Bangsa Lemah Mengikut Bangsa Kuat

Kedatangan Hillary ke Indonesia bukan semata-mata perkenalan atas pergantian kepemimpinan baru dalam Negara Amerika. Sering dikatakan berbeda dengan pemimpin sebelumnya. Sehingga ada perubahan yang mengikutinya, seperti dalam kebijakan laur negeri.
Kemenangan Barrack Obama memang fenomenal karena dari ras kulit hitam pertama dalam sejarah Amerika, tapi kemenangan Obama tidak dapat dilepaskan dari kegagalan kepemimpinan Bush yang sangat memalukan bangsa Amerika. Sadar betul akan kegagalan-kegagalan Bush dan citra Amerika jadi buruk, logis rakyat Amerika memilih alternatif pemimpin yang jago berorator walaupun dari kalangan minoritas.
Apalagi Obama memiliki catatan pernah tinggal di Indonesia, seolah Obama sudah menjadi bagian dari Indonesia dan akan memperhatikan Indonesia. Kedatangan Hillary ingin membuktikan perhatian Obama tersebut pada Indonesia.
Namun perlu menjadi catatan bahwa dalam konteks hubungan antar Negara, terutama Negara kuat dan Negara lemah, sebagaimana tabiatnya, bangsa lemah akan mengikut bangsa kuat. Apa yang menjadi kesimpulan Ibnu Khaldun itu bukan tanpa dasar karena faktanya dari dulu hingga sekarang hubungan model seperti ini yang berjalan. Kalau dulu Negara lemah mengakui kekuatan Negara kuat dengan berbagai hadiah, upeti atau pajak. Sekarang bukan saja hegemoni tapi juga kebijakan politik dan ekonomi Negara kuat diadopsi serta dijalankan Negara-negara lemah. Tak heran jika setiap kejadian di Negara maju menjadi percontohan bagi Negara-negara lainnya. Sebagaimana kemenangan fenomenal Obama yang jadi inspirasi politisi dalam negeri.
Negara yang lebih lemah selalu memposisikan rendah di hadapan Negara maju dan Adidaya. Kondisi ini yang sesungguhnya terjadi antara Indonesia dan Amerika. Indonesia menganggap dirinya lebih rendah dan lemah daripada Amerika. Sehingga Indonesia hanya mengekor terhadap kebijakan-kebijakan Amerika. Padahal kondisi Amerika saat ini justru lebih tragis daripada Indonesia.
Tidak pernah ada dalam sejarah Negara pengekor akan menjadi Negara yang besar atau Adidaya. Pastilah Negara tersebut bukanlah pengekor dari bangsa lain, bangsa tersebut memiliki ideologi, falsafah dan budaya yang berbeda dan diyakini rakyatnya.
Bila bangsa-bangsa lemah ini tidak membangun bangsanya berdasarkan ideologi, falsafah dan budayanya sendiri, maka akan selamanya jadi Negara pengekor bangsa lain. Walaupun ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai Negara cukup tinggi tetaplah jadi Negara pengekor dan tak berdaya seperti Jepang. Atau yang kuat secara ekonomi tapi tetap dalam posisi di bawah Amerika seperti bangsa-bangsa Eropa. Amerika lebih maju, baik dari ideologinya neo kapitalisme dan model penjajahannya.
Indonesia sering disebut sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar. Sehingga yang menjadi salah satu tujuan kedatangan Hillary adalah mengharapkan Indonesia dapat berperan dalam menjembatani hubungan antara dunia Islam dan Barat. Namun sayang jika sering disebut negeri muslim tapi justru didorong semakin dekat dengan Amerika. Negara ini akan menjadi Negara “abu-abu” yang dari satu sisi dipandang sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar namun dari satu sisi kekayaan alam dikuras habis seperti Arab Saudi. Menjadi tempat produksi, sekaligus jadi pasar yang besar bagi perusahaan-perusahaan multinasional Amerika.
Bukan sebaliknya menjadi negeri muslim yang sebenarnya yang berbeda dengan Amerika. Berideologi Islam dan berbagai sistem yang dibangun di atasnya juga berdasarkan Islam, maka dalam kondisi seperti ini Indonesia akan berbeda dari pada Amerika dan Barat yang berideologi Kapitalis. Indonesia akan jauh dipandang daripada hanya disebut Negara berpenduduk muslim terbesar. Karena ideologi sebagai faktor determinan Negara dalam percaturan politik dunia.
Satu di antara dua pilihan tersebut, seharusnya menjadi pikiran bersama. Apakah memilih selamanya menjadi bangsa yang lebih lemah dari Amerika karena ideologi dan sistem mengekor Amerika? Atau berpeluang menjadi bangsa yang berpengaruh bahkan Negara Adidaya, bila memilih ideologi dan sistem Islam?.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s