Kekuatan Dahsyat Media

Keberadaan media (saluran atau channel) dalam komunikasi massa, menurut pakar komunikasi politik AS Harold D. Laswell adalah mutlak. Saluran komunikasi atau media massa inilah yang akan menyalurkan atau menyebarkan pesan (massage) dari komunikator ke komunikan dan akan memberikan efek pada keduanya. Ada empat aktivitas pokok yang menjadi fungsi media massa antara lain; Pengawasan lingkungan, korelasi antar bagian masyarakat dalam menanggapi lingkungan, transmisi warisan sosial dari suatu generasi ke generasi berikutnya dan bisnis sekaligus entertaimen (Kuswandi, 1988).
Di abad yang disebut Alvin Toffler sebagai abad informasi, media massa memiliki posisi strategis, dimana informasi merupakan sentral dari perhatian, pemikiran dan kegiatan manusia. Semua aktivitas manusia pasti membutuhkan informasi. Karena informasi memiliki efek yang mendalam terhadap berlangsungnya proses produksi konvensional, proses berfikir itu sendiri dan bahkan terhadap proses kehidupan kita.
Prediksi Lyotard yang menunjukkan pentingnya informasi pada saat ini, sangatlah tepat seperti yang dikutip Ziauddin Sardar (1980), “Ada kemungkinan bahwa negara-negara bangsa pada suatu hari akan berjuang untuk dapat menguasai informasi, persis seperti mereka berjuang di masa lalu untuk dapat menguasai wilayah dan kemudian menguasai akses-akses ke-dan mengekploitasi–bahan-bahan mentah dan tenaga murah. Sebuah bidang baru terbuka bagi strategi-strategi industrial dan komersial di satu pihak dan strategi-strategi politik serta kemiliteran di lain pihak”. Bahkan Ziauddin Sardar menegaskan kemungkinan informasi menjadi “alat baru” imperialisme. Karena perkembangan informasi yang cenderung menjadi modal yang sangat penting. Selain itu dengan teknologi-teknologi yang berkaitan dengannya dapat menjadikan alat-alat baru neo-Imperialisme yang mengerikan.
Menurut Walter la Feber (2003), abad 21 tidak dimulai dari berakhirnya perang dingin dan kejatuhan Uni Soviet antara tahun 1989-1991. Tetapi pada tahun 1970-an dan awal 1980-an, karena saat itulah kekuatan-kekuatan maha hebat yang membentuk bagian awal abad baru muncul untuk pertamakalinya secara nyata. Teknologi informasi dan komunikasi merupakan bagian dari realitas teknologi sekaligus realitas sosial yang secara ajeg berada dalam sebuah never ending process of becoming dan akan terus menerus mengalami tranformasi hingga keujung waktu.
Di awal tahun 1980-an Ted Turner membangun CNN (Cable News Networking) sebagai kekuatan besar internasional sebagaimana kekuatan bangsa Amerika Serikat. Jaringan ini benar-benar mengudara secara internasional sehingga Ted Turner mengharamkan penggunaan istilah “luar negeri” di dalam siarannya, tak ada luar negeri bagi CNN (Feber, 2003). Edward Said (2002) juga menilai, Times telah menjadi institusi yang sangat kuat dan berfungsi sebagai kekuatan yang nyaris sebanding dengan bangsanya sendiri (AS).
Sambutan boss CNN Ted Turner terkesan arogan pada acara pemberian penghargaan tertinggi Jurnalisme broadcasting tahun 1989. ”Kitalah, para news direktur, orang yang paling berkuasa di dunia, karena kita mempengaruhi publik, kita menemukan definisi news. Kita memilih news yang kita anggap perlu ditonton publik dan kita menyensor sendiri” (Syah, 2002). Begitu juga pidato Murdoch yang arogan “teknologi komunikasi tingkat tinggi telah terbukti menjadi ancaman yang jelas bagi rezim-rezim totaliter dimanapun jua…televisi satelit dapat melampui surat kabar-surat kabar dan televisi yang dikelola negara”. Tak salah jika Carver, tokoh antagonis dalam film James Bond pada tahun 1997, Tomorrow Never Dies, dimata para pengamat didasarkan pada karakter Murdoch dan ambisinya mengendalikan sistem informasi global. “Sekarang informasi menjadi senjata baru” kata Carver, “dan satelit menjadi arteleri yang baru…..Julius Caesar memiliki legioner, Napoleon memiliki pasukan, saya memiliki divisi saya sendiri; televisi, surat kabar, majalah dan malam ini (ketika itu Carver yakin akan dapat mengontrol seluruh pasar Cina)…saya akan mejangkau lebih banyak orang dibandingkan yang dapat di jangkau orang-orang lain, kecuali Tuhan sendiri” (Feber, 2003).
Arogansi tersebut didasari pemahaman dan fakta bahwa stasiun radio atau televisi merupakan media yang sangat efektif untuk mempengaruhi massa dan menjatuhkan pimpinan yang berkuasa. Sebagai contoh tahun 1984 rakyat Filipina menuntut mundur Marcos. Di Afrika Selatan TV sering memberitakan kekerasan kulit putih atas kulit hitam sehingga pemerintahan Apatheid runtuh dan sebagainya. Dari berbagai fakta tersebut, Adian Husaini (2002) menilai bahwa semua sepakat, pers adalah kekuatan (power) yang dasyat yang sanggup menggoyang suatu rezim.
Berbagai peran media yang telah diutarakan para pakar dan praktisinya sendiri antara lain; media atau pers merupakan perpanjangan dari indera kita, dimanapun tempatnya dapat kita lihat dari layar televisi dan kita dengar dari radio begitu juga dapat kita baca dari majalah, koran atau internet. Media juga dikenal sebagai second hand of reality (realitas tangan kedua-realitas yang sudah diseleksi). Begitu juga media memiliki peran agent of control, atau watchdog (anjing penjaga) yang menggonggong setiap ada penyelewengan dari birokrasi atau rezim yang berkuasa. Bahkan sebaliknya sebagai kaki tangan sang penguasa dalam mengokohkan kekuasaannya. Media juga sebagai penerang bagi masyarakat sebagai mana pameo yang ada “there are only two thing which can throw light upon here on earth, two thing, one the sun in heaven and the second is the press on earth”, (hanya ada dua hal yang membuat dunia ini terang, matahari di langit dan pers di bumi).
Dalam semua peran tersebut media dapat berperan positif dan negatif. Berdasarkan kemungkinan yang dapat diperankan itu, media massa merupakan sebuah kekuatan raksasa yang sangat diperhitungkan dalam berbagai analisis tentang kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Media sering ditempatkan sebagai salah satu variabel determinan. Bahkan media terlebih dalam posisinya sebagai institusi informasi, dapat dipandang sebagai faktor yang paling menentukan dalam proses-proses perubahan sosial-budaya dan politik (Sobur, 2002). Bahkan Murray Kempton menggambarkan kerja jurnalisme tidak seperti senapan, tetapi jurnalisme bekerja mirip mortir (River, 1994).
Dampak yang ditimbulkan media sebagaimana dampak komunikasi pada umumnya, yang dapat diklasifikasikan menurut kadarnya: 1) dampak kognitif, yaitu perubahan pada intelektualitas komunikan (bertambahnya pengetahuan). 2) dampak afektif, yaitu lebih tinggi dari dampak kognitif. Tujuan dari komunikator bukan hanya membuat tahu komunikan, tetapi menggerakkan hati atau perasaan; komunikan diharapkan menjadi iba, sedih, gembira, marah dan sebagainya. 3) dampak behavioral, yaitu perubahan tingkah laku pada komunikan. Ada yang merumuskan tahap-tahap pengaruh informasi terhadap perilaku dalam formula AIDDA (A = attention ‘perhatian’, I = interest ’minat’, D = desire ’hasrat’, D = decision ’keputusan’, A = action’aktivitas’) (Husaini, 2002). Kehebatan efek media juga tergantung dari model komunikasi massanya, beberapa teori dalam komunikasi yang dapat menjelaskan pengaruh media massa antara teori peluru (buillet theory), teori pencarian informasi (informtion seeeking theory), teori penyusunan agenda (agenda setting) atau teori “uses and gratification” (Panuju, 1997).
Elisabeth Noelle-Neuman, seorang peneliti media massa, mengemukakan bahwa ada 3 faktor penting dalam media massa yang membuat media massa dapat demikian perkasa, tiga faktor itu adalah; ubiquity, kumulasi pesan dan keseragaman wartawan. Ubiquity yaitu sifatnya serba ada, media massa mampu mendominasi lingkungan informasi dan berada dimana-mana. Karena sifatnya serba ada maka sulit bagi orang untuk menghindari pesan media. Sementara itu, pesan-pesan yang sepotong-potong bergabung menjadi satu kesatuan setelah melewati waktu tertentu, potongan-potongan pesan yang berkali-kali ini dapat diperkokoh media massa. Efek ini kemudian dikuatkan dengan keseragaman pemberitaan para wartawan. Siaran berita cenderung sama sehingga dunia yang disajikan pada khalayak juga dunia yang sama. Akhirnya, publik tidak mempunyai alternatif lain, sehingga mereka membentuk persepsi berdasarkan informasi yang diterima dari media massa.
James Fenimore Cooper menggambarkan tabiat pers dengan ungkapan yang sangat jelas, ”Pers adalah pelayan yang sangat baik, tetapi majikan yang sangat mengerikan”. (River, 1994) Dari sini dapat difahami kesimpulan Akbar S. Ahmed dalam bukunya Post-modernisme, Bahaya dan Harapan Bagi Islam (1994) bahwa saat ini media dikuasai oleh pihak yang jahat, sehingga ia menyebut media sekarang bagaikan “tuan Iblis”. Karena kekuatannya, kemampuannya untuk menenggelamkan realitas, menyederhanakan berbagai isu, dan ini membahayakan dan mempengaruhi berbagai peristiwa. Media bagaikan Iblis dalam zaman ini, ada dimana-mana dan berkuasa; Media juga bisa dengan mudah membuat karikatur tentang citra yang diinginkan, seperti pelukan kekasih iblis, pelukan iblis media bisa penuh bahaya.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Satu tanggapan untuk “Kekuatan Dahsyat Media”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s