Politik Coba-Coba Atau Main-Main?

Orang boleh tidak menyangka dunia politik Indonesia jadi sesuram ini bahkan di masa depannya. Alih-alih memberikan kebebasan pada setiap warga Negara dalam mencalonkan menjadi anggota dewan atau pejabat pemerintah justru menuai hasil yang bikin hati miris. Lihatlah siapa saja yang maju dalam pemilu mulai pilkada, legislatif atau presiden. Banyak dari mereka mencoba-coba mungkin mereka yang terpilih. Dengan asumsi, tidak ada yang tahu akan hasil dan yang ada dalam hati rakyat, semua maju barangkali akan terpilih. Sedangkan yang lain main-main karena banyak uang dan popularitas barangkali akan dipilih rakyat. Semuanya tanpa didukung oleh kemampuan, pengalaman yang mumpuni dan hanya mengandalkan aji mumpung. Inilah paradoks yang terjadi pada negeri ini yang ingin maju namun kualitas calon pemimpin yang maju justru berkualitas rendahan. Kran kebebasan tidaklah seiring dengan kualitas dan perbaikan yang diharapkan. Ini menunjukkan dasar dan modal sosial negeri ini sesungguhnya sudah rusak. Negeri ini tidak mampu mencetak SDM yang berkualitas dan menjadi pemimpin yang mampu mengantarkan bangsa ini maju. Pertanyaannya bukan hanya pada sistem pendidikan tapi juga seluruh sistem yang berjalan dalam masyarakat. Perkelahian antar siswi yang marak dan merata bukan hanya permasalahan di sekolah tapi juga permasalahan dalam keluarga, masyarakat bahkan budaya yang rendah. Sama dengan hal itu, ketidakmampuan sistem ini menjadi sandaran bagi semuanya baik dalam mencetak pemimpin dan mewujudkan kesejahteraan bangsa. Bila anggota dewan sebelumnya dipilih berdasarkan atas kualitas kader partai saja, hasilnya hingga kini wakil rakyat dicaci di sana-sini. Apalagi berdasarkan suara terbanyak yang membuka peluang siapa saja masuk dalam lembaga yang cukup tinggi namun tanpa pengetahuan dan pengalaman. Munculnya orang-orang baru yang sebelumnya tidak dikenal dalam dunia politik menyodok ke depan hanya berbekal uang dan popularitas di luar dunia politik. Apa yang bisa diharapkan dari proses coba-coba atau main-main tanpa pengetahuan, keahlian dan pengalaman yang benar? Seolah-olah kita berjalan tanpa rel yang jelas benar. Semua berdasarkan suara terbanyak yang tak berujung pada kebaikan. Bila banyak anggota dewan dan pejabat yang tidak bisa jujur, maka hasil undang-undang dan kebijakan pasti menyengsarakan. Tapi persoalannya bukan hanya jujur atau adil saja, persoalannya justru dalam rel apa bangsa ini berjalan. Kita masih ingat dulu ada kampanye jangan pilih politisi busuk! Tapi ada kelompok mahasiswa berdemo dengan poster “politisi busuk lahir dari sistem yang busuk” dan hampir di setiap media dimuat. Sayangnya sistem politik yang “baik” belum mendapat perhatian serius para elit politik. Justru mereka hanya ribut bagaimana memenangkan di berbagai pilkada dan persiapan pemilu. Muncul juga partai-partai yang cukup banyak yang sekarang bikin bingung KPU bahkan masyarakat. Pemilu tahun ini diklaim paling rumit dan paling mahal di dunia. Politik coba-coba atau main-main memang lahir dalam kondisi euforia reformasi yang justru tak tahu arah. Dan masa itulah hingga kini menunjukkan hasil sistem politik negeri ini yaitu politisi oportunis pragmatis. Dunia politik ini yang seharusnya diduduki politisi yang terhormat, memiliki pengetahuan dan integritas tinggi justru jatuh pada politisi oportunis pragmatis. Rakyat yang merasakan hasil kerja mereka, sejak lahir hingga mau mati pun kondisinya sama dalam kemiskinan dan ketidakberdayaan. Bukan hanya hidup ini memang sulit, tapi juga dipersulit oleh wakil rakyat dan pejabat yang busuk. Sehingga rakyat benar-benar tak berdaya, berbagai tragedi terjadi mulai dari anak-anak jalanan, gelandangan tambah banyak, meledaknya orang miskin di setiap antrian pembagian zakat, pembagian daging kurban, pembagian angpau hingga pengobatan batu petir ala Ponari memakan korban. Kini banyak orang menyesali kebebasan yang diberikan namun tak diikuti tanggungjawab. Inilah bukti bahwa sistem ini memang belum siap dijalankan dan sifatnya coba-coba. Praktek sistem coba-coba membuat orang juga tertarik coba-coba dan main-main dengan mengatasnamakan kebebasan. Praktek sistem politik macam ini harus dihentikan bila tidak ingin masa depan bangsa ini jadi hancur. Kini saatnya kita fokus pada pembangunan sistem politik yang baik dan benar!

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s