Media Mengeksekusi Jihad ala Amrozi Cs

Telah terjadi apa yang ditunggu-tunggu media akhir-akhir ini yaitu eksekusi Amrozi Cs minggu, 9 November 2008 dini hari. Berita eksekusi Amrozi Cs sepekan sebelumnya memang menjadi berita besar dan berita telah dieksekusinya Amrozi Cs adalah puncaknya. Tampak jelas semua TV memberitakan eksekusi Amrozi Cs hingga proses pemakamannya, sedangkan media cetak, baru hari senin menjadikan eksekusi Amrozi Cs sebagai headlinenya.

Media sangat konsen dalam membidik semua kontroversi sebagai berita besar, terlebih lagi eksekusi mati Amrozi Cs yang sudah mereka tunggu sejak beberapa tahun yang lalu. Ketika Jaksa Agung Hendraman Supanji memberi sinyal pada tanggal 24 Oktober yang menyatakan Amrozi Cs akan di eksekusi awal November, maka saat itu media melihat bahwa hal itu sebagai berita besar. Media berlomba-lomba memberikan berita terbaru dan detail bagi masyarakat dengan menempatkan reporter di setiap pos pemberitaan yang terkait dengan trio bomber tersebut. Maka setiap detik perkembangannya baik dari daerah asal Amrozi Cs, keluarganya, bahkan korbannya dapat dijadikan bahan berita. Tak ketinggalan media berupaya mengingatkan lagi peristiwa ledakan bom Bali, mengadakan diskusi para pengamat hingga debat dan tak ketingalan selalu mempertanyakan ketegasan pemerintah dalam menangani masalah ini.

Dalam konteks ini sesungguhnya media bukan saja memberitakan tentang eksekusi jasad Amrozi Cs, tetapi dengan sangat jelas media berusaha fokus dan intensif ingin mengeksekusi jihad ala Amrozi Cs.

Masalahnya media belum bisa mengurai kasus jihad Amrozi Cs dalam tautannya antara Islam dan terorisme. Di satu sisi Islam memiliki konsep jihad yang diklaim mendasari gerakan Amrozi Cs dan disisi lain terorisme merupakan bagian dari propaganda Amerika. Maka dari itu perlu dipertanyakan sesungguhnya apa yang diinginkan media dan siapa sesungguhnya yang dibidik oleh media, mujahid atau teroris?

Membidik Muiahid atau Teroris?

Sejak berita terorisme bergulir, masyarakat bertanya-tanya siapakah sesungguhnya teroris itu? Mengapa teroris dalam propaganda Amerika selalu identik dengan orang Islam? Apa yang menjadikan aktivitas jihad jadi teror? Apakah muslim yang melakukan “teror” itu juga bagian dari kita? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan dalam benak masyarakat. Kebingungan masyarakat kita akan hubungan teroris dan mujahid ini sesungguhnya juga akibat pemberitaan media dan ternyata medialah yang menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sendiri. Media membidik berbagai aksi-aksi kekerasan dan bom, jaringan serta analisis dari beberapa pihak tentang terorisme. Memunculkan nama-nama yang melegenda seperti Dr. Azhari, Nurdin M. Top, Hambali yang bernaung dalam Jamaah Islamiyah. Padahal sangkaan utama sebelumnya adalah Ust. Abu bakar ba’asyir dan pengadilan tidak bisa membuktikannya.

Pemberitaan media yang sebagian besar lebih dominan sesuai arus propaganda teroris ala Amerika maka berbagai argumentasi dari para pelaku bom menjadi tersisi dan tak berati. Ini berarti pers melanggar prinsipnya sendiri yaitu cover both side, seimbang dan imparsial. Sehingga masyarakat dipastikan tidak memperoleh informasi yang berkualitas, padahal katanya mereka berjuang untuk menghadirkan kualitas dalam beritanya.

Ada banyak ekses yang dapat diperkirakan dari bombastis pemberitaan media ini akan membawa konsekuensi logis dalam benak masyarakat, bila dicermati akan timbul kebencian terhadap golongan Amrozi Cs serta generalisir masyarakat terjadi pada umat Islam lain, munculnya sikap anti ajaran jihad bahkan justru menguatnya perlawanan kelompok Amrozi Cs terhadap siapa saja yang berusaha menekannya. Oleh karena itu, media juga harus bijak dalam pemberitaanya.

Memang perlu ada pelurusan dalam mendudukkan masalah jihad, namun media tidak perlu terlalu masuk menembus wilayah yang sesungguhnya bukan wilayahnya. Sehingga masyarakat lebih percaya pada media daripada para tokoh umat, bahkan banyak ulama yang merasa terdesak mengeluarkan pernyataan tanpa mengkaji betul peristiwa bom bali yang bersamaan dengan propaganda terorisme ala Amerika.

Media seharusnya jeli, karena banyak keganjilan aksi terorisme di Indonesia, sejak Peristiwa WTC isu terorisme di Indonesia biasa-biasa saja. Namun, rangkaian peristiwa ledakan bom dahsyat mulai dari Bom Bali I, Bom JW Marriot, bom Kuningan, Bom Bali II, hingga tewasnya Dr. Azahari telah mengubah keadaan secara drastis. Rangkaian peristiwa itu telah memaksa Indonesia berada dalam satu lintasan bersama AS untuk menjadikan terorisme sebagai salah satu isu sentral. Begitu sentralnya masalah ini, George W. Bush sampai mengingatkan Presiden SBY pada pertemuan APEC di Busan, Korsel bahwa salah satu persoalan penting Indonesia adalah terorisme. Bahkan AS ’menghadiahi’ Indonesia berupa pencabutan embargo militer karena Indonesia saat ini dinilai mulai serius memerangi terorisme.

Semua sepakat bila terorisme ini harus dibongkar tuntas, dan media nasional tidak perlu ikut-ikutan media barat dalam menyebarkan teror informasi dengan menyudutkan satu bagian dari umat Islam. Media nasional harus berani membuat arus tersendiri bila sejak awal perang terhadap terorisme ala Amerika ini penuh dengan keganjilan. Termasuk adanya provokasi, penyusupan dalam tubuh umat Islam hingga terjadinya aksi teror yang sesungguhnya ditolak umat Islam sendiri.

Bila media ingin menunjukkan kebenaran konsep jihad baik ala Amrozi Cs maupun yang lain, maka media seharusnya tidak hanya menampilkan cuplikan-cuplikan pendapat, tetapi harus juga memberikan ulasan yang jelas dan rinci dalam pandangan Islam oleh tokoh yang benar-benar mumpuni. Karena selama ini justru yang dihadirkan media adalah para narasumber yang banyak ditolak umat Islam sendiri, sehingga opini umum yang terbentuk justru bertentangan dengan pemahanam umum umat Islam. Sebagaimana diketahui definisi jihad yang berkembang hanya sesuai dengan makna bahasanya saja yang berarti sungguh-sungguh, padahal pemahaman umum umat Islam, jihad tetap lekat pada aktivitas perang. Hanya saja, rinciannya juga harus difahami banyak pihak, termasuk praktisi media. Sehingga media tidak mudah terpengaruh arus pemberitaan media barat yang syarat dengan propaganda Amerika.

Pemberitaan media yang searah dengan media barat seolah-olah membenarkan indikasi ada upaya ingin menghapus ajaran jihad dalam Islam, karena ini bagian dari proses menjinakkan Islam dalam dunia yang kebenaran bukan ditentukan oleh Tuhan tetapi suara terbanyak. Oleh karena itu media menempati posisi penting dalam mempengaruhi masyarakat dan menciptakan opini publik. Dari opini publik inilah seringkali sesuatu dianggap kebenaran, termasuk masalah jihad ini.

Bila media sudah memasuki wilayah perdebatan ajaran agama, maka yang terjadi benturan nilai agama dengan suara mayoritas, maka ajaran agama bisa dikoreksi oleh media. Sehingga media telah mengambil peran sebagai pemberi penentu kebenaran maka media sesungguhnya telah memerankan peran Tuhan.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Satu tanggapan untuk “Media Mengeksekusi Jihad ala Amrozi Cs”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s