Logika dan Keyakinan Israel dan Palestina

Serangan militer Israel ke Gaza Palestina memburu pejuang Hamas telah memakan korban ratusan nyawa, bahkan akan terus bertambah. Serangan yang kini terjadi merupakan bagian dari serangkaian serangan sekaligus pembantaian warga sipil di kamp pengungsian Palestina. Namun fakta dunia hingga detik ini tidak mampu menghentikan apalagi memberikan solusi yang tepat.

Keberadaan Israel di Palestina berdasarkan klaim menemukan negeri yang telah “dijanjikan”, letaknya di Palestina. Saat semua Negara memperoleh kemerdekaan di tahun 40-an, Palestina justru memasuki masa penjajahan. Eksodus besar-besaran keturunan Yahudi pun terjadi karena mendapatkan dukungan dari Eropa dan Amerika untuk menempati tanah yang “dijanjikan”, sehingga menggeser sedikit demi sedikit penduduk Palestina. Rasa kasihan Eropa dan Amerika akan penindasan yang tiada tara yang dialami keturunan Yahudi saat Nazi berkuasa dan puncaknya tragedi Holocaust. Namun berbagai peneliti menemukan sebuah rekayasa yang menyatakan Holocaust adalah akal-akalan Yahudi untuk mendapatkan rasa kasihan tersebut, sehingga didukung menempati tanah yang “dijanjikan” walaupun menggusur penduduk asli Palestina bahkan lebih tragis daripada Holocaust.

Pengusiran dan pembantaian yang terus berjalan seolah menyiratkan pembenaran ambisi Israel akan mengusir seluruh bangsa palestina ke luar. Dan Israel masih ingin mewujudkan negara Israel Raya yang meliputi Lebanon, Jordan, sebagian wilayah Mesir, Arab Saudi, Syiria dan Iraq. Bila ini benar, maka Timur Tengah benar-benar menjadi bara api dunia, yang terus bergejolak.

Dalam logika Palestina, kedatangan Israel adalah penjajah yang tidak segan-segan membantai siapa saja. Keberadaan Hamas yang bersikap tidak mau kompromi terhadap penjajah Israel, menjadi problematik bagi sebagian warga Palestina terutama PLO/Fatah. Logika Hamas yang anti penjajahan, Israel harus keluar dari Palestina. Kenyataanya walaupun melawan dengan kekuatan penuh, toh akhirnya tanah Palestina terus berkurang dan segera hilang. Karena kekuatan militer Israel yang terlalu tangguh serta didukung oleh Amerika dan negara-negara sekutunya.

Walaupun melawan tetaplah terusir, pejuang Palestina tetap menuntut kemerdekaan, lebih baik mati dalam kemulian dari pada hidup dalam penjajahan atau ausy khariman aumut syahidan “hidup mulia atau mati syahid”. Anehnya, walaupun mereka pejuang Palestina menuntut hak asasinya yaitu kemerdekaan, tetap saja mereka dituduh teroris dan tetap selalu disalahkan bila melawan penjajah negerinya Israel.

Bila dunia menyatakan kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Bagaimana dengan kondisi Palestina? jawabnya itu perkecualiannya. Karena Amerika dan Eropa masih merestui penjajahan khususnya oleh Yahudi Israel, bahkan Amerikan dan sekutunya yang memasok senjata canggih untuk membatai pejuang dan rakyat Palestina.

Dunia ber-iba atas pembantaian di Palestina, namun tidak ada yang mampu menghentikannya, termasuk penguasa-penguasa Arab. Masalah palestina dipandang sebagai masalahnya sendiri, sebuah bangsa yang tersekat oleh nasionalisme. Logika dunia pun digiring bahwa pembantaian tersebut hanya krisis kemanusiaan bukan penjajahan ataupun “permusuhan” Agama, padahal sejak sejak awal Yahudi memiliki dendam terhadap keberadaan Islam. Begitu juga Yahudi mengklaim tanah Palestina sebagai tanah yang “dijanjikan” Tuhan berdasarkan klaim agama. Setiap aspirasi umat Islam di seluruh dunia memberikan dukungan akan perjuang Palestina mendapatkan kemerdekaan, sekali lagi tidak diakui dan tidak diterima aspirasinya oleh dunia (PBB) karena alasan agama.

Bila demikian kondisinya, Palestina akan berharap kepada siapa? karena penjajah tidak akan keluar, bahkan keturunan Yahudi akan terus bertambah memasuki tanah Israel. Sekali lagi Palestina akan hilang dan rakyatnya berhamburan, karena dunia terutama para penguasanya lebih merestui Israel mendiami tanah Palestina dari pada penduduk aslinya. Caranya pun dengan penjajahan militer yang sangat kejam.

Logika penjajah dan pejuang kemerdekaan tiada arti dalam persoalan Israel dan Palestina. Tapi seolah klaim agama yang akan berjalan, Israel tetap bergerak mewujudkan Israel raya, dengan merebut tanah-tanah yang diklaim sebagai tanah yang dijanjikan. Sedangkan umat Islam bergerak dan bersatu menyusun kekuatan sendiri yang berbeda dengan model nasionalisme sekarang. Karena nasionalisme akan dipandang tidak bisa menyelesaikan permasalahan Islam dan umatnya secara cepat dan tuntas. Dalam keyakinan umat Islam, dunia tidak akan berakhir sebelum orang-orang Yahudi diburu hingga batu dan pohon tempat persembunyian mereka memberitahu umat Islam untuk membunuhnya, kecuali pohon ghorqod yang merupakan pohon Yahudi.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Satu tanggapan untuk “Logika dan Keyakinan Israel dan Palestina”

  1. wallahi….lemahnya israel bagaikan rumah laba-laba, yg dengan mudah kita menghancurkannya. save palestina..!! wallahi billahi kejam \nya israel…..sumpah kalau kita diam atas semua ini, maka tak ada bedanya kita ama hewan yg paling hina diantara hewan yang lainnya, dan bahkan lebih hina…g masuk akal tindakan israel terhadap palestina.
    kami juga nulis artikel tentang palestina. judulnya “aku anak palestina” dan “The Boy in the Striped Pyjamas” liat aja di sini lngng klik aja
    http://masamudamasakritis.wordpress.com/
    jgn lupa tinggalkan komentar juga ya…!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s