Urgensi Melek Media dan Kesadaran Politik Umat

Berbagai peristiwa penting yang melibatkan umat Islam seringkali hancur di tangan media. Mulai aspirasi umat yang selalu mendapat tempat yang minim di media, pencitraan negatif, tidak seimbang, pembunuhan karakter, hingga penghakiman oleh media. Sebagai contoh kasus Ahmadiyah, kita bisa melihat bagaimana aspirasi bulat umat Islam menuntut pembubaran Ahmadiyah, justru opini umum yang dibuat media balik menyerang umat Islam dengan keharusan menghormati kebebasan beragama warga Ahmadiyah. Memberi citra negatif umat Islam yang menginginkan pembubaran Ahmadiyah identik dengan kekerasan dengan mendramatisir peristiwa monas. Peristiwa besar lainnya yang sama adalah tuntutan pengesahan RUU APP (Anti Pornografi dan Pornoaksi) untuk melindungi generasi muda dan menyelamatkan moral bangsa justru diputar seolah-olah tuntutan itu berlawanan dengan adat budaya dan akan memunculkan tuntutan desintegrasi. Dalam hal ini masyarakat termasuk umat Islam pada umumnya percaya bulat-bulat pemberitaan media tersebut hingga mereka tidak sadar akan pengaruh media yang sangat besar dalam kehidupannya.
Inilah keadaan dunia di era globalisasi dan imperialisme media liberal, memaksa siapapun untuk menyadari dan lebih berhati-hati di dalam menilai setiap berita dengan lebih teliti serta perlu ada ‘self-censorship’ tak terkecuali umat Islam. Dalam masyarakat Baratpun kesadaran akan pentingnya kemampuan tersebut juga masih baru yang mereka sebut media literacy atau melek media. Sebenarnya Islam jauh-jauh hari sudah menganjurkannya, sebagaimana dalam firman Allah SWT ;
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik dengan membawa berita, maka telitilah berita itu agar kalian tidak memberikan keputusan kepada suatu kaum tanpa pengetahuan sehingga kalian akan menyesali diri atas apa yang telah kalian kerjakan.” (QS. Al Hujurat (49):6).
Ibnu Qoyyim (2000) mendefinisikan An-naba’ dalam ayat ini berarti berita yang masih belum pasti yang disampaikan pembawa berita. At-tabayyun adalah mencari penjelasan hakikat berita itu dan memeriksa seluk beluknya. Sedangkan menurut As-Syawkani, tabayyanu berarti at-ta’arruf wa tafahhush (mengidentifikasi dan memeriksa) atau mencermati sesuatu yang terjadi dari berita yang disampaikan.
Dalam ayat tersebut juga menekankan bahwa mengetahui sumber berita merupakan suatu yang urgen. Dari ayat ini dapat diklasifikasikan menjadi dua katagori. Pertama; adil (muslim dan tidak fasik), kedua; fasik (tidak adil). Dari sumber kedua inilah kita diperintahkan dengan tegas melakukan tabayyun. Jika saja orang fasik diperintahkan tabayyun apalagi sumber berita dari orang kafir, seperti saat ini, dimana sumber berita sebagian besar dari orang kafir (Hafidz, 2002).
Pengetahuan tentang media seharusnya ditanamkan pada ummat, agar mereka terhindar dari serangan Barat yang menggunakan senjata media, seperti sekarang ini. Bahkan kalau bisa sejak dini, anak seharusnya dibekali perisai untuk mengantisipasi maraknya tayangan acara tv. Sebagaimana media literacy atau melek media yang saat ini sudah banyak diajarkan di beberapa negara maju dan telah terintegrasi dalam kurikulum sekolah dasar. (www.smu-net.com).
Peter Debenedittis. Ph.D mendifinisikan media literacy sebagai the ability to “read” television and mass media. Media literacy education teaches people to Access, Analyze, Evaluate, and Produce media (www.medialiteracy.net). David Considine yang mendefinisikan media literacy; The Ability to Access, Analyze, Evaluate and Communicate information in a variety of format including print and nonprint (The Journal of Media Literacy, Volume 41, Number 2 dalam http://www.ci.appstate.edu).
Sedangkan filosofi yang mendasari media literacy sangat jelas sekali seperti yang dipublikasikan situs resmi CML (www.medialit.org) sebagai berikut;
This philosophy incorporates three intertwining concepts:
1. Media literacy is education for life in a global media world.
Today families, schools and all community institutions share the responsibility for preparing young people for living and learning in a global culture that is increasingly connected through multi-media and influenced by powerful images, words and sounds.
2. The heart of media literacy is informed inquiry.
Through a four-step “inquiry” process of Awareness . . . Analysis . . . Reflection . . .Action, media literacy helps young people acquire an empowering set of “navigational” skills which include the ability to:
Access information from a variety of sources.
Analyze and explore how messages are “constructed” whether print, verbal, visual or multi-media.
Evaluate media’s explicit and implicit messages against one’s own ethical, and moral
Express or create their own messages using a variety of media tools.
3. Media literacy is an alternative to censoring, boycotting or blaming “the media.”

Sehingga sangat jelas perbedaan media literacy ini dengan Media Wacth atau Ombudsman, suatu lembaga yang telah dikenal masyarakat sebagai pemantau atau pengawas kinerja media. Dua lembaga tersebut tetap tidak dapat menjamin ke-netralannya. Sedangkan media literacy mengembalikan titik berat upaya pemberdayaan sepenuhnya pada diri khalayak media yaitu pembaca, pendengar atau pemirsa. Selain itu, ada juga yang menganggap bahwa program media literacy sebagai perjuangan untuk meraih kekuasaan (struggle for power). Disini pendidikan media literacy memiliki agenda yang jelas untuk melakukan perlawanan terhadap hidden agenda yang ada dibalik media. Dan media literacy diyakini sebagai jalan menuju ke arah pembebasan masyarakat dari manipulasi pikiran atau propaganda media (Romli, 2002).
Melek media atau kemampuan tabayyun atau sifat hati-hati dalam menerima berita-berita atau pendapat tertentu, agar ia tidak dikacaukan, walaupun yang dianggap remeh, inilah sebenarnya yang menjadi ciri khas yang dimiliki oleh orang yang memiliki kesadaran politik. Seseorang yang memiliki kesadaran politik senantiasa menjaga untuk tidak tersesat dengan fakta-fakta atau tersesat dalam mencari hakikat tujuan yang ia usahakan untuk meraihnya. Dengan kata lain, ia akan mengambil segala sesuatu dengan penuh kesadaran, dan senantiasa berfikir tentang hakikat kenyataan sesuatu serta kedudukannya diantara tujuan yang tengah ia usahakan.
Kesadaran politik merupakan suatu pandangan yang universal dengan sudut pandang yang khas. Sehingga ada dua unsur yang harus dipenuhi dalam hal ini; pertama, adanya pandangan yang universal, yang tidak terbatas pada negeri-negeri tertentu. Kedua, pandangan tersebut harus bertitik tolak dari sudut pandang yang khas, dimana sudut pandang tersebut adalah mabda’/ ideologi (Ismail, 1998).
Dengan kesadaran politik inilah umat akan sensitif dan memberikan respon setiap informasi atau peristiwa di dunia dengan pandangan yang khas tersebut, dalam hal ini adalah ideologi Islam. Dan umat tidak akan rela sedikit pun jika mabda’ atau ideologi Islam ini tidak terealisir dalam kehidupan nyata. Dan mereka memilih terjun langsung memperjuangkan mabda’ Islam dalam dunia ini yang penuh dengan persengkongkolan.
Metode untuk membangkitkan kesadaran politik dalam diri induvidu dan umat adalah melalui pembinaan politik. Pembinaan politik ini harus dilakukan dengan pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum Islam atau mengikuti peristiwa-peristiwa politik (terutama yang disajikan media) bukan sebagai teori abstrak. Kemudian pemikiran dan hukum tersebut dikaitkan dengan peristiwa atau kejadian politik, kemudian dengan peristiwa atau kejadian tersebut diamati dari sudut pandang yang khas “Islam” untuk selanjutnya menilai dan mengaitkannya dengan peristiwa dan gagasan lain atau aksi-aksi politik yang terjadi (Zallum, 2001).
Kesadaran politik ini semakin penting karena pakar yang sekritis Noam Chomsky, Edward Said, John Pilger dan Robert Frish atau pakar komunikasi lainya yang sering menjadi acuan umat dalam menunjukkan kebusukan strategi media Barat dalam menghinakan Islam bukanlah bagian umat Islam. Dan perlu kita ketahui mereka adalah orang-orang kiri “Sosialis” yang berseberangan dengan ideologi pengendali media, AS yang Kapitalistik. Mereka membahas Islam dalam analisisnya bukan untuk membela Islam, tetapi hanya untuk menunjukkan bukti kebusukan media Barat dalam mendukung kebijakan negaranya. Sebagai contoh apa yang diakui oleh Edward Said (2002) dalam pengantar bukunya Covering Islam, “sama sekali bukan untuk membela Islam-sebuah proyek yang sama sekali bukan tujuan saya-buku ini menggambarkan “Islam” bagi Barat sama sekali tidak mensyaratkan untuk memaafkannya dalam masyarakat Islam. Fakta bahwa dalam banyak penindasan masyarakat Islam……”.
Oleh karena itu apakah umat hanya percaya kepada mereka, padahal mereka memiliki perbedaan ideologis dan tidak membela Islam. Sehingga sikap umat saat ini terhadap mereka seharusnya hanya sebagai pembanding saja dari pengamatan dan analisis yang telah dilakukan. Dan mendorong umat menguasai kemampuan tabayyun yang merupakan bagian dari kesadaran politik umat, dengan demikian diharapkan umat mandiri dalam memahami dan merespon pemberitaan media dengan tepat.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Satu tanggapan untuk “Urgensi Melek Media dan Kesadaran Politik Umat”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s