Pesta (Topeng) Demokrasi

Tiada moment paling ditunggu dan menentukan bagi partai peserta pemilu dan para caleg selain pesta demokrasi. Dalam pesta yang menghabiskan banyak uang namun sebagaimana sifat pesta hanya untuk kesenangan sesaat.
Pesta bagi-bagi stiker, kaos, sembako, uang serta janji-janji yang diiringin dengan aneka musik dan goyangan. Rakyat dihibur oleh banyak partai yang bergantian menampilkan berbagai badut dan artis simpatisan.
Bagi rakyat pesta demokrasi saatnya koleksi kaos dan anggukan atau geleng-geleng kepala khas tanpa arti. Tak jauh berbeda dengan perilaku politisi maupun para caleg yang menganggap sebagian besar massa mengambang, sehingga siapapun orangnya, apapun latar belakangnya dan dimanapun tempatnya mesti dapat mereka ajak memilih partai dan namanya. Apapun caranya mereka lakukan, mulai dari jaringan keluarga, kolega, anak buah hingga yang kini marak poster jalan dan nampang di dunia maya. Mereka berusaha sedemikian hingga menjadi yang paling depan dalam membantu korban bencana atau paling dermawan, membuka pintu selebar-lebarnya dan selalu obral senyum. Namun itu hanya sesaat, bila pesta sudah berakhir sudah kembali ke asalnya yang tidak peduli terhadap permasalahan rakyat.
Berbagai aktivitas dalam pesta demokrasi tidak lain adalah pesta “topeng” yang sangat nyata. Pesta dimana saat itu wajah para politisi yang sesungguhnya sebagai topeng untuk mengelabuhi rakyat dengan janji-janji yang tidak dapat diperjuangkan apalagi diwujudkan. Begitu indah slogan dan kata-katanya dalam kaos, stiker, poster dan lain sebagainya. Namun sama saja bila itu hanya untuk menarik suara rakyat dan rakyat kembali kecewa bila sang politisi telah menduduki jabatan.
Seharusnya rakyat juga memahami bahwa para caleg maupun politisi seharusnya hanya dari para tokoh-tokoh masyarakat setempat yang banyak dikenal dan dipercaya. Mereka adalah tempat masyarakat mengadukan masalah dan memperoleh solusinya. Tokoh yang selalu hadir dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan mulai kerja bakti bersih-bersih jalan hingga ikut melayat bila ada warga yang meninggal. Bukan orang yang tidak dikenal atau anak kemarin sore yang tidak pernah berkecimpung dalam masalah kemasyarakatan dan politik. Yang mereka andalkan hanya modal “dana” politik besar untuk kampaye dan popularitas ala artis.
Masa depan apa yang diberikan para caleg atau politisi yang memisahkan diri dari masyarakat, yang tidak tahu kondisi riil masyarakat, yang tidak pernah mendengar aspirasi dari rakyat. Mereka maju sebagai politisi hanya untuk kehidupannya sendiri dan partainnya, bukan untuk rakyat.
Tak salah kiranya, banyak sindiran kalau para caleg dan politisi yang terjun dalam kampanye adalah mereka mencari kerja atau berbisnis. Mereka sudah menghitung biaya kampanye dan lain sebagainya untuk jadi anggota dewan atau pejabat, sekaligus bila nanti sudah jadi. Berapa yang diterima perbulan maupun selama masa jabatannya tersebut, mereka sudah mengetahuinya. Sebagai pebisnis atau “broker” politik tulen, mereka tentu tidak mau rugi.
Bila dalam logikanya, semakin banyak yang memikirkan dan mengusahakan kepentingan rakyat tentunya rakyat dari dulu sudah sejahtera, tapi ternyata tidak terjadi. Justru semakin banyak justru ingin mendapatkan sekedar panggilan, jabatan, harta serta yang menyertainya (kemudahan-kemudahan birokrasi) dan tak jarang banyak tindak asusila (wanita). Ini berarti mereka merampas hak-hak rakyat atas nama rakyat.
Bila demikian seharusnya rakyat memahami betul siapa yang mencalonkan diri dari wilayahnya. Siapa dia? Sejak kapan dia tinggal bersama? Seberapa aktif mereka dalam kegiatan kemasyarakatan? Seberapa kuat pengaruh dia dalam masyarakat?. Bila tidak kenal, tidak pernah bersama rakyat dan tidak terpercaya atau berpengaruh maka tidak usah dipilih.
Tidak perlu memilih topeng wajah yang telah di make up desainer grafis dengan teknologi komputer, yang awalnya hitam jadi putih, yang wajahnya banyak lubang jadi mulus, yang tak biasa berekspresi jadi berseri-seri, yang tua jadi muda atau sebaliknya yang baru lulus kemarin jadi berwibawa.
Wajah mereka telah jadi topeng yang sempurna untuk mengelabuhi rakyat. Bukankan ciri orang munafik (berwajah topeng) adalah apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia ingkar, dan apabila dipercaya dia berkhianat. Bila demikian, layakkah mereka semua dipilih?

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Satu tanggapan untuk “Pesta (Topeng) Demokrasi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s