Bermanuver, Bingung Sendiri

Mengikuti berita politik, khususnya upaya menjalin koalisi antar partai cukup membingungkan. Bukan saja rakyat yang bingung tetapi para pengamat bahkan boleh jadi elit politik sendiri juga bingung. Manuver ‘pendahuluan’ koalisi mulai intensif dilakukan elit politik dan terekam kamera media, menjadikan manuver tersebut tersebar hingga ke pelosok negeri. Apalagi memang saat ini waktunya suhu politik mulai naik, baik elit politik dan media merancang program yang menarik rakyat. Dalam naiknya suhu politik, boleh jadi memang elit politik dan media saling bersimbiosis, elit politik ingin setiap kegiatannya diketahui oleh siapa saja, sedangkan media ingin acaranya pada saat yang tepat mendapat perhatian rakyat karena menyampaikan peristiwa politik terkini. Kunjungan, silaturahmi, pertemuan atau makan bersama antara elit politik yang kian sering terjadi, wartawan pun sering mempertanyakan, “apakah akan terjadi koalisi antar partai yang bertemu?” jawabnya selalu diplomatis, “kepastiannya menunggu hasil pemilu legislatif”. Ketika Jusuf Kalla dan rombongan DPP Golkar berkunjung ke kantor DPP PKS, atau rombongan DPP Demokrat ke kantor DPP PKS. Tak mau ketinggalan DPP PPP berkunjung ke DPP Golkar dan partai-partai baru berkumpul untuk membuat blok perubahan. Di lain tempat Megawati justru bertemu Jusuf Kalla dan membuat kesepakatan tertulis, namun saat ditanya apakah akan berkoalisi? Jawabnya sama, lihat pemilu legislatif dulu. Kondisi para elit politik yang “harap-harap cemas” menanti hasil pemilu legislatif dan model koalisi yang bagaimana akan terbentuk?. Apalagi hubungan Partai Demokrat dan Golkar kian jauh, sedangkan partai-partai menengah dan oposisi mencoba mencari peluang lebih besar. Hampir setiap partai besar sudah dan akan saling menjajaki koalisi, walaupun tampak malu-malu dan jual mahal. Manufer elit politik ini cukup membingungkan sebagian rakyat, apalagi para pengamat politik membuat perkiraan berbeda atas berbagai kemungkinan koalisi antar partai. Tidak ada kepastian hingga sekarang walaupun PDIP dan Golkar membuat kesepakatan tertulis. Realitas di bawah, rakyat telah menentukan mendukung partai A, dan muak terhadap partai B, tetapi ternyata ditingkat elit justru ada penjajakan koalisi antar dua partai tersebut. Kepercayaan rakyat kepada partai terabaikan karena kepentingan koalisi dan kesekian kalinya rakyat dikecewakan. Anehnya iklan kampanye justru tidak jelas dan dikaburkan dengan pesan-pesan yang tak bermutu. Dalam koalisi memang tidak ada rumus yang selalu sama, tapi formula umum dalam politik menyatakan “tidak ada kawan atau lawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi”. Berkelit dan menjilat ludah sendiri sering mewarnai pernyataan-pernyataan elit politik. Tak sedikit juga partai justru balik kucing kepada koalisi dengan partai sebelumnya. Bila elit politik lebih banyak bermanufer seperti ini, rakyat akan melihat ketidakjelasan identitas, karakter dan sikap yang sesuai dengan ideologi atau asas partai. Apalagi nilai-nilai yang diperjuangkan kian dikaburkan dengan koalisi yang tidak jelas juntrungnya. Semakin sulit mencari partai yang konsisten pada asas dan garis perjuangannya. Boleh jadi negeri ini sulit maju karena partai-partai dan elit politik tidak konsisten dalam perjuangannya, selalu berubah haluan mengikuti kepentingan koalisi sesaat. http://public.kompasiana.com/2009/03/16/bermanuver-bingung-sendiri/

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s