Rame-Rame Klaim Media Pemilu

Sejak kemunculannya, media massa telah memperoleh tempat yang spesial dalam dunia politik. Media bukan saja untuk menyebarkan informasi tetapi terkandung muatan atau motif untuk mempengaruhi siapa saja yang mengkonsumsi media. Atas muatan tersebutlah, media menjadi senjata paling umum dalam dunia politik untuk mempengaruhi dan menguasai khalayak yang menjadi target politiknya.

Kapitalisasi media kian terasa jelas, setiap momentum dilihat sebagai uang dan uang, tak terkecuali moment pemilu. Sejak UU pemilu ditetapkan dan mengharuskan dilaksanakan secara langsung, baik pemilihan presiden dan kepala daerah. UU pemilu yang baru justru menetapkan calon anggota legislatif berdasarkan perolehan suara terbanyak, secara otomatis akan meningkatkan persaingan antar caleg walaupun dalam satu partai. Persaingan ini secara otomatis juga menjadikan media massa sebagai cara jitu mengenalkan partai baru maupun para caleg dan capresnya.

Momentum pilkada yang terjadi di setiap penjuru Indonesia dan pemilu legislatif maupun presiden selalu memanfaatkan media massa. Karena waktu pelaksanaan pilkada yang tidak bersamaan, maka setiap hari, minggu dan bulan masyarakat pasti mendapati pesan iklan politik.

Kini, moment kampanye politik begitu besar memberikan tumpuan pada media agar pesan-pesan politiknya dapat tersebar hingga ke pelosok negeri. Walaupun dikatakan sebagai cara paling murah, beriklan di media tetap membutuhkan dana yang besar hingga ratusan milyar bahkan triliunan. Riset Nielsen menunjukkan dana iklan politik tahun 2008 mencapai Rp. 2,208 triliun, meningkat 66% dari tahun 2007 yang mencapai Rp. 1,327 triliun. Angka tersebut belum termasuk iklan di radio, internet dan di luar ruangan. Di tahun 2009, akan jauh lebih besar karena kampanye terbuka pemilu legislatif dan pemilu presiden terjadi di tahun ini.

Melihat potensi yang sangat besar ini, media berlomba-lomba menyatakan dirinya sebagai media pemilu. Hampir seluruh media memberikan kolom dan program khusus pemilu. Dengan begitu, elit politik dan partai-partai tertarik beriklan di media massa. Sejak masa kampanye digelar, media massa baik elektronik maupun cetak hingga internet selalu terdapat pesan-pesan politik.

Tentu ada nilai positif dan negatifnya. Positifnya, rakyat kian tahu banyak hal tentang dunia politik, faktor-faktor yang mempengaruhi dan hitam-putihnya politik. Rakyat juga semakin “melek” politik hingga sulit dikelabui oleh pesan-pesan politik murahan. Negatifnya masyarakat semakin jenuh akan dunia politik yang didominasi oleh politikus busuk, hingga terjadi sikap tidak mau tahu dunia politik.

Efek negatif yang lebih parah, bila media dan rezim politik memilih satu warna dan menutup ruang publik dalam melakukan diskusi kebenaran. Konspirasi memenangkan wacana dalam public spare adalah salah satu target politik dari rezim yang berkuasa. Lihatlah ada TV yang mengklaim referensi pemilu justru menjadi media kampanye pemiliknya. Dan masih banyak media yang suka meliput elit dan partai tertentu daripada yang lain. Ada juga yang selalu meliput “baik”nya saja dari elit atau partai tertentu dan sebaliknya sering meliput “buruk”nya elit dan partai yang lain.

Kini saatnya media massa diuji independensinya serta pro rakyat. Maka media massa apapun harus semakin memberikan kesempatan khalayak untuk berinteraksi secara dua arah. Sedangkan yang sudah berjalan, juga diharapkan semakin lebar memberikan kesempatan khalayak memberikan pandangan atau liputan independent. Sudah saatnya media massa, menjadi bagian dari masyarakat untuk menyuarakan apapun pandangannya dan mereka saling menanggapi. Rakyat akan terbiasa berdiskusi dalam mencari kebenaran dan solusi dalam setiap permasalahan. Akhirnya, rakyat merasa terpanggil memberikan suaranya dalam memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara secara bersama-sama.

http://public.kompasiana.com/2009/04/04/rame-rame-klaim-media-pemilu/

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s