Koalisi Gado-Gado

Bila dalam masyarakat jawa dikenal makanan campuran dari berbagai bahan dan disirami sambal maka itulah yang disebut gado-gado. Realitas makanan tersebut tidak jauh berbeda dengan koalisi yang kian ramai diberitakan media selama ini. Banyak partai yang karena alasan koalisi mengusung capres-cawapres, partai rela menjadi bagian dari gado-gado koalisi negeri ini. Dikatakan koalisi gado-gado karena banyak partai dari berbagai macam ideologi, platform, agama serta basis massa yang berbeda namun berada dalam mangkuk koalisi.
Koalisi gado-gado sebagai bentuk coba-coba yang nanti diharapkan menghasilkan sebuah perpaduan yang tepat, layaknya gado-gado. Walaupun campuran dari berbagai bahan yang berbeda namun membentuk perpaduan yang tepat. Bedanya bila makanan tentu enak, asal tidak ada barang yang kotor dan haram. Sedangkan bila politik maka ada kompromi yang jelas-jelas membelokkan idealisme menjadi pragmatisme. Enaknya sesaat, tapi gerakan politik akan semakin jauh dari tujuan semula. Begitu juga tujuan Negara ini, akan semakin mustahil terwujud karena koalisi gado-gado.
Mencermati koalisi tersebut, kita bisa mengetahui siapa yang bodoh, atau siapa yang plin-plan kalau bukan para elit politik. Berbagai pertemuan ataupun manuver serta pernyataan-pernyataan politik justru menunjukkan watak asli elit politik dan partainya. Bila sekarang ke blok biru, besok ke blok merah, bila sepakat mencalonkan sendiri atau balik kucing. Bila sekarang dalam koalisi lama, ternyata ambisius menendang anggota koalisinya agar punya peluang mendampingkan cawapres pada capres partai pemenang pemilu.
Tak hanya itu, internal partai juga bergejolak saling mendesak, satu pihak mendorong berkoalisi dengan partai lain dan pimpinannya justru akrab dengan partai lainnya. Majelis pertimbangan dan Pembina partai pun seolah-olah ambil alih arah koalisi partai dengan membuat forum serta keputusan berbeda.
Fakta koalisi gado-gado mengokohkan asumsi bahwa koalisi hanya didasarkan pada kepentingan sesaat elit atau partai saja. Mereka lupa akan janji-janji pada rakyat saat kampanye. Rakyat sudah terlupakan, kini waktunya bagi mereka menentukan nasib sendiri-sendiri. Ada yang gila jabatan dan berharap modal politiknya kembali dengan koalisi yang diperkirakannya akan memenangkan pilpres. Ada yang terus mengaduk-ngaduk masalah hingga mereka melihat kemungkinan akan memenangkan pilpres nanti.
Rakyat ternyata hanya sebatas objek sekaligus korban politik. Masihkan kita berharap perubahan dari elit dan partai poltik seperti di atas yang hanya mementingkan nasib mereka sendiri.
Seharusnya rakyat hanya mengharapkan pada politisi dan partai yang benar-benar akan membawa perubahan yang arah yang jelas dan lebih baik. Mereka tidak tergiur sama sekali koalisi yang hanya kepentingan sesaat, mereka mengupayakan se-ideal mungkin, sesempurna mungkin sesuai garis perjuangannya. Karakter inilah seharusnya ada pada partai-partai Islam, yang bukan hanya cari untung sesaat. Tetapi sesempurna mungkin memperjuangkan aspirasi umat Islam sesuai garis perjuangan yang ditetapkan syariat Islam.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s