Masih Perlukah Pejabat Cuti Kampanye?

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 14 Tahun 2009, disebutkan bahwa pejabat negara harus cuti atau nonaktif jika terlibat dalam kampanye. Tata cara pengajuan cuti ini, dilakukan secara berjenjang. Untuk pejabat setingkat menteri, harus mengajukan cuti kepada presiden. Untuk gubernur, izinnya harus kepada presiden melalui Mendagri. Sedangkan untuk bupati/walikota, pengajuan izin kepada Mendagri melalui gubernur. Khusus bagi presiden, mengajukan cuti kepada Sekretaris Negara, waktu pengajuan cuti harus dilakukan maksimal 7 hari sebelum masa kampanye. Sedangkan izin yang diberikan khusus untuk presiden, 1 hari kerja setiap minggu. Khusus untuk hari libur, presiden atau wakil presiden bebas melakukan kampanye, namun tidak boleh berbarengan.

Dalam PP ini juga ditegaskan beberapa aturan yang tidak boleh dilanggar. Para pejabat negara tidak boleh menggunakan fasilitas negara, mengerahkan staf-staf di bawah departemennya, serta menggunakan dana fasilitas BUMN atau BUMD.

Faktanya, kini secara bergantian presiden dan wakil presiden cuti, sekitar 16 menteri cuti, banyak para pemimpin daerah cuti dan anggota dewan yang mencalonkan lagi juga banyak yang cuti. Konsekuensi cuti berarti, amanah yang telah diperebutkan sebelumnya ditinggalkan begitu saja hanya karena mereka ingin mempertahankannya. Hingga kini, tidak ada laporan dan pengakuan yang menyebutkan bangsa ini sudah makmur, sejahtera dan rakyatnya bisa mandiri, sehingga membolehkan para pejabatnya meninggalkan “pos”nya untuk cuti, apapun alasannya itu. Justru kondisi bangsa yang selalu merana karena prilaku pejabatnya yang sangat ringan dalam memandang amanah. Begitu juga kondisi dewan yang reses mulai beberapa minggu lalu dan akan aktif lagi bila setelah pemilu, padahal masih terlalu banyak agenda yang belum terselesaikan. Citra dewan sudah begitu buruk, ditambah cuti kampanye ini akan semakin buruk.

Tahun-tahun terakhir dari masa jabatan pemerintahan atau anggota dewan, lebih menonjol manuver politiknya daripada tugas-tugas kenegaraan. Bukan saja manuver tersebut terekam media, tapi tampak secara kasat mata, para pejabat berusaha memanfaatkan masa akhir untuk mempertahankan jabatannya. Kondisi ini akan memperjelas, jika para pejabat pemerintah dan anggota dewan yang terpilih bukanlah pejabat pemerintahan sebuah negara tetapi agen partai yang mencari dan memenuhi kepentingannya. Buktinya rakyat selalu jadi alasan politik untuk disejahterakan namun mulai merdeka hingga kini, rakyat tetaplah jauh dari kreteria sejahtera.

Hingga kini, masih belum bisa dipahami lebih penting mana Negara atau partaikah bagi elit politik? Kalau lebih penting partai, lebih baik Negara ini dibubarkan dan masing-masing propinsi dibagikan ke setiap partai. Biar tidak ada alasan cuti karena agenda partai atau kampanye. Sehingga seluruh jajaran pemerintahannya bekerja keras, kalau bisa mati-matian agar Negara dan rakyat ini maju dan sejahtera. Bila kita berkali-kali didoktrin harus melanjutkan perjuangan para pahlawan yang mati-matian memerdekakan bangsa ini, seharusnya pejabat pemerintah melakukan yang sama, mati-matian memajukan bangsa bukan sebaliknya.

Seharusnya ada menghimbau kepada rakyat jangan sampai para pejabat pemeintahan atau anggota dewan yang cuti karena kampanye, dipilih lagi untuk periode selanjutnya. Bukan saja karena mereka tidak amanah tetapi tidak bisa memprioritaskan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi maupun kepentingan partai. Jelas kondisi ini akan menjadikan Negara hanya jadi ajang perebutan kepentingan elit politik dan partainya, bukan untuk mensejahterakan rakyat. Bila demikian masih perlukah cuti bagi pejabat karena alasan kampanye yang sangat sepele itu?

http://public.kompasiana.com/2009/03/18/masih-perlukah-pejabat-cuti-kampanye/

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s