SMALL MEDIA FOR A BIG REVOLUTION

Kisah sukses Ayatullah Khomeini dalam menggulirkan revolusi Iran bisa menjadi pelajaran bagi umat Islam yang menuntut perubahan namun kalah dari segi media. Sebagimana yang dicatat Everett M. Rogers bahwa revolusi Iran tidak digerakkan oleh media massa (The Big Media), tetapi digerakkan oleh inter-personal and small media seperti kaset, foto copian yang disebarkan dari satu orang kepada orang lain. Ternyata small media Khomeini berhasil meruntuhkan kerajaan Pahlevi yang didukung oleh Amerika (Panuju, 2002).

Fakta yang sama juga disampaikan oleh Edward Said dalam bukunya Covering Islam, disebutkan dari laporan New York Times, 15 Desember 1979 di Taheran terdapat tiga ratus wartawan yang meliput disana, dan Col Allen pada tanggal 16 Desember 1979 melakukan reportase untuk The Australian menyatakan diantara tiga jaringan utama Amerika menghabiskan satu juta dolar per hari di Taheran. Kondisi yang hampir sama terjadi saat perang Irak, dimana jaringan global media Barat yang embedded pada pasukan militer Amerika ternyata “kalah” dengan media baru bernama al Jazeera.

Peristiwa kekalahan media global atas media yang lebih kecil berdasar pada runtuhnya kredibilitas media besar di mata masyarakat (Fidler, 2003). Oleh karena itu gerakan untuk meruntuhkan kredibilitas media global ini sangat mungkin, karena kini banyaknya ditemukan media baru yang bersifat interpersonal, interaktif dan dua arah sebagai konsekuensi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Untuk itu, momentum menguatnya tuntutan penerapan syariat Islam seharusnya juga dibarengi oleh kesiapan umat Islam dalam memanfaatkan peran setiap media. Bila tidak maka yang terjadi adalah terulangnya kekalahan pencitraan sehingga aspirasi umat tampak negatif dan perubahan yang dituntut umat tak kunjung direspon banyak pihak.

Media, Opini publik dan Perubahan

Hubungan media, opini publik dan perubahan, sangat erat. Media memiliki peran sentral dalam membentuk opini publik, yang berujung pada perubahan jika opini publik berbeda dengan realitas. Sehingga penguasaan media secara langsung maupun tidak langsung menjadi penting bila ingin mendominasi dalam penciptaan opini pubik dan mengendalikan perubahan.

Opini publik biasa digunakan untuk menyebut sesuatu yang menjadi pembicaraan khalayak atau sesuatu yang diinginkan dalam kehidupan mereka. Secara alami opini umum akan senantiasa muncul dan bisa terlihat dalam setiap aspek dan aktivitas manusia. Dengan demikian opini publik didefinisikan sebagai sekumpulan pandangan individu terhadap isu yang sama yang berhubungan dengan arah opini, pengukuran intensitas, stabilitas, dukungan informasional dan dukungan sosial (Cutlip, 2007).

Terbentuk opini publik didasari oleh adanya aktivitas komunikasi yang bertujuan untuk mempengaruhi pihak lain (persuasif). Namun dalam prosesnya tidak jarang menggunakan cara-cara penekanan (coersive), agitasi (provokasi) maupun ancaman-ancaman (intimidasi) (Panuju, 2002).

Sifat opini publik selalu berubah, dan perubahannya tergantung pada siapa saja yang terlibat dalam proses komunikasi. Selama ini proses komunikasi selalu didominasi media Barat anti syariat sehingga sangat wajar jika opini publik selalu dimenangkan barat. Untuk merubah kondisi ini, umat Islam harus mengimbangi dengan meningkatkan kemampuan untuk memproduksi pemikiran dan ilmu dalam perspektif Islam serta menyebarkannya ke masyarakat luas lewat berbagai saluran (channel/media) yang dapat digunakan (Purbo, 2003).

Oleh karena itu, beberapa langkah yang bisa dilakukan umat Islam baik oleh komunitas maupun induvidu dalam mempengaruhi opini publik. Kini langkah-langkahnya lebih bervarisi bila dibandingkan dengan small media ala Khomeini saat revolusi Iran, diantaranya;

1. Menggalakkan Media Komunitas

Sebagaimana diketahui bahwa kepercayaan terhadap isi berita sangat dipengaruhi oleh pengetahuan khalayak atas institusi penerbit berita. Pada umumnya media massa diproduksi oleh industri media yang memiliki orientasi mencari keuntungan. Mereka pada hakikatnya tidak melayani masyarakat yang memiliki hubungan pemikiran atau perasaan yang sama. Sedangkan berbeda dengan media komunitas yang secara riil memiliki basis massa juga memiliki kesamaan pemikiran dan perasaan. Oleh karena itu media komunitas lebih dipercaya daripada media massa umum.

Media komunitas akan dijadikan patokan bagi anggota komunitas untuk menilai pemberitaan media lain. Kondisi ini dapat dijadikan alat yang sangat tepat untuk meruntuhkan kredibilitas media global maupun nasional yang melawan aspirasi umat. Dengan selalu memberikan perspektif berbeda dan mengungkap fakta yang hilang dalam peliputan media besar akan media komunitas secara otomatis menggerogoti keperkasaan media global maupun nasional.

Upaya peningkatan kualitas maupun kuantitas media komunitas Islam harus terus digalakkan, mengingat besarnya populasi dan luasnya wilayah umat Islam. Bentuk media komunitas bisa berbentuk buletin, tabloid, majalah, jurnal maupun radio dan alangkah baiknya jika ada upaya mendirikan media televisi yang menyuarakan aspirasi umat ini.

Kekuatan pengaruh media komunitas akan bertambah besar karena didukung dan digerakkan oleh ribuan aktivis dakwah di lapangan. Dengan demikian akan lebih mudah menumbuhkan kepercayaan umat untuk menciptakan opini publik dan meruntuhkan kredibilitas media massa yang anti syariat.

2. Menawarkan kerjasama dengan media

Tidak semua media mampu mengisi kolom-kolom maupun waktu siarannya sendiri, maka akan ada kesempatan yang besar bagi pihak luar bekerjasama dalam mengisi ruang/waktu kosong media. Pada umumnya media akan melihat tujuan acara dan kemampuannya untuk menjaring khalayak dan iklan yang biasanya dinilai dengan rating.

Realitasnya banyak media umum yang dikelolah oleh umat Islam, dengan demikian peluang untuk bekerjasama semakin besar dalam mempopulerkan solusi syariat untuk kehidupan yang lebih baik. Peluang besar ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh umat Islam dalam berbagai bentuk info kegiatan, pemberitaan, opini maupun mengisi langsung acara on air.

Keberhasilan bisa terwujud tergantung pada kreatifitas umat dalam menawarkan bentuk acara yang menarik dan hubungan baik dengan pengelola media bersangkutan.

3. Menggalakkan Percetakan

Masyarakat kian menyadari akan pentingnya buku sebagai referensi dalam memahami dan menjadi panduan untuk menjalani kehidupan. Maraknya buku bacaan seiring meningkatnya minat masyarakat untuk membaca dan memiliki buku. Apalagi buku memiliki kelebihan untuk dikoleksi sehingga memungkinkan akan dibaca kembali sebagai referensi. Oleh karena itu, percetakan buku bisa diupayakan sebagai penyeimbang dari maraknya buku-buku non-Islam.

Kondisi sekarang cukup baik, dengan banyaknya buku-buku bernuansa Islam. Namun perlu diperbanyak tema-tema buku yang menyadarkan keterikatan terhadap syariat Islam serta bagaimana tataran teknis bila syariat Islam diterapkan dalam semua sisi kehidupan.

4. Memancing Media Massa

Berarti harus mengetahui selera media dalam mencari peristiwa yang layak diberitakan media. Selain aktual ukuran umumnya berita antara lain; magnitude, importance, prominence, significance and people’s interest (Muis, 2001). Oleh karena itu, dalam merancang sebuah kegiatan atau aksi bisa berpatokan dengan kesukaan media tersebut, namun tetap harus ada upaya pengendalian peliputan media, baik saat mengundang, berinteraksi saat peliputan hingga siap mengklarifikasi jika pemberitaan tidak sesuai dengan fakta kegiatan.

Berdasar memahami rumus pemberitaan 5W + 1H, dapat dengan mudah diketahui kesesuaiannya berita dengan fakta. Hingga tidak ada upaya pengurangan jumlah peserta tablig akbar atau aksi damai, pemutarbalikan tema bahkan trial by the press.

Keberhasilan upaya ini terletak pada menciptakan hubungan yang baik dengan media massa baik secara institusi media massa maupun dengan para redaksi dan wartawannya. Bila upaya ini bisa dilakukan dengan baik maka sangat besar peluang untuk menciptakan opini publik. karena media massa besar memiliki jangkauan yang sangat luas dan pengaruh yang besar dalam menciptakan perdebatan di masyarakat.

5. Memperdayakan Anggota dalam Menulis di Media

Pada umumnya media mengundang khalayak untuk mengisi kolom opini. Kolom opini juga menjadi barometer dari pendapat khalayak tentang peristiwa yang sedang ramai diperbincangkan. Semakin banyak tulisan umat Islam yang masuk ke media menjadi perhitungan tersendiri dari besarnya tuntutan penerapan syariat Islam sesungguhnya di negeri ini.

Dengan demikian kemampuan menulis para aktivis dakwah dan umat Islam harus terus dipacu, dilatih dan diberi tempat di media komunitas dengan harapan meningkatkan kualitas dan kuantitas tulisan serta akan memperbesar nama penulis baru. Ini berarti ribuan “amunisi” dari kekuatan pena aktivis dakwah dan umat Islam akan membanjiri kolom-kolom media massa baik lokal, nasional dan opini publik akan semakin mudah diraih.

6. Memberikan Tanggapan

Persepsi umum terkait tanggapan terhadap pemberitaan atau siaran media menunjukkan bahwa itulah aspirasi masyarakat sesungguhnya. Semakin banyak tanggapan umat Islam maka akan semakin besar diidentifikasi semakin menguatnya tuntutan penerapan syariat Islam. Oleh karena itu, umat harus didorong dan dilatih untuk memberi tanggapan terhadap pemberitaan atau siaran media, baik secara tertulis maupun bicara. Memberikan tanggapan secara tertulis juga dapat dimanfaatkan untuk latihan dalam menulis di media massa.

Kini hampir semua media juga menyedikan tanggapan atau komentar via SMS. Peluang besar ini juga memberikan peluang besar untuk umat berperan aktif memberikan aspirasinya secara massif. Efeknya luar biasa bila termuat oleh media yang secara otomatis akan terbaca oleh ribuah bahkan jutaan orang.

7. Menguasai Internet

Munculnya internet, memberikan peluang yang sangat besar kepada setiap induvidu untuk mempengaruhi opini publik. Ini dikarenakan sifat komunikasi internet adalah dua arah. Dengan berbagai kemudahannya, internet mendorong munculnya jenis jurnalisme baru yaitu citizen journalism, dimana memberi peluang siapa saja untuk membuat liputan dan menulis berita atas berbagai peristiwa.

Selain website organisasi maupun komunitas setiap pribadi dapat menciptakan webblognya sendiri secara gratis di internet. Upaya lain, bisa dengan membangun komunitas milis, newsgroup maupun e-buletin bahkan jaringan persahabatan seperti facebook dan friendster pun bisa dimanfaatkan untuk menyuarakan aspirasi umat. Memberikan tanggapan atas berbagai pemberitaan atau opini media online serta ikut dalam berbagai polling juga diberikan peluang yang besar untuk mempengaruhi terciptanya opini publik.

Selain mempublikasikan berita dan opini juga tersedia jaringan untuk mempublikasikan foto kegiatan, presentasi materi dalam bentuk powerpoint hingga video bisa dilakukan melalui internet. Besarnya umat Islam yang terlibat dalam mendominasi berbagai bentuk publikasi di Internet akan menjadi kekuatan yang sangat efektif untuk membentuk gerakan yang sangat besar, sebagaimana gerakan masa anti invansi militer Amerika terhadap Irak juga digerakkan kekuatan Internet.

8. Mempublikasikan Kegiatan

Kadang panitia disibukkan dalam mempersiapkan kegiatan dan kurang serius dalam merancang publikasi kegiatan, baik sebelum maupun sesudah kegiatan. Sehingga seringkali kita dapati sudah banyak dana yang terpakai, pembicara kelas nasional tapi banyak kursi yang kosong dan daerah sekitar tempat kegiatan sepi. Oleh karena itu, publikasi kegiatan yang baik juga sangat perperan dalam pembentukan opini publik. Publikasi bisa dengan memperbanyak poster, leaflet, spanduk maupun iklan di media. Disaat kegiatan telah selesai hasil kegitan dapat disosialisasikan ke masyarakat luas baik dalam bentuk fotografi, makalah, presentasi hingga rekaman video saat terjadinya kegiatan.

Sehingga keberhasilan kegiatan terkait dengan pembentukan opini publik bisa kita evaluasi mulai dari munculnya antusiasme masyarakat untuk menghadirinya, aktif dalam kegiatan dan terus diperbincangkan dikemudian harinya.

Inilah sebagian upaya small media ala Khomeini untuk saat ini yang bisa dilaksanakan dan alangkah baiknya jika disempurnakan dengan manajemen yang rapi, cepat dan professional oleh organisasi umat Islam. Maka, tidak ada keraguan penguatan aspirasi umat Islam dalam penerapan Syariat Islam akan menjadikan perubahan mendasar yang besar (the big revolution) tinggal selangkah lagi.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s