Panen Kekerasan

Ibarat bertani, ada proses menanam juga ada proses memanen. Banyaknya berita kekerasan saat ini, seolah-olah dalam masa panen. Mulai kekerasan yang dilakukan mahasiswa dalam berbagai demo kenaikan BBM, kekerasan FPI terhadap AKKBB, Kekerasan di STIP, kekerasan gang nero, tawuran antar warga di Cirebon dan lain sebagainnya. Bila bercermin pada teori sosial, ini menunjukkan kondisi masyarakat yang sakit, dan kondisi ini sering diibaratkan puncak gunung es.

Bila merujuk berbagai kasus kekerasan yang tertangkap kamera media, sebagaimana puncak gunung es, dapat dipastikan bahwa kondisi kekerasan itu sudah parah. Aksi kekerasan yang dilakukan anak-anak yang meniru smackdown telah memakan korban hingga tewas dan kejadiannya sudah merata hampir di seluruh daerah. Kekerasan pelajar dalam berbagai tawuran bukan hanya di kota besar tetapi juga di berbagai daerah, yang menjadikan pelajar selalu mempersenjatai diri dalam setiap aksinya. Kekerasan mahasiswa tidak saja pada aksi demo yang sekarang cenderung anarkis, tetapi juga aksi tawuran antar mahasiswa terus terjadi bahkan mereka mempersiapkan bom molotof. Kekerasan warga di beberapa daerah juga terus berlangsung hingga tertanam rasa dendam yang bisa bergejolak kembali. Kekerasan aparat dalam penertiban pengemis, gelandangan, pengamen, PKL hingga pertokoan dan rumah yang tidak punya ijin mewarnai media. Belum lagi kekerasan aparat terhadap menangani demo mahasiswa maupun kelompok masa yang sering berulang di berbagi daerah. Kekerasan antar umat beragama terjadi hingga perusakan, pembakaran rumah ibadah dan penyerangan kelompok satu ke kelompok yang lain. Bahkan kekerasan antar anggota dewan yang berkelahi di gedung yang seharusnya hanya ada adu argumentasi.

Sebagai bagian dari masyarakat, tentu kondisi ini dirasa sangat memperihatinkan dan mencekam. Bukan hanya untuk saat ini, tetapi justru menakutkan untuk kondisi masa depan, maka dari itu upaya mengurangi kekerasan ini harus segera dilakukan.

Sebelum merumuskan solusi mengurang kekerasan alangkah baiknya meninjau kembali mengapa kekerasan itu tumbuh subur?.

Penyebab Kekerasan

Kekerasan bisa tumbuh karena pelaku ingin menunjukkan jati diri. Kekerasan ini dominan terjadi anak-anak maupun remaja yang ingin mencari jati diri. Kekerasan juga dapat terjadi karena kekecewaan, ketidakadilan dan kondisi yang tertekan. Kekerasan ini dominan pada orang dewasa yang banyak berbenturan dengan berbagai masalah dan menerima ketidakadilan dalam hidup. Dua model kekersan diatas sesungguhnya sudah dipahami oleh banyak pihak namun mengapa kekerasan masih berlanjut?

Bila sedikit jeli maka bisa dikatakan para penegak hukum dan elemen yang lain kurang peka terhadap penyebab kekerasan, hingga ketataran teknis. Misalnya, anak-anak dan remaja lebih cenderung ingin menunjukkan jati diri, namun yang menjadi panduan utama dalam menunjukkan jati diri adalah aksi kekerasan sebagaimana yang disajikan media televisi dan film pada umumnya, tidak menjadi perhatian yang serius. Begitu juga perhatian ke berbagai hal yang menjadikan anak-anak maupun remaja meniru aksi kekerasan. Harus ada aturan yang tegas, apapun dan siapapun yang memberikan anjuran, contoh serta penyebar aksi kekerasan harus ditindak.

Begitu juga, banyak yang menyayangkan para aparat bertindak bila kondisi kekerasan sudah dalam kondisi yang parah. Tentu saja, tindakan seperti ini berarti memberi keleluasaan kepada pelaku kekerasan dalam aksinya sekaligus persebarannya. Ini berati juga akan menambah daftar korban kekerasan yang memilukan. Akhirnya kekerasan yang terjadi tidak akan bisa diselesaikan hingga ke pokok permasalahan. Ini berarti bahwa kekerasan yang lebih besar bisa terjadi kapan saja.

Tak dapat disalahkan bila dalam masyarakat sekarang mulai membutuhkan bodyguard sebagai pelindung dari kekerasan yang bisa kapan saja menimpanya.

Masyarakat Damai

Hampir dipastikan tujuan setiap masyarakat adalah menciptakan masyarakat yang damai, tak terkecuali masyarakat Indonesia. Kehidupan masyarakat yang damai akan menumbuhkan kehidupan yang tentram, aman dan berbagai kreativitas dalam membangun bangsa akan tumbuh pesat, kesejahteraan dan kemakmuran akan terwujud.

Untuk menciptakan masyarakat damai, tentu harus meninjau tiga pilar penompang terbentuknya masyarakat; kualitas induvidu, pengawasan masyarakat dan aturan pemerintah. Induvidu merupakan elemen paling kecil dari bagian masyarakat, sehingga kualitas induvidu memegang peranan penting dalam mengidentifikasi seberapa besar tingkat kerusakan masyarakat. Semakin rendah kualitas induvidu maka semakin besar ancaman kerusakan masyarakat. Maka dari itu untuk meningkatkan kualitas induvidu ini semua harus berupaya memberikan perhatian agar kerusakan induvidu yang satu merusak induvidu yang lain.

Sifat masyarakat yang tidak mempehatikan bahkan membiarkan kerusakan yang terjadi dalam lingkunganya akan berakibat langsung atas menyebarnya kerusakan secara masif. Oleh karena itu, pengawasan masyarakat atas berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungannya dan bagaimana upaya penyelesaiannya menjadi sangat penting untuk menciptakan kondisi yang damai walaupun terbatas hanya sekitar lingungannya. Peran pengawasan masyarakat akan secara otomatis menjaga keluarga dan induvidu-induvidu di dalamnya dari kerusakan.

Pengawasan masyarakat dilakukan oleh semua elemennya, mulai dari induvidu hingga LSM dan media massa. Semakin aktif pengawasan ini maka semakin memperkecil kerusakan yang terjadi di masyarakat termasuk dalam hal ini mengurang aksi kekerasan dalam lingkungan masyarakat.

Akhirnya Pemerintahlah yang memiliki peran lebih besar untuk menciptakan masyarakat yang damai. Dengan kekuasaan untuk menerapkan hukum, tegas dalam pelaksanaanya, berlaku adil dalam setiap kebijakan akan menjadikan masyarakat taat hukum. Bila masyarakat taat hukum maka tidak ada lagi kelompok masyarakat yang main hakim sendiri bila ada bagian masyarakat lain melanggar hukum, karena pemerintah cepat bertindak.

Bila setiap pilar pengokoh masyarakat telah berfungsi optimal maka kekerasan akan berkurang bahkan akan hilang, dan masyarakat damai pun akan terwujud.

Diterbitkan oleh

pinterpol

blog politik, blog media, blog sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s