Melihat kemerdekaan dalam Konstelasi Global

Sekilas kita dapat membaca sejarah dunia versi barat maka sejarah kebangkitan Eropa dimulai sejak munculnya gerakan renaissance. Mereka menemukan sekulerisme yang membebaskan dari penjara agama dan membangkitkan keserakahan kapitalisme serta dimulailah abad kolonialisme Eropa. Namun mereka memahami ada penghalang besar yaitu Kekhilafahan Utsmani di Turki yang menguasai wilayah cukup luas, sehingga bangsa Eropa bersatu untuk menghancurkannya.

Berbagai konspirasi dilakukan untuk melemahkan dan memecah wilayah kekuasaan Khilafah Utsmani, hingga akhirnya terjebak dalam perang dunia pertama yang berujung pada kekalahan dan penghapusan Kekhilafahan Ustmani dari percaturan politik dunia. Bangsa-bangsa Eropa berpesta pora dalam berbagai perjanjian pembagian wilayah jajahan. Perjanjian Skyes-Picot misalnya, membagi wilayah arab menjadi dua wilayah kekuasaan Inggris dan Perancis. Namun perebutan kekuasaan untuk menjadi Negara pertama dunia tetap terjadi diantara mereka, hingga akhirnya pecah perang dunia kedua yang menjadikan Amerika dan Rusia sebagai calon Negara adidaya baru.

Untuk memperoleh wilayah kekuasaan maka Amerika mendesak Eropa dan Jepang untuk melepaskan negara jajahannya dengan mengobarkan semangat kemerdekaan dan pembebasan. Berdirilah PBB dan disepakatinya declaration of human rights sebagai dasar perlindungan hak-hak asasi manusia. Tak ketinggalan didirikanlah World Bank, IMF dan GATT untuk mempersiapkan pembangunan dan perdagangan Negara-negara baru. Era kemerdekaan Negara bangsa dunia ketiga tiba, namun pada saat yang sama berarti dimulailah neo-imperialisme Amerika dan pertentangan kelas ala Uni Soviet. Perebutan pengaruh antara Amerika dan Uni Soviet atas Negara-negara baru yang belum stabil pun terjadi. Negara-negara baru menjadi medan perang dingin yang sangat mencekam dan berakhir dengan kemenangan Amerika. Sebagai Negara adidaya tunggal Amerika kemudian mengumumkan Tata Dunia Baru sebagai konsekuensi logis dari kemenangan Kapitalisme global atas Sosialisme. Amerika bersama MNC (Multi National Corporation) menjadikan negara-negara di dunia sebagai lahan penjajahan baru di era globalisasi dengan jeratan hutang dan topeng investasi.

Sejak neo imperialisme dimulai hingga kini hampir tidak ada lagi perlawanan yang berarti untuk mengusir penjajah, karena penjajahan dilakukan agen pribumi dan pengaruh hipnotis media global. Justru penjajahan gaya baru tersebut telah mendapatkan legalitas undang-undang dan komitmen setiap kepala Negara akan lebih mengutamakan kepentingan Amerika daripada rakyatnya.

Dari uraian singkat diatas, sangatlah jelas bahwa kemerdekaan yang terjadi di Negara dunia ketiga, termasuk negeri-negeri muslim serta Indonesia tidak pernah lepas dari konstelasi global. Kemerdekaan hanyalah fase peralihan dari kolonialisme Eropa ke neo imperialisme Amerika. Jadi, kemerdekaan memang didesain sebagai bentuk “legal” penjajahan gaya baru Amerika yang mengutamakan pengendalian Negara bangsa dengan hegemoni di bidang politik, ekonomi dan budaya.

Bercermin pada konstelasi global pula, ada secercah harapan untuk mencapai kemerdekaan hakiki. Kini kekuatan dan pengaruh Amerika berangsur-angsur turun dan kekuatan baru Islam ideologis mulai dipandang dunia untuk menggantikannya.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s