Ormas Islam Yes, Politik No ?

Mendengar keputusan dua ormas Islam terbesar di negeri ini yang menetapkan akan menjauh dari politik ini seperti keputusan “kapok cabe”. Bilangnya “kapok” tapi akan diulangi lagi, lagi dan lagi. Mengapa? karena sejarah ormas Islam di Indonesia seperti itu, katanya tidak akan ikut dalam politik praktis, kenyataannya ada saja pimpinannya yang silau oleh gemerlapnya dunia politik. Bila tokoh atau pemimpinnya ikut yang bawah pasti juga ditarik-tarik oleh banyak kepentingan politik. Kalau sudah parah, semua bilang “kapok” masuk politik.

Faktanya ormas tanpa politik akan selalu jadi objek politik. Ini jelas sekali, bila sebuah ormas tidak memutuskan kebijakan dalam politiknya, maka umatnya diberikan kebebasan untuk menentukan pandangan politiknya masing-masing. Ibarat ternak yang dilepaskan dari kandangnya saat kampanye tiba. Maka partai-partai siap menerkam setiap ternak yang bingung lari kesana kemari. Tokoh-tokohnya didekati dengan barter suara dan kepentingan politik sesaat yang akhirnya munculah pergesekan di tingkat bawah. Minimal ada tiga kali waktu ormas dan umat akan dipecah-belah dengan kepentingan politik, saat pilpres, pilgub dan pilbup atau  pilwali. Lanjut membaca