Dunia Konflik Politik

Ada ungkapan politik yang cukup familier di negeri demokrasi, tidak ada musuh abadi dan kawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Walaupun ini dikritik berkali-kali, realitas politik di negeri ini pun menunjukkan hal tersebut. Bagaimana tidak, partai yang berasal dari basis masa bahkan keluarga yang sama pun pecah belah menjadi beberapa bagian karena setiap elitnya memiliki kepentingan yang berbeda. Hampir semua partai pernah pecah hingga membingungkan rakyat yang diwakilinya.

Bila dicermati, tidak ada konflik partai yang berawal dari tuntutan rakyat kepada partai untuk lebih serius memperjuangkan aspirasinya. Tetapi yang terjadi selalu diawali para elit politik yang merebut atau mempertahankan posisinya sendiri. Kemudian para elit membuat legalisasi dukungan dari rakyat bahwa merekalah yang benar. Dukungan dari rakyat bisa diperoleh dengan berbagai cara, apakah menggunakan jaringannya sendiri atau mengerahkan orang bayaran. Dan ternyata dengan berbagai kepentingan elit membutuhkan massa maka muncullah orang-orang yang mengambil keuntungan dengan menyediakan massa bayaran tersebut. kini jasa jenis ini sangat laku keras.

Kondisi ini sangat merugikan rakyat, baik yang diwakili maupun yang tidak. Karena mereka tidak sibuk memperjuangkan aspirasi rakyat tetapi sibuk memperjuangkan kepentingan sendiri. Bukan rakyat yang untung, tetapi rakyat jadi korban konflik. Bila elit hanya konflik di wilayah hukum sedang rakyat di wilayah adu fisik, sehingga tak sedikit konflik justru memakan korban jiwa.

Belum lagi, potensi konflik dalam pemilu maupun pilkada semakin serius. Bila pilkada sudah terjadi dan konflik juga tidak sedikit, sedangkan konflik akibat pemilu legislatif dan presiden tinggal tunggu waktu. Kisruh nomor urut Jaleg sudah ramai menimbulkan anarkisme, padahal kita tahu bahwa sekarang caleg maju dengan modal dan strategi sendiri-sendiri. Dengan demikian akan ditemukan banyak sekali strategi menghalalkan cara untuk bisa meraih kursi legislatif. Upaya menghalalkan segala cara ini menjadi sumber konflik antar elit dan rakyat selalu jadi senjata sekaligus korbannya.

Seringnya konflik yang melibatkan rakyat mengakibatkan rakyat semakin mudah tersulut dalam berbagai konflik ke depan. Banyaknya konflik yang terjadi menunjukkan perpolitikan di negeri ini belumlah sehat, terutama mental para elitnya. Sehingga berbagai permasalahan kecil bisa besar karena elit memang mengambil jalan konflik dan kembali memanfaatkan serta menggerakkan rakyat. Padahal seharusnya partai dan elitnya memberikan pendidikan dan teladan politik yang baik bagi rakyat.

Penyelesaiannya, tentulah di tangan elit politik juga. Bila mereka serius pada perjuangan mewujudkan aspirasi rakyat, pastilah konflik akan berkurang dan partai mereka tidak terpecah belah. Tetapi jika mereka tetap pada kondisi sekarang yang mementingkan kepentingan sendiri-sendiri pasti berbenturan dengan kepentingan elit yang lain. Inilah sumber konflik yang sesungguhnya, sebagaimana ungkapan diatas, tidak ada musuh abadi dan kawan abadi, yang ada kepentingan abadi.

Oleh karena itu, sekaranglah rakyat harus melihat lebih jeli, untuk kepentingan siapa para elit terlibat konflik. Dan tidak perlu ikut tertarik dalam konflik yang sesungguhnya bukan untuk memperjuangkan kepentingan dan aspirasi rakyat. Agar konflik tidak meluas dan memakan korban. Biarlah para elit hanya menyelesaikan di wilayah hukum, tidak perlu ada konflik fisik diantara rakyat.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s