Kemerdekaan Kita Masih Terjajah

Meriahnya bulan agustus dengan berbagai kegiatan yang serempak di seluruh negeri ini, tiada lain untuk memperingati kemerdekaan RI dari cengkraman penjajah. Namun peringatan ini tidak dapat merubah kondisi bangsa dari tahun ke tahun, dari rezim ke rezim, baik orla, orba maupun reformasi. Bangsa yang kaya-raya SDA maupun SDM dan mendiami posisi strategis ini selalu dalam kungkungan negara-negara Kapitalis. Ibarat baru keluar dari mulut buaya masuk ke mulut singa dan itupun terus berlangsung hingga detik ini.

Terjajah Tapi Tak Terasa

Sudah menjadi rahasia umum, minimal bagi para intelektual negeri ini bahwa sesungguhnya kemerdekaan kita masih terjajah. Kemerdekaan ini hanyalah sebatas kemerdekaan fisik saja, namun hampir semua bidang kehidupan dalam bangsa ini masih sangat kental dengan kondisi penjajahan.

Dekolonisasi bukanlah akhir dari penjajahan yang sesungguhnya, tetapi hanya berganti wajah saja. Sejak itulah Amerika mewarisi semangat dan bentuk imperialisme Eropa yang baru. Imperialisme tidak akan berakhir karena imperialisme adalah metode baku dari Kapitalisme untuk memperluas dan memperkokoh kekuasaanya. Sampai detik ini Amerika melakukan imprialisme dalam dua bentuk sekaligus, baik klasik maupun modern.
Penjajahan modern atau neo-imperialisme, merupakan bentuk baru dari penjajahan klasik yang jelas-jelas ditentang oleh semua bangsa, termasuk bangsa Indonesia. Michael Barratt-Brown dalam karyanya After Imperialism (1963) seperti yang dikutip Edward Said dalam Culture and Imperialism (1992) menyatakan bahwa ‘imprialisme tak diragukan lagi masih merupakan suatu kekuatan paling besar dalam kaitan-kaitan ekonomi, politik, dan militer yang dengannya negeri-negeri yang secara ekonomi kurang berkembang tunduk pada mereka yang secara ekonomi lebih berkembang’. Faktanya sangat jelas saat ini, dimana negara miskin dan berkembang dalam jajahan ekonomi negara maju.

Dari segi pengertian neo-imperialisme ini, dengan mudah kita mengatakan, bahwa Indonesia memang belum merdeka. Sebagaimana penjajahan klasik, neo-imperialis yang menguasai dan menghegemoni negara lain, juga melakukan berbagai usaha untuk mempertahankan kekuasaannya atas negara lain.

Edward Said dalam Culture and Imperialism (1992), menunjukkan bahwa kebudayaan dan politik bekerja sama, secara sengaja atau tidak, melahirkan suatu sistem dominasi yang bukan hanya secara fisik tetapi juga secara non-fisik. Kondisi tersebut sangat jelas dapat kita saksikan sampai sekarang bahwa penjajahan dalam non-fisik (modern) justru jauh lebih menakutkan, karena bangsa kita tak merasa dijajah, justru kita ingin dijajah?.

Mengapa bisa begitu? inilah pertanyaan yang harus dicermati lebih serius, agar kita benar-benar yakin bahwa bangsa kita dan negara miskin atau berkembang lainnya pada hakikatnya masih terjajah. Ada tiga sebab mengapa kita tidak merasakan bentuk penjajahan modern ini, sehingga kita merasa merdeka padahal sesungguhnya terjajah. Tiga sebab itu antara lain;

1. Penjajahan Pemikiran dan Pengetahuan

Jika penjajahan klasik bersifat fisik, sehingga suasana penjajahan itu sangat terasa, maka penjajahan modern jauh lebih cerdik. Mereka berupaya bagaimana si terjajah tidak merasa bila dijajah. Kalau kita cermat tentu akan kita dapati sisa-sisa kolonialisme yang paling menghancurkan negara-negara dunia ketiga termasuk bangsa kita, yaitu perasaan bawah sadar kolektif mereka yang menyakini bahwa Barat adalah superior, teladan dan pusat peradaban maju.

Sisa-sisa kolonialisme inilah yang menumbuhkan keinginan atau mimpi untuk mengikuti atau menjadi seperti Barat. Ini merupakan gejala umum yang terjadi di negara-negara berkembang. Rezim pengetahuan yang diciptakan Barat memang tidak memberi ruang yang bebas kepada pengetahuan lain untuk berkembang. Generasi terdidik di negara berkembang diarahkan sedemikian rupa menjadi agen dan penjaga sistem pengetahuan Barat.

Hegemoni pengetahuan Barat terlihat jelas ketika kaum terdidik di negara berkembang dengan setia dan tidak sadar menyebarkan dan membela nilai-nilai dan institusi Barat seperti demokrasi, civil society, hak asasi manusia. Semua yang datang dari Barat diterima sebagai nilai universal yang merupakan peradaban terbaik yang harus diikuti.

Prof. Syed Naquib al-Attas, dalam bunkunya The Dewesternization of Knowledge, membongkar sebab-musabab bahaya yang ditimbulkan peradaban Barat terhadap umat manusia. Al-Attas memandang problem terberat yang dihadapi manusia dewasa ini adalah hegemoni dan dominasi keilmuan Barat yang mengarah pada kehancuran umat manusia. Satu fenomena yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Sepanjang sejarahnya, manusia telah menghadapi banyak tantangan dan kekacauan.

Kekacauan itu, menurut al-Attas, bersumber dari sistem keilmuan Barat itu sendiri, yang disebarkan ke seluruh dunia. Knowledge yang disebarkan Barat itu, menurut al-Attas, pada hakekatnya telah menjadi problematik, karena kehilangan tujuan yang benar; dan lebih menimbulkan kekacauan (chaos) dalam kehidupan manusia, ketimbang membawa perdamaian dan keadilan; knowledge yang seolah-olah benar, padahal memproduksi kekacauan dan skeptisisme (confusion and scepticism).

Ziauddin Sardar dalam bukunya Thomas Khun dan Perang Ilmu (2002) secara tegas dan gamblang mengungkap keganjilan dari sejarah dan filsafat ilmu Barat yang digugat Thomas Khun dengan terbitnya The Structure of Scientific Revolutions (1962). Khun mempertayakan ulang ‘dogma’ ilmu dalam posisi yang netral atau bebas nilai, padahal secara kasat mata ilmu telah di korupsi oleh Kapitalisme untuk menundukkan Peradaban dunia yang lain. Sehingga paradigma ilmu selain ilmu Barat disingkirkan, misalnya paradigma ilmu Islam dan China yang sesungguhnya jauh lebih dulu berkembang.

2. Bukan Lagi Penjajahan oleh Negara

Bergantinya baju sang penjajah, jika penjajahan klasik menggunakan baju negara, maka penjajahan modern berbaju lembaga-lembaga internasional semisal PBB, WTO, IMF atau Bank Dunia dan tak ketinggalan perusahaan-perusahaan raksasa transnasional. Ini sebagai konsekuensi dari pilar utama neoliberal yang menghendaki aparatus negara seharusnya tidak ikut berperan dalam kegiatan-kegiatan pokok ekonomi nasional maupun internasional (Harman, 2003).

Saat inilah kita hidup di zaman Kapitalisme global, semua yang ada di dunia ini tak akan lepas dari Kapitalisme. Kerakusan perusahaan besar (Corporate greet) dan globalisasi telah dijadikan ikon cara-cara baru Kapitalisme Internasional dalam menindas umat manusia. Dengan halus mereka mengatasnamakan gerakan modernitas, pemerataan kemajuan, alih teknologi dan perdamaian dunia, sekonyong-konyong kita mengikuti, padahal itulah perangkap untuk masuk penjara jajahannya. Masih ingat kita dengan ‘resep’ IMF yang membuat bangsa kita tambah terpuruk, standar ganda PBB, kerakusan Freeport dan masih banyak kasus yang lebih parah.

3. Tipu daya Media Massa

Neo kapitalisme telah memposisikan media sebagai senjata yang sangat canggih di abad ini. Untuk melupakan, menipu dan menghipnotis kita tentang penjajahan yang mereka lakukan. Sebagaimana yang diungkapkan Stuart Hall, ‘media massa merupakan sarana paling penting dari Kapitalisme abad 20 untuk memelihara hegemoni ideologis. Media massa juga menyediakan kerangka berfikir bagi berkembangnya budaya lewat usaha kelompok dominan yang terus-menerus berusaha mempertahankan, melembagakan, melestarikan kepenguasaan demi menggerogoti, melemahkan dan meniadakan potensi tanding dari pihak yang dikuasai’ (Bunging, 2001).

Kritikus pers Moris Wolfe menilai bahwa merubah pikiran orang itu lebih mudah dan murah dari pada merubah realitas sendiri (Slouka,1999). Sehingga persoalan-persoalan yang dilansir media massa membentuk peta pemikiran (politik) dalam masyarakat atau yang disebut Austine Ranney sebagai “cognitive maps” (Panuju,1999).

Sekali lagi pengontrolan pikiran kita oleh sang adidaya merupakan suatu hal yang sangat erat dengan media massa yang dikendalikannya AS menggunakan media massa untuk mengontrol pikiran dengan penggunaan kata-kata dan pemberian makna-makna tertentu. Kata-kata yang digunakan tersebut disebut newspeak. Secara jelas Noam Chomsky menyebut sistem kendali pikiran tersebut adalah “The American Ideological System”. Ini karena sang pengendali media dunia adalah Amerika.

Kondisi tak terpedayaan masyarakat tersebut tampak dalam pernyataan John Polan “bukan masyarakat kurang berani mengemukakan pemikiran-pemikiran diluar rentang batas yang di izinkan; soalnya cuma mereka tidak mempunyai kemampuan untuk memikirkan gagasan semacam itu”. Kondisi pemikiran rakyat Amerika dan dunia saat ini telah terbentuk melalui cara-cara “tertentu” yang membuat mereka mampu menerima keadaan tersebut.

Noam Chomsky juga mengungkap dua fakta yang saling berkaitan di negeri demokrasi yang berkenaan dengan kebebasan berpendapat. Di satu sisi tidak ada batasan-batasan untuk berpendapat, tetapi sisi lain adanya upaya pengembangan metode-metode yang efektif untuk membatasi kebebasan berfikir. Ini terjadi karena dalam sistem Demokrasi-Kapitalis yang sesungguhnya berkuasa adalah kaum elit yang berjumlah sedikit yaitu pemilik modal. Untuk memenangkan “suaranya” dibutuhkan suatu metode agar pendapat khalayak tidak berbeda dengan pendapat elit tersebut. Dan akhirnya diketemukan pemikiran bagaimana “mengelolah persetujuan” (manufacture of consent) istilahnya Walter Lippman. Atau istilah yang lebih disukai Edward Bernays, salah seorang bapak pendiri industri Public Relation Amerika yaitu “rekayasa persetujuan” (engineering of consent), sedangkan Dr. Everett Ladd menambahkan kata demokratis “rekayasa persetujuan demokratis” (engineering democratic of consent). (Chomsky, 2001).

Dengan mengendalikan media massa dunia, mereka telah monopoli informasi, yang mengakibatkan munculnya “Amerikanisasi” atau “westernisasi” dalam bentuk peneguhan dan penegakkan ideologi serta budaya mereka. (Kuswandi,1996). Proses global monoculture atau homogenisasi kebudayaan global pun berjalan dengan mulus dengan kekuatan media yang begitu dashyat. Sebagaimana yang di ungkapkan mantan pejabat AS Joseph Nye bahwa “Kehalusan kekuatan media dan kebudayaan populer Amerika akan menjejali seluruh penduduk dunia dengan pengaruh liberalisme dan egalitariannya melalui dominasi film, TV dan komunikasi elektronik”. “Kekuatan halus tersebut adalah topeng zaman informasi baru untuk imprialisme yang lama namun definisi imprialisme tidaklah seperti yang lama yaitu membutuhkan wilayah (tanah) jajahan tetapi pengaruhnya”(Feber, 2003).

Dengan demikian, tiga hal inilah yang sekarang telah menghilangkan kepekaan rasa kita akan keterjajahan oleh peradaban neo Kapitalis dalam semua segi kehidupan yang sesungguhnya bertentangan dengan peradaban kita. Bahkan cita-cita kita telah terjajah dan solusi yang kita lakukan tidak lain adalah sesuai dengan ‘rumusan/intruksi’ neo Kapitalis sang penjajah. Sehingga ketika kita akan keluar dari mulut buaya, maka mereka buka mulut singa?.

Menyadari begitu rumit dan lamanya penjajahan ini, sehingga di negara-negara terjajah telah terbentuk struktur ‘agen’ menjadikan kita sulit untuk melepaskan diri. Mereka para public figure, intelektual dan berbagai sistem kehidupan yang telah mengokohkan penjajah. Namun upaya memerdekaan kembali bangsa ini harus tetap dilakukan sebagaimana gerakan anti-Kapitalis dunia terus menyebar. Bukankah kemerdekaan kita dari penjajahan klasik juga memanfaatkan kemenangan sekutu (AS)?. Maka sekarang juga kita harus memanfaatkan masa-masa transisi kejatuhan Kapitalis yang tinggal tunggu waktu.

Dalam teori neoliberal memang mengaburkan kenyataan eksploitasi dan penindasan secara sistematis.Untuk itu pembongkaran akan penjajahan harus dilakukan secara sistematis pula, baik dari ideologinya sampai apapun yang telah dihasilkannya.

Dengan demikian upaya yang harus segera kita lakukan adalah membebaskan diri dari ideologi, paradigma berfikir sekaligus ilmu pengetahuan Barat yang memperbudak kita. Memutus hubungan dengan lembaga internasional dan mewaspadai media massa Barat serta perpanjangannya telah menjadikan kita terhipnotis dalam imaji-imaji yang dibentuknya.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s