Belum Saatnya kah Penguasa Sadar?

tobatIkut Indonesia tenggelam? sebuah catatan ringan dengan keprihatinan yang cukup dalam. Negeri yang secara geografis memiliki posisi strategis dan potensi alam yang kaya raya namun tak mampu menyejahterakan rakyatnya. Perlu menunggu berapa lagi? puluhan tahun atau ratusan tahun agar rakyat ini bisa sejahtera sebagaimana cita-cita Soekarno, “kemerdekaan adalah jembatan emas menuju masyarakat adil, makmur dan sejahtera”.

Bila kita cermati sesungguhnya, apa yang diingini semua bangsa adalah sama seperti cita-cita Soekarno ; masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera. Pertanyaannya sekarang, bagaimana dan dengan apa kita akan mencapainya? perlu diingat, bangsa ini pernah kepincut sosialisme, lama menerapkan kapitalisme dan kini liberalisme. Apakah Indonesia sudah mencapai masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera? Continue reading ‘Belum Saatnya kah Penguasa Sadar?’

Ikut Indonesia Tenggelam?

kapal tenggelamDuh, ngeri melihat kondisi Indonesia yang kian hari makin hancur. Tahun 1998 gerakan reformasi ingin menyelamatkan negeri ini dari krisis multidimensi, justru kini terasa makin hancur. Rakyat miskin makin terlantar, rakyat cuek urusan pemerintah/politik, kriminal & korupsi tak terkendali, beginilah bila Indonesia terasa tanpa pemerintah?

Banyak permasalahan yang tak pernah selesai, hilang ditindih masalah-masalah baru, dan masalah-masalah baru tak tertangani karena terlalu banyak jumlahnya. Parahnya lagi para penegak hukum di negeri ini bermasalah! Bagaimana bisa mengharapkan penyelesaian dan keadilan jika kondisi seperti ini? Continue reading ‘Ikut Indonesia Tenggelam?’

Ormas Islam Yes, Politik No ?

Mendengar keputusan dua ormas Islam terbesar di negeri ini yang menetapkan akan menjauh dari politik ini seperti keputusan “kapok cabe”. Bilangnya “kapok” tapi akan diulangi lagi, lagi dan lagi. Mengapa? karena sejarah ormas Islam di Indonesia seperti itu, katanya tidak akan ikut dalam politik praktis, kenyataannya ada saja pimpinannya yang silau oleh gemerlapnya dunia politik. Bila tokoh atau pemimpinnya ikut yang bawah pasti juga ditarik-tarik oleh banyak kepentingan politik. Kalau sudah parah, semua bilang “kapok” masuk politik.

Faktanya ormas tanpa politik akan selalu jadi objek politik. Ini jelas sekali, bila sebuah ormas tidak memutuskan kebijakan dalam politiknya, maka umatnya diberikan kebebasan untuk menentukan pandangan politiknya masing-masing. Ibarat ternak yang dilepaskan dari kandangnya saat kampanye tiba. Maka partai-partai siap menerkam setiap ternak yang bingung lari kesana kemari. Tokoh-tokohnya didekati dengan barter suara dan kepentingan politik sesaat yang akhirnya munculah pergesekan di tingkat bawah. Minimal ada tiga kali waktu ormas dan umat akan dipecah-belah dengan kepentingan politik, saat pilpres, pilgub dan pilbup atau  pilwali. Continue reading ‘Ormas Islam Yes, Politik No ?’

Tunggulah Kehancurannya!

“Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggu saat kehancurannya” (HR. Bukhari).

Geger artis porno/cabul dan pezina mencalonkan diri jadi pemimpin membuat kita teringat pada beberapa hadist Rosulullah saw yang menjadi panutan kita. Pertama sabda Rosulullah saw: “Tunggu saat kehancuranannya, apabila amanat itu disia-siakan!” Para sahabat serentak bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud menyia-nyiakan amanah itu?” Nabi SAW menjawab: “Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggu saat kehancurannya” (HR. Bukhari).

Jelas artis-artis seronok ini tidak punya kapabilitas untuk mengatur urusan umat yang merupakan hal utama dalam politik. Seorang pemimpin politik haruslah mengerti apa yang menjadi masalah masyarakat dan paham solusinya. Bukan hanya itu, dalam Islam, solusi yang diberikan, bukanlah sembarang solusi, tapi haruslah berdasarkan kepada syariah Islam. Continue reading ‘Tunggulah Kehancurannya!’

Senang Menyambut Obama Sang Penjajah?

Rencana kunjungan Obama ke Indonesia membuat suasana menjadi seperti pemilu AS, dimana-mana ada upaya menggalang dukungan bagi Obama yang dilakukan orang Indonesia. Alasan utamanya, karena Obama pernah tinggal di Indonesia dan mencatat rekor sebagai orang kulit hitam pertama yang memimpin Amerika. satu lagi yang sering disampaikan pecinta Obama tidak lain Obama akan memperbaiki citra Amerika yang dirusak Bush, termasuk terhadap dunia Islam.

Suasana suka ria menjadi “panas” seiring menculnya berbagai elemen masyarakat, terutama umat Islam menolak kedatangan Obama. Alasannya; Amerika masih menjajah secara militer di sejumlah negeri muslim seperti Irak, Afghanistan dan di perbatasan Pakistan-Afghanistan itu, berarti AS telah secara sengaja memusuhi umat Islam. Serangan terhadap satu negeri Islam hakikatnya adalah serangan terhadap seluruh umat Islam. Continue reading ‘Senang Menyambut Obama Sang Penjajah?’

Century dan Praktik Kotor Demokrasi

Ada dua hal yang sangat dibanggakan oleh pejuang-pejuang Demokrasi dari sistem ini, kebenaran dan suara rakyat. Sistem demokrasi dianggap paling bisa mendekati kebenaran, karena bersumber pada kedaulatan suara rakyat. Suara rakyat dianggap suara Tuhan. Sistem ini juga dianggap paling aspiratif karena selalu mendasarkan kepada suara rakyat. Namun dalam kasus Century, justru dua hal ini dilanggar. Kasus Century dengan secara gamblang menunjukkan kepada kita hakikat buruk system demokrasi dan praktik-praktik kotornya.

Kebenaran berdasarkan fakta yang seharusnya dicari oleh siapapun dan menjadi dasar pertimbangan utama diabaikan begitu saja. Meskipun berbagai bukti dan argumentasi sudah terungkap dalam rapat-rapat Pansus yang melelahkan, tetap saja yang paling menentukan adalah tawar menawar politik. Politik dagang sapi sangat kentara dalam kasus ini. Berbagai cara pun dilakukan untuk memperkuat posisi tawar menawar. Mulai dari bujukan kekuasaan sampai ancaman. Continue reading ‘Century dan Praktik Kotor Demokrasi’

Demo Vs Resistensi Pemerintah

Bila kita amati demo di negeri ini, cukuplah menarik untuk disikapi. Setiap hari pasti ada demo, terutama di Jakarta sebagai pusat pemerintahan. Suatu ketika hanya ada satu agenda demo, presenter salah satu TV nasional heran, “kok hanya ada satu, kan biasanya cukup banyak element masyarakat bergantian demo”. Belum lagi di daerah-daerah yang terus memenuhi headline media lokal dan tak jarang terangkat menjadi headline media nasional karena urgensi permasalahannya.

Demo menjadi kesukaan media untuk diliput, mengapa? Karena bagi media, adanya demo pastilah ada permasalahan. Bila demikian, pastilah banyak sekali permasalahan bangsa ini yang membuat rakyatnya terus secara bergantian melakukan demo agar permasalahnya didengarkan pemerintah dan cepat terselesaikan. Pertanyaanya, apakah didengar dan terselesaikan? Continue reading ‘Demo Vs Resistensi Pemerintah’