Teror bom Mega Kuningan memunculkan wacana ideologi. Bila sebelumnya analisa berkutat pada ketidakadilan dan kesenjangan atau kemiskinan, kini beralih ke rana ideologi. Beberapa kali kita dapat mendengar analisa dari berbagai tokoh yang secara terang-terangan menyampaikan wacana ideologi dalam wawancara atau berita TV.
Informasi tersebut ada yang perlu diklarifikasi, apa sebenarnya yang ingin disampaikan mereka kepada masyarakat? Kita berharap ada penjelasan yang seimbang dibalik aksi terror ini, ternyata tidak ada narasumber yang memberikan penjelasan posisi ideologi Islam dalam teror bom. Bila demikian, kalau bukan kita siapa lagi yang menjelaskan ideologi Islam kepada umat?.
Dalam wacana tersebut, terungkap fakta yang sangat jelas bahwa Islam adalah ideologi, bukan sekedar agama. Ideologi Islam jelas diakui keberadaanya, terutama yang mau mengkaji Islam secara kaffah. Baik dalam Nash al Qur’an maupun sejarah perjuangan Nabi saw, terdapat muatan ideologi secara jelas. Sedangkan bagi mereka yang menyakini ideologi lain, pastilah memahami gerakan umat Islam yang tak sekedar ritual sebagai gerakan ideologis.
Pemberian sifat ‘perusak’ atau ‘pendendam’ sangat bertentangan dengan sifat sesungguhnya ideologi Islam sebagi rahmat bagi seluruh alam. Ini karena ideologi Islam di posisikan berseberangan dengan demokrasi, layaknya ideologi otoriter yang selalu negatif dalam persepktif demokrasi. Ini bersumber dari ketidakfahamannya terhadap Islam, sehingga memposisikan Islam lebih buruk daripada demokrasi, padahal justru sebaliknya. Lanjut membaca