Yang Berjaya dan Yang Tumbang

Akhirnya hasil pemilu legislatif diketahui walaupun hanya lewat quick count dari berbagai lembaga penelitian. Hampir semuanya memberikan kemungkinan 10 partai yang memperoleh hasil terbesar dan semuanya juga sama, kecuali yang memiliki selisih 1-2 % mengalami perbedaan.
Dari 44 partai peserta pemilu, hanya 9 atau 10 partai yang nanti lolos parlementary threshold. Hanya sembilan partai akan memperoleh kursi di DPR, sedangkan yang lainnya tidak. Dari sini kita bisa melihat siapa yang mendapat simpati rakyat dan yang tidak, atau yang berjaya dan yang tumbang.
Partai-partai yang berjaya sebenarnya sudah bisa ditebak sejak awal, baik partai lama maupun partai baru. Dari berbagai analisa yang ada, minimal ada 2 faktor dari partai yang berjaya; 1. memiliki figuritas yang jelas dan populis, 2. mesin partai yang handal dan mampu mempresentasikan citra serta kualitas partai.
Partai-partai yang tumbang, dalam arti tidak masuk parlementary threshold 2,5% dari perolehan suara pemilih. Tentunya dari 2 faktor di atas, partai-partai tersebut tidak mempunyai baik figur atau mesin partai yang handal. Sehingga partai tidak dapat simpati dan kepercayaan rakyat.
Adapun fenomena golput tetap menjadi pemenangnya, bila pemilu 2004 mencapai 35% maka kini semakin besar lebih dari 40% dari jumlah pemilih.
Ada beberapa hal yang perlu kita tekankan lagi, tentang pendirian partai serta yang diperjuangkannya. Mengamati banyaknya partai yang bermunculan sejak reformasi sebanyak 48 partai pada pemilu 1999 dan tahun 2004 menjadi 24 partai karena tidak lolos electoral threshold. Pemilu 2009 kembali dimeriahkan 44 partai nasional dan 4 partai lokal Aceh. Banyak orang menilai bahwa partai-partai yang ada hanyalah berbekal nafsu politik saja, tanpa konsep yang jelas. Partai-partai yang tidak lolos electoral threshold 2004 berganti baju dengan partai baru, jadilah peserta pemilu 2009.
Penilaian itu tentunya perlu pembuktian, realitasnya memang begitu, orang-orangnya sama namun nama partainya baru. Padahal sejak awal partai-partai ‘gurem’ tidak memiliki ideologi yang jelas, apalagi metode, strategi ataupun konsep perjuangan. Tidak ada mekanisme kaderisasi berdasarkan ideologi dan pemikiran-pemikiran partai serta gerakan yang berkelanjutan dalam mewujudkan tujuan partai. Apalagi mereka tidak dapat menawarkan sebuah sistem yang terbaik untuk membawa bangsa ini menjadi Negara impian manusia, negeri yang adil dan makmur.
Partai-partai baru seperti partai instant, asal bisa menunjukkan keberadaan secara administratif dan perwakilan di daerah, mereka bermimpi dapat simpati masyarakat luas dan memenangkan pemilu. Bila demikian sesungguhnya mereka hanya menghendaki kekuasaan dan yang menyertainya saja bukan menyejahterakan rakyat. Lihatlah banyak partai dan caleg yang menghalalkan segala cara agar bisa meraih suara, padahal cara itu akan menjadikan kehidupannya jadi hina.
Sedangkan partai pemenang pemilu bukanlan jaminan akan mensejahterakan rakyat. Karena pilihan rakyat bukanlah jaminan kepedulian terhadap rakyat apalagi jaminan kebenaran. Apa artinya jika kepedulian hanya saat kampanye saja, tetapi selama masa jabatannya tidak benar-benar memperjuangkan nasib rakyat. Justru diyakini banyak orang, bahwa para anggota dewan lebih mengutamakan mengembalikan modal politiknya, dan akan kembali peduli saat kampenye pemilu berikutnya.
Bila kita mau belajar dari sejarah, orang-orang yang sukses memenangkan pemilu atau pergantian kekuasaan kebanyakan disanjung saat awal dan dihujat diakhirnya. Mengapa bisa demikian? Karena siapapun dan cara apapun yang tidak sesuai dengan aturan Allah hanyalah membawa kesuksesan yang semu belaka, tidak lebih dari itu. Dalam waktu yang dekat kesemuan itu akan terungkap dan rakyat akan berpaling mencari sesuatu yang lain. Kehinaan akan ditimpahkan kepada penguasa sebelumnya.
Kita akan menyaksikan runtuhnya sebuah kekuasaan tersebut dengan cepat. Tidak sampai satu generasi, pasti akan hancur sendiri. Begitu juga kita akan menyaksikan partai-partai Islam yang tertipu dengan trend “arus tengah” dengan wajah yang sangat malu, baik kepada mantan kader-kadernya yang konsisten memperjuangkan Islam maupun kepada umat Islam secara keseluruhan. Allah telah berjanji akan memenangkan “Partai Allah” yang konsisten terhadap perjuangannya atas semua partai.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s