Kampanye hitam (black campaign) dalam masa kampanye memang sulit diberantas. Apalagi hidup di negeri gosip, katanya “semakin digosok semakin sip”. Black campaign memang tidak dibenarkan karena tidak ada dasar acuannya. Lebih dekat fitnah daripada mengungkap kekurangan atau kelemahan dari capres-cawapres tertentu. Sedangkan yang masih dibenarkan adalah kampanye negatif, karena masih ada dasar acuannya.
Berawal dari penyebaran fotocopy-an wawancara tokoh Islam dalam sebuah tabloid, yang menanyakan partai Islam pendukung SBY, apakah tidak tahu bila istri Boediono adalah Katolik?. Bola panas pun semakin membesar bahkan sampai pada tim pusat dan capres-cawapres bersangkutan. Mereka saling tuduh, saling kecam dan meminta mengakui dan minta maaf kepada istri Boediono. Selain upaya hukum juga tetap diajukan kedua bela pihak, sebagai bukti ‘keseriusan’ kasus ini. Sesungguhnya politisi memahami betul kasus apapun, bila tidak menguntungkan pihaknya akan dilemparkan ke musuhnya.
Ada beberapa isu yang perlu dijelaskan karena masing-masing saling tuduh dan bersikukuh tidak bersalah. Bahkan lebih jauh lagi ada upaya yang terangkat dengan sendirinya yaitu isu agama dalam politik. Pukulan terhadap umat Islam pun terjadi tanpa pembelaan apalagi balasan. Sedangkan isu Neolib sebagai musuh bersama rakyat Indonesia tertutup dengan isu tersebut, sekaligus menenggelamkan politik umat Islam semakin dalam. Lanjut membaca
Monthly Archives for Juni 2009
Mencari Pengganti Neoliberalisme
Neolib kalah dalam opini publik, pengusungnya pun berganti memakai istilah baru; ekonomi jalan tengah. Ini dapat difahami, sejak awal munculnya penolakan terhadap Neolib, mereka mencoba menjawab dengan berbagai jurus hingga menemukan istilah ekonomi jalan tengah.
Dalam dunia ini ada yang pokok dan ada yang turunan, kapitalisme adalah pokok dan lainnya adalah turunannya, termasuk ekonomi jalan tegah. Apapun istilahnya, jika kenyataannya menunjukkan hal yang sama, maka kesimpulannya sama saja. Tidak perlu percaya dengan apologi sederhana apalagi saat kampanye.
Kini, pertanyaanya sistem apa yang paling layak mengganti Neolib? Lanjut membaca
Mengintervensi Demokrasi
Membaranya Iran membuat banyak mata seolah kembali pada era 80-an, sebuah kondisi yang mencekam. Bila dulu runtuhnya rezim yang didukung Amerika, sekarang oposisi pro Amerika berusaha merebut kekuasaan, namun kalah secara demokratis.
Rakyat pendukung oposisi Housain Mousovi tidak terima atas kekalahannya dalam pilpres baru ini, memicu terjadinya kerusuhan. Pendukung oposisi yang demokratis justru tidak mampu menunjukkan sportifitas dalam persaingan. Kerusuhan telah menewaskan lebih dari 10 demonstran dan melukai puluhan yang lain. Amerika dan negara-negara Eropa merasa perlu ikut campur dengan kecaman-kecaman. Sebuah tanda Amerika juga tidak bisa menerima bila Ahmadinejad memimpin Iran kembali dan menjadi contoh negara yang tidak tunduk padanya. Lanjut membaca
Demokrasi Survey ala Kapitalis
Pro-kontra hasil survey untuk pasangan Capres-Cawapres yang dipublikasikan lembaga survey menjadi perdebatan, khususnya tim sukses masing-masing pasangan. Jauh lebih penting justru pendidikan politik rakyat harus diselamatkan dari berbagai macam tipu muslihat elit politik yang hanya menghendaki suara rakyat.
Berbagai sumber memberikan dasar bahwa survey merupakan salah satu metode ilmiah untuk mengetahui sesuatu yang terjadi dalam masyarakat. Baik dalam masalah ekonomi pasar atau pendapat publik tentang sesuatu, termasuk tingkat penerimaan masyarakat terhadap pasangan Capres-Cawapres saat ini. Namun perbedaan hasil antar lembaga Survey yang terlalu jauh, membuat banyak pertanyaan terhadap survey yang dikatakan ilmiah. Berbeda dengan survey perhitungan hasil pemilu yang bisa dibandingkan kevalidannya dengan perhitungan manualnya. Survey saat masa kampanye tidak ada perbandingan dengan hasil perhitungan manual, sehingga banyak alasan untuk menjawab berbagai tuduhan bila hasilnya terlalu melebihi yang sesungguhnya. Lanjut membaca
Syariah adalah Kewajiban
Sebuah kesimpulan yang salah, jika dinyatakan bahwa kekalahan partai Islam menunjukkan syariah tidak laku. Karena bagi umat islam, syariah bukanlah pilihan, tetapi sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan. Karena itu, syariah Islam bukan ditawarkan, tetapi diwajibkan.
Sejak awal syariah diturunkan bukan untuk ditawarkan kepada manusia, namun diwajibkan atas seluruh manusia. Saat itu memang sebagian masyarakat Mekkah yang menerima sedangkan kebanyakan menolaknya, namun pada saat itu tidak dikatakan bahwa Islam tidak laku tapi belum diimani banyak orang. Ini persis sama dengan kondisi sekarang; memang banyak yang sudah Islam namun sebagian besar masih sekular. Lanjut membaca