dan Hanura, yaitu Capres H. Jusuf Kalla dan Cawapres H. Moh. Wiranto. Inilah pasangan pertama yang dengan berbagai argumentasinya ingin menunjukkan sungguh romantisnya hubungan diantara mereka.

Opini hubungan romantis antara RI 1 dan 2 berawal dari realitas selama 5 tahun terakhir dilihat banyak kalangan merupakan hubungan yang kurang romantis. Sehingga banyak media atau pengamat menilai romantisme adalah sangat penting bagi sebuah pasangan, apalagi presiden dan wakil presiden. Media atau pengamat selalu menanyakan chemestry-nya bagaimana? Hingga muncul istilah lanjutan, bahwa partai tidak ingin terjadi kawin paksa antara capresnya dengan calon wakil presidennya.

Bila kembali pada saat deklarasi pasangan JK-Wiranto, bahasa komunikasi Wiranto memang cukup bagus hingga mampu menyembunyikan apa yang ada pada hati nuraninya. Beliau mampu membuat pernyataan segar dan terucap lancar hingga terlihat dasar romantisme masuk akal.

Bagi yang sudah berkeluarga, pastilah sudah merasakan ternyata yang berbunga-bunga sebelumnya ternyata hanya bertahan singkat. Setiap pasangan memang berbeda masa romantisnya hingga sampai dimana? Tapi kebanyakan hanya saat-saat awal saja yang benar-benar romantis. Tidak seperti yang mereka bayangkan sebelumnya, akan terus romantis hingga akhir hayatnya.

Romantisme akan berganti menjadi friksi-friksi kecil dan akan membesar bila tidak mampu menyelesaikannya. Apalagi bila perbedaan sebelumnya dianggap tidak penting, justru seharusnya faktor itu sangat berpengaruh. Dalam dunia remaja, kalau sudah cinta, tahi ayam bisa jadi rasa coklat, ini akibat dibutakan cinta / nafsu sesaat. Bila politisi, asal sesuai kepentingannya, maka perbedaan apapun dibilang ada kecocokan dan tumbuh romantisme antara keduannya.

Apa jadinya jika hanya berharap pada faktor romantisme saja? Awal bolehlah ada nilai positifnya, tapi ke depan tentu tidak. Romantisme memang muncul dalam kehidupan tapi hanyalah sesaat sebagai rasa manisnya menjalani kehidupan. Justru sebagian besar dipenuhi oleh kerja keras serta kesabaran dalam menjalani kehidupan. Sikap positif semua itu didasari oleh keyakinan agama dan kekokohan ideologinya. Bila lurus agama dan ideologinya maka siapapun akan berjuang tulus ikhlas tanpa kepentingan lain.

Kenyataanya, baik JK atau Wiranto berasal dari partai yag sama, berikutnya jadi persaingan antara keduanya di pemilu sebelumnya. Kini dalam waktu yang berbeda; JK dari pemerintah dan Wiranto dari oposisi berusaha membuat kombinasi ideal. Bila sebelumnya bersaing dalam partai yang sama, tak puas hanya disitu Wiranto pun meninggalkan Golkar, dan membuat partai Hanura. Sehingga mengantarkan suatu kenyataan bahwa kepentingan pragmatislah yang menyatukannya, bukan karena yang lain. Sebagaimana diketahui JK sulit menemukan pasangan, sedangkan Wiranto sangat butuh angka agar bisa maju baik RI 1 atau 2. JK menyelamatkan muka sedangkan Wiranto asal maju saja.

Ini juga menjadi dasar menilai pada pasangan berikutnya. Bila hanya pada romantisme belaka, maka cepat atau lambat akan terjadi sebuah tragedi dan akan terus terulang. Sebagaimana pasangan selebrity yang hanya berdasarkan romantisme belaka, saat romantisme telah habis/hilang, putuslah hubungan pacar atau pernikahan.

Apakah rakyat melihat ini seperti sinetron atau film yang selalu memenangkan romantisme?. Atau belajar dari pengalaman hidupnya, bahwa romantisme hanyalah awal dari sebuah perjalanan panjang sepasang manusia yang kelanjutannya tak hanya ditentukan romantisme saja. Tetapi pada kekuatan agama dan ideologi serta bekal ilmu dan pengalaman.

Saatnya rakyat tidak tertipu lagi, bila berpasangnya hanya karena romantisme belaka bukan berdasarkan agama maupun ideologi, maka akan putus juga. Tidak ada ikatan yang paling kuat di dunia ini selain ikatan agama dan ideologi. Sehingga selain itu pasti sangan besar kemungkinannya putus dan berubah haluan hingga seratus delapan puluh derajat. Akibatnya rakyat juga yang menanggung beban berat kehidupan ini. Bila demikian akan kah kita mau tertipu pada romantisme belaka? tentu tidak!.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s