Perubahan Apa Setelah Pemilu?

Logika sederhana menyatakan; pemilu merupakan penentu perubahan masa depan kehidupan berbangsa dan bernegara. Perubahan ditentukan dalam 5 menit, untuk kondisi selama 5 tahun ke depan, sebagaimana lagu band Cokelat.

Dalam filsafat Hiraklius, “tidak ada yang tetap kecuali perubahan”, yang berarti dalam kehidupan ini selalu terjadi perubahan dari satu kondisi ke kondisi lain, dari peristiwa satu ke peristiwa lain. Namun, harapan manusia perubahan yang diharapkan adalah perubahan yang semakin baik dan sejahtera. Untuk sampai pada perubahan yang lebih baik, bukan hanya mementingkan perubahan saja, tetapi kualitas usaha terbaik juga harus ada. Karena bagaimanapun perubahan itu akan terjadi, maka manusia harus berupaya menjadikan perubahan itu ke kondisi lebih baik, bukan sebaliknya.

Kini pertanyaan untuk pemilu, perubahan apa yang terjadi setelah pemilu nanti? Untuk bisa menjawab, ada beberapa fakta dan kondisi kekinian yang perlu diamati dan difahami secara cermat. Apa jadinya bila ingin berubah, ternyata justru hanya untuk coba-coba tanpa dasar pengetahuan dan pengalaman.

Siapapun bisa melihat, bagaimana kualitas para calon anggota dewan. Banyak pihak menilai kualitas caleg saat ini sangat rendah. Mulai pemulung, pengamen, tukang cukur, tukang pijat, bandar judi, maling, pria hidung belang, artis, pelawak, mahasiswa yang baru lulus dan pengangguran. Jumlahnya sangat banyak dan jauh melebihi kursi legislatif yang tersedia.

Kondisi ini, bisa terjadi karena masyarakat jenuh terhadap para wakil rakyat yang ternyata tidak mewakili aspirasinya, justru pengkhianatan terhadap amanahnya. Rakyat tidak mau ditipu lagi, sehingga mencoba memilih orang-orang yang baru, apapun latar belakangnya. Dan yang memilih golput juga banyak, bahkan menang di beberapa pilkada. Sikap rakyat ini merupakan pelarian dari kekecewaan dan kejenuhan politik di negeri ini yang tidak menunjukkan perubahan yang lebih baik dalam kehidupan rakyat.

Kondisi ini, bukan saja karena semangat perubahan rakyat, tetapi para elit yang merasa reformis mendobrak aturan perundang-undangan atas dasar kesamaan hak dipilih, tanpa syarat kualitas, justru sebaliknya berdasarkan perolehan suara terbanyak.

Apalagi partai-partai yang ada di negeri ini juga tidak memiliki konsep yang satu dan difahami seluruh kader partai. Sehingga seringkali kita temukan loncatan kader partai ke partai lain dengan sangat mudah. Lebih parah lagi, partai-partai baru yang sangat mudah merekrut para pengurus baik pusat hingga daerah ataupun calon legislatifnya tanpa proses kaderisasi. Dalam berbagai uji kandidat atau debat calon legislatif, terlihat kapabilitasnya yang sangat rendah. Membedakan tugas legislatif, eksekutif dan yudikatif tidak bisa, apalagi nanti bila jadi diharapkan membaca dan mendalami draft rancangan undang-undang yang cukup tebal dan rumit.

Seringkali saat kampanye mereka menjanjikan kepada rakyat dengan janji-janji yang berasal dari dirinya dan tidak berkaitan dengan program partai. Bila demikian, janji-janji tersebut tidak akan bisa terwujud, karena janji-janji tersebut tanpa strategi maupun program mewujudkannya.

Melihat kondisi ini, berbagai pihak merasa perlu mengkampanyekan memilih wakil rakyat yang berkualitas. Usaha ini tentu hanya sesaat, bila pemilu berikutnya akan kembali lagi, karena undang-undang pemilu memberikan kesempatan siapa saja untuk maju.

Ada perdebatan yang sesungguhnya mulai muncul, ternyata bukan hanya ganti pemimpin tetapi ganti sistem, agar perubahan setelah pemilu lebih nyata. Bangsa ini sudah lama merdeka, namun tetap saja merana dengan berganti-ganti pemimpin. Bila perubahan tergantung pada pemimpin, maka perubahan itu hanya sementara dan sangat kecil perubahan yang dihasilkan. Dalam wawancara politik, Probowo berpendapat perubahan tak hanya perubahan orang, tetapi perubahan sistem yang pro rakyat dan menjadikan Negara mandiri. Tidak ada campur tangan asing dalam pemerintahan atau pengelolaan sumber daya alam yang sangat melimpah.

Sayang bila Prabowo mengusung ideologi kiri, padahal karakter kiri hanya mampu bangkit sebentar dan tak mampu bertahan lama sebagaimana Negara-negara kiri sebelumnya. Sejarah mencatat imperium terakhir yang mewarnai dunia, terbesar dan terlama masa keemasannya adalah imperium Islam. Sehingga tiada pilihan selain Islam, bila ingin berubah menjadi yang bangsa terbesar menggantikan kapitalisme.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s