Konflik Kepentingan Elit Politik

Mencermati peristiwa politik akhir-akhir ini cukup membuat hati kita prihatin. Hampir setiap waktu, kita diberondong informasi politik yang panas. Para elit politik sibuk membuat pernyataan dan bermanuver politik yang mulai kelihat hasilnya tidak menguntungkan mereka. Mereka menilai banyak kecurangan selama proses pemilu, bahkan ada yang menyatakan kecurangannya sistemik. Maka sebagian besar peserta pemilu mulai berani mengancam menolak hasil pemilu serta mengganti semua anggota KPU sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah terhadap rakyat.
Bila kita cermati sesungguhnya para elit yang puas dengan hasil pemilu berhadapan dengan mereka yang kalah karena merasa dicurangi. Konflik ini bukan hanya karena DPT, tetapi sebab utama karena kekalahan mereka yang cukup jauh. Apa yang terjadi bila mereka menjadi pemenang? Apakah akan bersikap sama seperti saat ini? Jawabannya tentu tidak.
Atas nama membela hak konstitusi rakyat, mereka lantang menyuarakan kepentingan rakyat. Padahal banyak dari rakyat yang apatis terhadap proses demokrasi yang justru merusak kehidupannya. Buktinya rakyat hanya mau memilih jika mereka di berikan sesuatu, bahkan banyak rakyat yang hanya menerima pemberian namun tidak memilihnya. Itulah cobaan awal politisi baru yang kini sudah banyak yang stress, berprilaku anti sosial bahkan bunuh diri.
Demokrasi memang akan membuat konflik terus terjadi, karena tidak ada standar kebenaran yang pasti. Semua berdasarkan realitas yang kecil dan dijadikan argumentasi dasar konflik terjadi. Suara rakyat sesungguhnya tidak ada, yang ada suara elit politik yang didukung media dan kapitalis yang syarat kepentingan. Realitas Kecil jadi besar dan besar jadi kecil. Yang benar jadi salah, sebaliknya yang salah jadi benar.
Sebenarnya semakin gencar media menyuarakan kecurangan atau konflik, masyarakat semakin muak akan politik negeri ini. Karena rakyat kian menjadi korban konflik yang terjadi. Akibatnya pemilu berikutnya pasti banyak masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya sebagai protes terhadap elit politik.
Fakta pemilu kali ini yang aburadul adalah bukti yang paling nyata bahwa sebagian besar para elit dan caleg hanya memperjuangkan kepentingannya sendiri bukan untuk rakyat. Kedua, bahwa demokrasi sebagai sistem pemerintahan telah memberikan peluang yang sangat besar terjadinya konflik yang terus berulang dan semakin besar. Ketiga, menjadikan permasalahan hidup rakyat hanya jadi alasan perjuangan namun tidak jadi target perjuangan untuk merubahnya menjadi baik. Keempat, kenyataannya hingga kini tidak ada kesejahteraan yang dihasilkan demokrasi. Karena demokrasi bagi Negara dunia ketiga adalah bagian dari stategi penjajahan gaya baru.
Bila demikian apakah kita masih percaya demokrasi, untuk memperbaiki kehidupan kita? Padahal berbagai peringatan Allah telah kita rasakan, apakah kita tidak ada keingingan kembali kepada Allah dengan menerapkan hukum Allah sebagai aturan hidup kita?. Bila tidak, konflik akan terus terjadi, bencana semakin besar dan kehidupan kita selalu dalam kesempitan.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s